MUNGKID – Memasuki musim penghujan, tanah di Desa Margoyoso, Salaman mengalami retak-retak. Setidaknya 50 rumah kepala keluarga (KK) di desa terancam bencana tanah longsor. Sebagian besar bangunan rumah berdiri di wilayah rekahan tanah yang tersebar di beberapa titik pelosok desa.
Salah satu rumah yang dilalui rekahan tanah milik Tejo Sukmono, warga Dusun Tubansari, Margoyoso. Pria berusia 40 tahun ini mengaku, rekahan tanahmuncul di depan rumahnya saat musim kemarau. Memasuki musim penghujan, rekahan tanah semakin lebar.
“Sebelum hujan, sudah retak. Tapi musim hujan seperti ini lebar rekahan tanah bertambah menjadi 5 sentimeter dan panjang rekahan sekitar 50 meter,” ungkap Tejo kemarin (10/11).
Rekahan tanah memasuki bangunan dapur rumah. Dinding-dindingnya juga retak. Meski begitu, dapur rumah yang berdiri di atas undak-undakan tidak dikosongkan. Ia tetap tinggal di rumah dan berupaya menutup rekahandengan tanah.
“Saya bersama keluarga tetap di rumah dan beraktivitas seperti biasa didapur,” jelasnya.
Selain mengancam rumah Tejo, rekahan tanah juga mengancam lima rumah di bawahnya. Bahkan rekahan tanah juga menjalar ke bangunan sekolah dasar di dusun tersebut. Meski rekahan tanah memasuki area sekolah, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.
Kepala Desa Margoyoso M. Rofiq Santoso menjelaskan, desanya terdiri dari enam dusun. Sebagian besar, dusun-dusun ini berpotensi terjadi bencana tanah longsor. Khusus tanah retak total ada sekitar 10 titik yang tersebar di enam dusun.
“Seperti di Dusun Tobong, Tubansari, Kalisari ada 10 titik. Keretakan tanah dengan lebar dan panjangnya bervariasi. Setidaknya ada 50 rumah warga yang tingkat kerawanan tanah longsor tinggi,” jelasnya.
Selain mengancam rumah penduduk, rekahan tanah menyasar dua bangunan sekolah. Pemerintah desa membentuk organisasi pengurangan resiko bencana Forum Tanggap Ing Sasmito untuk antisipasi peristiwa alam yang tidak diinginkan. Relawan bencana ini terdiri dari berbagai elemen Desa Margoyoso.
“Adanya organisasi pengurangan resiko bencana ini penting. Karena sebagian besar wilayah desa berpotensi terjadi tanah longsor. Seperti di Dusun Kalisari, rumahnya berdiri di pereng-pereng dan rawan longsor,” jelasnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Sujadi mengatakan, penyebab tanah retak di desa tersebut merupakan perubahan tata tanah. Area rumah yang sebelumnya undak-undakan, diurug tanah dan tidak dibarengi konstruksi yang tidak memadai. “Ini menjadi pemicu tanah retak,” katanya saat meninjau lokasi.
Selain Kecamatan Salaman, ada wilayah lain yang termasuk daerah rawan tanah longsor. Seperti Kecamatan Borobudur, Bandongan, Kajoran, Windusari, Grabag, Sawangan, Kaliangkrik, Pakis, dan Ngablak. Khusus Kecamatan Sawangan, potensi bencana tanah longsornya cukup tinggi. Karena bencana tanah longsor bisa terjadi pada musim kemarau.
“Warga yang rumahnya dilalui rekahan, jika malam untuk berhati-hati. Kami imbau tidak beraktivitas di wilayah tanah yang retak. Ini berbahaya, karena retakan tanahnya cukup panjang,” pintanya.
BPBD berencana mengundang ahli geologi dari Pusat Vulkanologi Mitigasi, Bencana, dan Geologi (PVMBG) hadir di Margoyoso untuk mengkaji kondisi tanah retak. Ia berharap, para ahli memunculkan rekomendasi terkait kondisi tanah retak.
“Rencananya, minggu ini ahli tentang tanah didatangkan untuk meneliti,” katanya.(ady/hes/ong)