HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
FENOMENA TAHUNAN: Tambak udang di Pedukuhan Nglawang, Jangkaran, Temon, Kulonprogo terendam banjir. Foto kanan, Warga berhasil membuka pintu muara sungai Bogowonto secara manual, kemarin (11/11).
KULONPROGO – Puluhan bahkan ratusan hektare tambak udang di Desa Jangkaran, Temon, Kulonprogo dan sekitarnya terancam gagal panen akibat banjir. Beruntung banjir dengan cepat surut setelah pintu muara Sungai Bogowonto berhasil dibuka, kemarin (11/11).
Pantauan Radar Jogja, muara atau yang lebih dikenal warga dengan istilah Suwangan Bogowonto itu dibuka dengan cara manual. Mulai pukul 07.00 warga bergotong royong membuka muara dengan cangkul. Mereka juga dibantu anggota TNI dan Polisi. Pintu muara baru berhasil dibuka sekitar tiga jam.
Limpasan banjir muara Sungai Bogowonto di Desa Jangkaran melanda tambak udang di beberapa pedukuhan, di antaranya di Pasir Kadilangu, Pasir Mendit, dan pedukuhan Nglawang. Banjir juga mengancam tambak udang di Desa Jatimalang, Jatikontal, Gedangan, Karanganyar , dan Jogoboyo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo.
“Membuka muara seperti ini dilakukan tiap tahun, persisnya saat ratusan tambak udang di enam desa yang berada di bantaran Sungai Bogowonto ini terancam. Kita beradu cepat, kalau terlambat tambak jebol kerugian bisa mencapai miliaran rupiah,” ucap Jupri, 65, warga Pasir Kadilangu, Desa Jangkaran disela proses pembukaan pintu muara Bogowonto.
Jupri menuturkan, pintu muara tertutup pasir saat musim kemarau melalui proses alami. Yakni pasir terbawa angin kemudian membentuk gunungan pasir tepat di pintu muara sungai. Selama musim kemarau kondisi itu tidak berbahaya, namun saat banjir dan tidak dibuka akan menuai bencana.
“Membuka pintu muara juga harus menunggu tepat waktunya. Yakni saat musim hujan datang seperti saat ini, kalau kemarau debit air sedikit percuma membuka pintu muara, karena pasti akan tertutup lagi,” tuturnya.
Jupri menambahkan, dua petak tambak udang miliknya sempat terendam banjir. Beruntung tambaknya sudah dilengkapi plastik molsa dan jaring pengaman di setiap tanggul-tanggulnya. Antisipasi serupa juga dilakukan tujuh rekan Jupri yang sama-sama tergabung dalam Kelompk Windu Makmur Pasir Kadilangu.
“Saya punya dua petak tambak udang, total tebarannya 250 ribu ekor udang, usianya sudah satu setengah bulan dan siap panen, kondisinya masih aman,” ungkapnya.
Diungkapkan, posisi tambak miliknya berada di barat Sungai Bogowonto, di mana di sisi selatannya terdapat semacam sudetan sungai yang tersambung sampai Pantai Keburuan, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo. “Biasanya saat muara belum terbuka, limpasan Sungai Bogowonto masuk ke sungai itu dan mengarah ke tambak kami,” ucapnya.
Petambak lain Purwaji, 35, warga pedukuhan Nglawang, Jangkaran, mengungkapkan, banjir yang tak segera ditangani dapat memicu penyakit yang bisa menghambat pertumbuhan udang. Sehingga pascabanjir, tambak udang biasanya akan diganti airnya. Dijelaskan, di Pedukuhan Nglawang sedikitnya ada 28 petak tambak udang milik warga.
“Selain memunculkan wabah penyakit, banjir juga sering membawa hewan liar termasuk ikan predator yang akan mengancaman populasi udang. Terlebih jika udang masih kecil-kecil dan masih jauh dari masa panen,” ungkapnya.
