SLEMAN- Jaminan Perlindungan Sosial tidak hanya ditujukan bagi pegawai di sektor formal. Kalangan nonformal pun kini berhak memperoleh jaminan kecelakaan kerja dan kematian dari Badan Perlindungan Jaminan Sosial (BPJS).
Petani menjadi objek paling vital yang harus memiliki jaminan dengan premi sangat miring. Yakni, Rp 16.800 per bulan. Rinciannya, Rp 10 ribu untuk jaminan kecelakaan kerja dan sisanya jaminan kematian.
“Ini yang seharusnya jadi pemikiran pemerintah untuk mendongkrak produksi hasil pertanian dan minat petani,” ujar Ketua Jenderal Soedirman Center (JSC) Bugiakso usai memberikan jaminan sosial bagi sekitar 200 petani kemarin (10/11). Menggandeng BPJS dan PT Bank BNI 46 Persero Tbk, JSC berencana memberikan jaminan bagi seribu petani secara bertahap.
Bugiakso menegaskan, petani merupakan penopang ketahanan pangan dengan risiko pekerjaan cukup tinggi. Dia mencontohkan, ada petani meninggal karena tersambar petir atau digigit ular. Nah, jaminan BPJS mendorong kehidupan petani lebih sejahtera. Dengan begitu, tidak tercipta orang miskin baru lantaran petani sakit akibat kecelakaan kerja harus merogoh tabungan untuk biaya perawatan rumah sakit.
Kepala Kanwil BPJS Ketenagakerjaan DIJ Mochammad Triyono mengungkapkan, saat ini ada sekitar 7.500 peserta jaminan sosial dari sektor nonformal. Dari jumlah itu, hanya sekitar 25ersen petani yang memiliki jaminan kecelakaan kerja dan kematian.”Ini mendesak lantaran penghasilan petani tidak rutin,” katanya.
Adanya proteksi jaminan sosial, Triyono berharap, kecelakaan kerja tak lagi menjadi momok bagi petani. Triyono mengatakan, dengan premi Rp 16.800, petani berhak jaminan proteksi Rp 24 juta dan Rp 75 juta jika meninggal dunia, diberikan kepada ahli waris. “Saya kira petani mampu membayar premi sekecil itu,” katanya.
Untuk mempermudah pembayaran premi, BPJS membuka banyak layanan. Premi bisa dibayarkan melalui kelompok-kelompok tani, paguyuban, atau lewat kantor JSC. Bahkan, premi bisa disetor lewat loket-loket pembayaran rekening listrik atau air.
Hanya saja, Triyono mengakui bahwa jaminan sosial sektor non formal berupa insurance murni yang sifatnya gotong royong antar peserta. Berbeda dengan jaminan tenaga formal, yang lengkap dengan jaminan hari tua dan pensiun.(yog/din/ong)