GUNTUR AGA/Radar Jogja



JOGJA – Mendapat pengakuan dari UNESCO atas warisan budaya, tidaklah sukar. Namun tantangan dari predikat ini adalah wujud menjaga, melestarikan dan mengenalkan kepada masyarakat. Apalagi, berkembangnya dinamika masyarakat tentang kebudayaan yang masuk ke Indonesia.
Dalam rangka meningkatkan apresiasi masyarakat dan melestarikan warisan budaya yang telah mendapat pengakuan UNESCO, Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ melaksanakan kegiatan Gelar Warisan Budaya Tak Benda (Intangible).
Dalam penyelenggaraan kegiatan ini difokuskan pada objek Warisan Budaya Tak Benda yang terdiri atas wayang, keris, dan batik. Khusus keris, penitia menghadirkan sedikitnya 60 keris yang berasal dari berbagai daerah di tanah air.
Kegiatan yang berlangsung sejak kemarin (11/11) hingga Sabtu (14/11) ini, mengambil tempat di Luxor Garden Pyramide, Jalan Parangtritis KM 5,5 Sewon, Bantul.
“Tidak sekadar event, tapi upaya untuk mengenalkan nilai-nilai. Mengenalkan kekayaan Jogjakarta secara utuh. Terlebih beberapa kebudayaan yang diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda,” kata Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono (11/11).
Ketiga objek warisan budaya tak benda ini adalah wayang, keris dan batik. Untuk wayang dan keris mendapatkan gelar Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity. Perbedaaannya, wayang diperoleh tahun 2003, sedangkan keris di tahun 2005.
Sedangkan untuk batik memperoleh gelar Representatif List of The Intangible Cultural Heritage of Humanity di tahun 2009. Hal ini lanjut Umar, tidak sekadar sebuah penghargaan, namun sebuah cambukan bagi seluruh warga Indonesia, khususnya Jogjakarta.
“Pertama kali wayang sudah diakui dunia, lalu keris dan terakhir batik. Ini sudah mewakili Indonesia di mata dunia, sehingga harus ada usaha untuk mengisi. Kalau kita lihat lebih jauh, Gelaran Warisan Budaya Tak Benda ini menguatkan adanya cakra manggilingan,” ungkapnya.
Pemerhati keris Jogjakarta, Eko Supriyono berharap dengan adanya event ini turut mengenalkan corak keris. Keris sebagai warisan telah menjadi kekayaan sejak zaman nenek moyang. Bagaimana sosok empu pada masa lalu mewarisi ilmu hingga empu saat ini.
Sebanyak 60 keris dipamerkan dalam kegiatan ini. Tidak hanya keris Jogjakarta, juga berasal dari rumpun Sumatera, Jawa Barat, Solo, Jawa Timur, Madura, Bali, Bugis dan Lombok. Ragam corak keris ini dapat menjadi khasanah budaya bagi masyarakat.
“Jika berbicara keris, kadang bayangan kita hanya di tanah Jawa. Padahal Indonesia memiliki keragaman keris yang sangat banyak. Pengunjung juga bisa dekat dengan keris, dengan mengikuti workshop pembuatan warangka dan pendor keris,” jelasnya.
Selain pameran ketiga kekayaan budaya dunia, juga akan hadir pementasan seni. Mulai dari kesenian tradisional hingga ragam kesenian kerakyatan. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini dikemas dengan beragam agenda.
“Ada pertunjukan wayang kulit yang melambangkan tiga warisan budaya tak benda ini. Ada juga lomba tatah dan sungging wayang kulit. Hingga fashion show dengan mengangkat kearifan batik khas Jogjakarta,” kata Kepala Seksi(Kasi)Rekayasa BudayaBidang NilaiBudayaDinas KebudayaanDIJAgus Amarullah. (dwi/jko/ong)