DWI AGUS/Radar Jogja

JOGJA – Bertepatan dengan Hari Pahlawan, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menggelar Festival Sendratari Antar Kabupaten Kota se-DIJ, Selasa malam (10/11). Festival yang telah berlangsung selama 46 tahun ini, digelar di Concert Hall TBY. Mengangkat tema Gatotkaca sebagai fokus lakon sendratari.
Festival ini diakui Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono telah mendarah daging. Menurutnya, mencapai 46 tahun penyelenggaraan, bukanlah waktu yang singkat. Terlebih event ini selalu melibatkan seniman-seniman kabupaten dan kota se DIJ.
“Dengan jarak waktu ini, ada banyak hal yang bisa dikenali. Dapat menjadi kontribusi positif bagi kesenian Jogjakarta. Sehingga teman-teman SKPD kabupaten dan kota wajib mendampingi, sehingga proses pembinaan berjalan dengan baik,” kata Umar.
Pembinaan juga dapat dilakukan para seniman sepuh. Setidaknya dengan melihat partisipan dalam sendratari yang didominasi anak muda, sehingga dapat meregenerasi seniman tari yang ada di Jogjakarta.
“Tentunya melibatkan semua pihak, khususnya anak muda. Ada transfer ilmu dari para senior ke penerus mereka. Sehingga misi melestarikan kekayaan seni bisa terlaksana. Dua hari ini lakonnya juga sama Gatotkaca, semoga spirit heroik juga kita miliki,” imbuhnya.
Festival ini diselenggarakan selama dua hari, Selasa (10/11) dan Rabu (11/11). Hari pertama menampilkan kontingen Kabupaten Bantul membawakan lakon Tetuko. Selanjutnya Kabupaten Gunungkidul dengan lakon Pandam Anyar Pringgodani, dan Kontingen Kota Jogja dengan lakon Trahing Raseksa.
Ketiga kontingen ini membawakan lakon yang sama. Awal mula kelahiran Gatotkaca dan ditempa di kawah Candra Dimuka. Namun setiap kontingen menampilkan kemasan yang berbeda. Baik dari tarian, kostum hingga jalan cerita.
“Pertumbuhan sendratari di Jogjakarta bertumbuh. Dalam kesempatan ini mengutamakan kreativitas yang bersumber pada gaya klasik Jogjakarta. Karya-karya ini patut diapresiasi. Dari sini juga terlihat bagaimana dinamika perkembangan sendratari,” kata Kepala TBY, Diah Tutuko Suryandaru.
Hari kedua Rabu (11/11), menampilkan kontingen Kabupaten Sleman dan ditutup penampilan Kontingen Kulonprogo. Dalam kesempatan ini, Sleman membawakan lakon Baswara Tetuka. Sedangkan Kulonprogo membawakan lakon Rawe-Rawe Rantas Malang-Malang Putung.
Menurut Diah, Festival Sendratari ini telah menjadi bagian dan situs budaya di Jogjakarta. Bagaimana wujud sendratari setiap kabupaten dan kota di DIJ berkembang. Meski tergolong garapan, beberapa pakem klasik tetap dipertahankan.
“Festival Sendratari diselenggarakan dengan semangat sebuah kompetisi. Dengan berbagai penghargaan di dalamnya. Ini dapat menjadi pemacu para seniman untuk terus berkarya dan melestarikan kesenian ini,” pungkasnya. (dwi/jko)