SLEMAN – Seorang mahasiswa asal Medan, Sumatera Utara, Jobpri Anugerah Sipayung, 19, ditemukan tewas tergantung di tembok kamar kosnya, Rabu (11/11) malam pukul 19.05 WIB. Diduga, korban meninggal karena bunuh diri.Penemuan jasad mahasiswa YKPN angkatan 2014 Jurusan Manajemen itu, meng gegerkan seisi rumah kos lantai dua di Jalan Seturan II, Gang Manggis 208. Saat ditemukan, kor-ban mengenakan baju warna hitam dan celana pendek.
Penemuan jenazah korban pertama kali diketahui oleh salah seorang temannya Yohana, 21. Awalnya ia mengetuk pintu kamar kos korban, namun tak ada balasan.Ia lantas mencoba melongok dari jendela ventilasi di bagian atas pintu kos. Terkejut, ia men-dapati temannya tergantung dengan syal di tembok kamar korban. Panik, ia lantas ber teriak dan menghubungi anak pemilik kos yang tempat tinggalnya ber-sebelahan dengan tempat ke-jadian perkara (TKP). Kamar kos korban berada di lantai dua sebelah barat, atau persis di samping tangga.
Christianto, 28, anak pemilik kos lantas menghubungi anggota kepolisian yang tinggal di tempat tersebut. Dari situ kemudian dilanjutkan ke Polsek Depok Barat yang langsung terjun ke TKP.Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Sepuh Siregar yang me-mimpin olah TKP mengatakan, dari tanda-tanda kuat dugaan korban tewas karena bunuh diri. Itu dilihat dari kondisi mayat korban yang menge luarkan air mani dan feses.”Lidah tergigit, terdapat gum-palan darah di bawah kulit bagian kaki paha ke bawah. Diduga sudah lebih dua hari,” katanya kepada Radar Jogja, setelah olah TKP.
AKP Sepuh menjelaskan, benda yang digunakan untuk bunuh diri yakni tiga untai rafia yang dibentangkan di antara dua paku. Lalu di tengah rafia itu ada syal klub sepakbola terlilit di leher korban. “Ada bekas luka jerat cukup dalam di leher. Leher juga patah, tapi tanda pengani-ayaan nihil,” terangnya.Selain motif bunuh diri, dugaan penyebab lainnya masih di dalami petugas kepolisian. Sebab saat diperiksa barang-barang ber-harga milik korban tidak ada yang hilang. “Ponsel, laptop, dan dompet korban masih ada,” tandasnya.
Selanjutnya, jazad korban dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan visum. Sementara keluarga korban di Medan juga langsung dihubungi. Hingga kemarin, penyebab kematian Jobpri Sepayung, masih jadi misteri. Sebab, korban di kenal tertutup kepada rekan-rekannya di kampus maupun di kosnya. Terlebih, selepas meninggalnya ibu korban sekitar Agustus 2014 lalu. “Perubahan drastis sekitar enam bulan lalu. Itu setelah ibunya meninggal sesudah le-baran. Dia sangat tertutup, dan lebih banyak di kamar,” kata Christianto, anak pemilik kos, kepada Radar Jogja, Rabu (11/11) malam.
Kondisi tersebut, diduga mem-buatnya depresi karena dia lebih dekat dengan ibunya. Sebelum kejadian penemuan mayat korban, kawan-kawannya masih melihat korban beraktivitas dua hari lalu. “Masih keluar kamar, saya lihat dia cuci tangan. Seki-tar dua harian lalu,” kata salah satu penghuni sebelah kamar korban.Selain itu, dugaan korban sengaja melakukan aksi bunuh diri bisa dilihat dari beberapa catatan yang terdapat di dalam laptopnya. Ia menulis setidaknya dua catatan dalam kurun waktu antara tanggal 2-3 November. Berikut di antara catatan remaja yang baru saja berulang tahun belum lama ini.
Berikut tulisan dari korban, “Aku adalah anak dari bapak J Sipayung dan Ibu K Sebayang, aku punya dua saudara satu abang dan satu kakak, jadi aku adalah anak yang paling kecil, kami adalah ke luarga yang sederhana dan bahagia, aku bersyukur berada di ke luarga kecil ini Tuhan, sejak kecil aku sadar aku adalah anak yang paling manja di keluarga ini. Sehingga membuatku sulit untuk mandiri namun aku tidak akan menyalahkan orang tuaku atas hal ini, dalam perjalanan hidup-ku aku bersyukur Tuhan namun satu hal yang harus diketahui aku sadar bahwa karakter itu lebih penting dari kepintaran bagaimana kita menjadi seorang yang bernilai.”
Di bagian lain, Jobpri juga me-nulis “Sekarang dalam umur aku sudah dewasa, namun mungkin setelah kurenungi aku mem punyai kepribadian labil yang mem-buatku sulit beradaptasi dalam hal pertemanan juga memang penting untuk setia dan saling memahami. Sehingga aku sadar dalam pergaulanku aku tidak memiliki sahabat yang benar-benar mengerti akan hal ini. Ternyata menjadi diri sendiri itu begitu sulit ya, untuk orang tuaku maafkan aku yang belum mam-pu membahagiakan kalian, aku tak tahu mengapa tuhan begitu cepat memanggil”.
Korban juga menuliskan surat permohonan maaf. Dalam suratnya tertulis “Sekali lagi maafkan aku ya Tuhan aku tak tahu surga atau nerakaMu ba-gaimana, namun doa-doa yang selalu ku panjatkan semoga sampai kepadaMu, terimalah amal ibadah ini, Selamat jalan teman semoga kau tenang di alam sana.” (riz/jko/nn/ong)