SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
TEROBOSAN BARU : Kajati DIJ Tony T Spontana SH MHum menyiramkan air kendi ke mobil antaran barang bukti Kejari Sleman kemarin (11/11). Kejari Sleman mengembalikannya kepada pemilik secara door to door.
SLEMAN- Kejaksaan Negeri Sleman kembali membuat terobosan baru dalam penuntasan perkara hukum. Tak ingin barang bukti perkara menumpuk di gudang, kejari mengembalikannya kepada pemilik secara door to door. Baik itu barang bukti milik terpidana maupun korban kejahatan. “Langsung kami kirim ke rumah pemiliknya. Gratis tanpa dipungut biaya,” ujar Kajari Sleman Nikolaus Kondomo SH MH usai meluncurkan mobil antaran barang bukti di kantor Kejari Sleman kemarin (11/11).
Barang bukti yang dikembalikan merupakan bagian dari perkara hukum yang terpidananya telah menjalani eksekusi. Itu berupa hukuman badan (penjara) maupun membayar denda. Bahkan sampai terpidana bebas pun masih ada barang bukti yang belum diambil di kantor kejari.
Terlama, ada barang bukti yang ngendon lima tahun di gudang penyimpanan.Padahal, kejari telah berulangkali menyurati pemilik barang bukti agar segera mengambil apa yang menjadi hak mereka. “Mungkin para pemilik sudah antipati dengan jaksa sehingga tak ambil barang bukti. Makanya kami buat terobosan ini,” lanjut jaksa asal Papua itu.
Nikolaus mengatakan, total ada 443 perkara yang barang buktinya tidak diambil pemilik. Dengan program door to door, sedikitnya 105 perkara barang buktinya telah dikembalikan ke rumah pemilik. Nikolaus menjamin transparansi program baru tersebut dengan mencatat setiap pengembalian ke website Kejari Sleman. “Bisa dicek, silahkan,” ujarnya.
Jika alamat pemilik tak bisa ditemukan, Nikolaus sedang mencari formulasi baru untuk mengembalikan barang bukti kepada keluarga pemilik. Namun, hal itu perlu dikonsultasikan lagi ke jajaran yang lebih tinggi.
Kajati DIJ Tony T Spontana SH MHum mengapresiasi terobosan baru kejari Sleman seraya berharap agar program antaran barang bukti door to dor bisa ditiru di kejari lain. “Kami akan cek dulu kesiapan sumber daya kejari lain di DIJ,” katanya.
Tony mengakui, menumpuknya barang bukti perkara timbul akibat paradigma miring masyarakat terhadap institusi kejaksaan selaku eksekutor penegak hukum. Di sisi lain, ada yang menganggap barang bukti tersebut sudah tak bernilai ekonomi. Apalagi jika jarak rumah pemilik barang bukti jauh dari kantor kejari, sehingga dibutuhkan ongkos perjalanan.
Tony menegaskan, sebagai pihak eksekutor, jaksa wajib menyelesaikan perkara sampai tuntas. Tidak sebatas setelah putusan hakim inkrah terhadap terpidana. Pengembalian barang bukti termasuk bagian tugas jaksa eksekutor. Bahkan, jaksa wajib menjaga barang bukti agar tidak rusak atau hilang, meskipun eksekusi barang bukti tidak ada masa kedaluwarsanya.”Paradigma itu yang ingin kami benahi. Ini bukti akuntabilitas kerja jaksa dalam penanganan perkara,” ujarnya.
Tony berharap, program door to door berimplikasi pada pertumbuhan kepercayaan masyarakat kepada korps Adhiyaksa. Ke depan, Tony mengimbau kajari Sleman rutin melakukan monitoring dan evaluasi program. Agar masalah eksekusi barang bukti selalu menunjukkan tren positif. “Eksekusi barang bukti memang selalu jadi problem di daerah. Karena itu harus dituntaskan segera,” ucap Tony.(yog/din/ong)