Purwaji sedianya sudah merasakan tanda-tanda kedatangan banjir sejak dua hari terakhir, terlebih hujan sudah turun lebat di daerah hulu (Purworejo, Magelang, dan Wonosobo). Sementara puncaknya tadi malam, tambak seluas 1.000 meter persegi miliknya dengan tebaran 88 ribu udang berumur 37 hari terendam banjir.
“Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa melawan alam. Kalau rencana saya akan panen parsial, yakni ketika udang sudah berumur 50 hari akan saya kurangi, semoga hasilnya masih sesuai harapan,” ujarnya.
Purwaji berharap, pemerintah daerah dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) bisa menyediakan alat berat untuk membantu pengerukan setiap pergantian musim. Karena penutupan pintu muara itu terjadi rutin setiap tahun, sehingga pemerintah sewajarnya ikut memperhatikan fenomena alam tersebut.
“Benar kami bisa membuka muara melalui kerja bakti dengan alat manual. Namun alangkah lebih bijaksananya jika pemerintah menyiapkan alat berat, jika sewaktu-waktu banjir sudah mulai terlihat datang, muara langsung dibuka,” harapnya.
Kepala Desa Jangkaran Murtakil Humam menyatakan, warga sudah terbiasa bergotong royong melakukan pengerukan muara secara manual. Pengerukan diawali dari muara sungai menuju ke bibir Pantai Congot.
“Namun kami tetap berharap setiap ada kejadian seperti ini ada bantuan dari pemerintah kabupaten dengan mendatangkan alat berat,” katanya.
Petugas Pos Sea Rider TNI Angkatan Laut Kopka Rochimanto mengatakan, upaya untuk meminta bantuan ke BBWSO telah dilakukan. Namun, untuk tahun ini anggaran untuk pengerukan tidak ada. Makanya, seluruh lapisan masyarakat bergotong royong mengeruk secara manual.
“Kami sudah berkoordinasi dengan BBWSO, tapi katanya tahun 2015 ini tidak ada anggaran pengerukan. Makanya, kami lakukan pengerukan manual untuk meminimalisasi dampak banjir,” tandasnya.

Kirim Pakan Udang, Umboro Hilang Tenggelam

Sementara itu, Umboro, 33, warga Pasir Kadilangu, Jangkaran, Temon, Kulonprogo tenggelam terseret aliran Sungai Bogowonto ketika hendak mengirim pakan udang. Umboro menyeberagi sungai menggunakan gethek, kemarin (11/11).
Jasad korban hingga kini belum berhasil ditemukan. Petugas SAR dibantu warga masih melakukan penyisiran di sepanjang Pantai Congot dan Pasir Mendhit dan Kadilangu.
Koordinator SAR V Pantai Glagah Syamsudin mengungkapkan, korban hendak membawa pakan udang dengan gethek yang terbuat dari rakitan bambu. Karena banjir, aliran cukup deras dan korban terpeleset hingga tengelam.
“Korban diketahui memang tidak bisa berenang,” jelas Syamsudin.
Syamsudin menegaskan, setelah kejadian warga langsung melakukan penyisiran di sekitar muara Sungai Bogowonto. Namun karena muara sungai sudah terlanjur dibuka, aliran air ke laut cukup deras.
“Ada yang sempat melihat jasad korban masuk ke laut, kita masih melakukan penyisiran di sekitar Congot,” tegasnya.
Musibah tenggelamnya warga ini langsung direspons cepat Basarnas Jogjakarta. Mereka langsung menerjunkan tim ke lokasi kejadian. Mereka juga membawa beberapa peralatan pendukung untuk melakukan pencarian.
“Kita sudah kirim tim ke lokasi dengan peralatan lengkap,””jelas Rahmawati, salah satu anggota tim Basarnas Jogjakarta.
Upaya pencarian hingga saat ini terus dilakukan. Tim SAR menyisir ke arah timur menuju Pantai Glagah dan ke barat menuju Pasir Jatikontal, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Namun sampai berita ini diturunkan, pencarian belum membuahkan hasil. (tom/ila/ong)