GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
SIAGA PENUH: Personel TNI dan BPBD Kota Jogja bekerjasama memotong dahan pohon beringin yang patah di Alun-alun Utara Minggu (8/11). Masyarakat seluruh DIJ diimbau untuk mewaspadai angin kencang yang kerap menyertai hujan.
SLEMAN- Petir menjadi momok sebagian masyarakat Sleman, terutama di kawasan dominan areal persawahan. Seperti di wilayah Tempel, Turi, dan Sleman bagian utara. Petir disertai suara guntur selalu mengiringi hujan deras setiap menjelang sore.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Julisetiono Dwi Wasito mengingatkan pentingnya sikap waspada saat petir melanda. Warga diimbau tidak berlindung di bawah bangunan atau pohon tinggi. Sebab, bangunan tinggi bisa menjadi induktor listrik yang ditimbulkan petir.
Petani yang sedang berada di sawah diimbau segera berlindung di tempat teduh. “Memang selama ini belum pernah ada korban jiwa akibat tersambar petir. Tapi ini bisa jadi ancaman jika tak diantisipasi,” tuturnya kemarin (10/11).
Petir pernah menyebabkan sebuah rumah warga Dusun Bendosari, Harjobinangun, Pakem ambrol pada awal 2015. Di dusun lain, dua ekor sapi dilaporkan mati setelah tersambar petir.
Demi mencegah dampak negatif petir, warga diminta berhenti beraktivitas lapangan selama hujan berlangsung. “Menghindari petir jelas tidak mungkin karena itu gejala alam. Lebih baik tinggal di dalam rumah sampai reda,” tutur Julisetiono.
Pohon tinggi dan tua harus menjadi prioritas untuk segera ditebang. Batang pohon bisa tumbang bukan hanya oleh sambaran petir. Angin kencang yang menyertai hujan tak jarang merobohkan pohon-pohon dan menimpa benda lain di bawahnya.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Tony Agus Wijaya menjelaskan, November merupakan musim pancaroba. Saat peralihan kemarau ke penghujan selalu ditandai dengan cuaca ekstrim. Masa pancaroba biasanya berlangsung sebulan.
Tony mengatakan, petir berpotensi terjadi jika terdapat awan Cumulunimbus yang berwarna hitam pekat. Berdasarkan data BMKG, 80 persen kasus petir terjadi selama pancaroba. “Kalau pas di tengah sawah usahakan tubuh kita bukan menjadi objek tertinggi. Ini rawan ancaman sambaran petir,” ungkapnya.
Di dalam rumah pun belum tentu aman selama seseorang menyalakan perangkat elektronik selama ada petir. Terutama televisi atau radio komunikasi, yang merupakan sarana elektronik dengan antena pemancar. Gelombang elektromagnetik petir bisa merambat melalui pemancar, sehingga membahayakan penggunanya. Bahkan, saat televisi menyala bisa meledak.”Kalau menerima telepon jangan di lahan terbuka. Itu juga berbahaya karena elektromagnetik petir,” imbaunya.
Terkait pohon rawan tumbang, Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan, Badan Lingkungan Hidup Sleman Indra Darmawan mengatakan telah bergerak cepat memangkas batang pohon atau menebangnya. Sedikitnya 50 batang pohon perindang ditebang. Sebagian besar pohon berusia 5-10 tahun.
Menurut Indra, batang pohon yang mudah patah dan roboh di antaranya, angsana, beringin, randu, dan sengon. “Total ada 22 ribu pohon. Prioritas ditebang yang sudah kering dan keropos,” ujarnya.
Indra mendeteksi masih banyak pohon kering yang rawan tumbang tersebar di wilayah Sleman. Terutama di tanah pekarangan penduduk. Di antaranya, di Cangkringan, Ngemplak, dan sebagian pohon perindang di jalan-jalan protokol wilayah Sleman.(yog/din/ong)