ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
DIBAWAH IKADIN: Pengambilan sumpah janji 36 advokat di Pengadilan Tinggi (PT) Jogjakarta, kemarin (11/11).

BANTUL – Momentum pengambilan sumpah janji 36 advokat di Pengadilan Tinggi (PT) Jogjakarta kemarin (11/11) terasa sangat istimewa. Sebab, pengambilan sumpah janji para advokat yang bernaung dibawah Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) ini merupakan kali pertama sejak 2008.
“Meskipun hanya satu hari, kami yang pertama,” tutur Ketua DPD Ikadin DIJ Moelyadi SH MH CLA usai pengambilan sumpah janji 36 advokat di PT Jogjakarta.
Ya, pascakisruh organisasi advokat pada 2008 PT tidak berani mengambil sumpah janji. PT baru bersedia mengambil sumpah bila para advokat sudah bernaung dalam satu organisasi.
Terkait pengambilan sumpah janji di PT, advokat senior ini mengapresiasi langkah Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali yang menerbitkan SK Nomor 73/KMA/HK.01/IX/2015.
Dengan penertiban SK tersebut, pengganti Harifin A Tumpa ini dinilai dapat memahami persoalan yang mendera di internal organisasi advokat. Yakni, para advokat tidak dapat bernaung dalam satu wadah organisasi.
Menurut Moelyadi, sebelum keluarnya SK ketua MA, Mahkamah Konstitusi sebenarnya sudah menerbitkan putusan Nomor 101/PUU-VII/2009. Dalam putusan itu, PT wajib mengambil sumpah para advokat tanpa mengaitkan keanggotaan organisasi advokat. Tetapi, pada praktiknya PT tidak berani menjalankan amar putusan tersebut. “Alasannya karena ada kesepakatan antara Peradi dan KAI,” ujarnya.
Senada disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Ikadin Roberto Hutagalung. Dia mengapresiasi langkah yang ditempuh Ketua MA Hatta Ali. Ini karena advokat memang tidak dapat dipaksa bernaung dalam satu organisasi.
Roberto juga berpesan, para advokat yang baru saja diambil sumpah janji mengedepankan nilai-nilai perjuangan. Khususnya, perjuangan membela rakyat kecil yang tertindas. Sebab, contoh perjuangan sudah ditunjukkan oleh advokat generasi pertama pada zaman kemerdekaan. “Profesi advokat mulia. Seorang advokat harus mulia dalam tingkah laku, dan mulia dalam perbuatan,” pesannya. (zam/din/ong)