JOGJA – Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) di permukiman padat penduduk mulai mendapatkan perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Ini karena tanah luas di Kota Jogja kian sulit ditemukan. Jika ada, sudah pasti menjadi incaran investor.
Terhadap RTH yang sudah ada pun, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja mulai mengoptimalkan pemanfaatannya. Salah satunya seperti di Gajahwong Education Park, yang menjadi ruang publik.
“RTH publik berbasis permukiman akan diperkuat,” ujar Pelaksana Harian (Plh) Kepala BLH Kota Jogja Aman Yuriadijaya, di sela peringatan hari cinta puspa dan satwa, kemarin (12/11).
Ia menambahkan, pemanfaatan RTH harus dimaksimalkan. RTH tak hanya manjadi ruang publik, ke depan juga harus bisa menjadi paru-paru kota. “Wilayah perkotaan bukan berarti jauh dari keasrian. Jogja harus menjadi penggerak. Makanya, RTH publik tidak sebatas di jalan protocol, akan kami sebar di tiap permukiman,” jelasnya.
RTH Gajahwong Education Park merupakan salah satu RTH publik di Kelurahan Pandeyan yang dipenuhi rimbun. RTH yang berada di bantaran Kali Gajahwong ini akan dijadikan sebagai percontohan pemanfaatan RTH di Kota Jogja.
Sampai akhir tahun ini, dari 35 RTH publik, baru 10 RTH yang sudah mampu menambah keasrian kota. Yakni empat unit di Kecamatan Umbulharjo, dan masing-masing dua unit di Kecamatan Gondokusuman, Mantrijeron, dan Gondomanan.
Sedangkan tahun depan, imbuh Aman, pihaknya merencanakan penguatan RTH publik di 12 lokasi. Bentuk penguatan berupa penyediaan tempat bermain anak dan penghijauan.
“Kami sengaja memperkuat RTH publik di permukiman, karena bukan untuk kepentingan penghijauan atau ekosistem lingkungan saja, sekaligus sebagai interaksi sosial bagi masyarakat,” tandasnya.
Terlebih, di seluruh Kota Jogja ada 35 RTH publik. Semuanya tersebar di tiap perkampungan. Jika 35 RTH tersebut bisa dimanfaatkan sebagai paru-paru kota, keasrian Jogja bakal kembali lagi.
Selain 35 RTH tersebut, pemkot secara bertahap juga akan terus melakukan pengadaan. Targetnya, 45 kelurahanmemiliki ruang terbuka hijau tersebut.
“Pemkot yang membeli lahan milik warga. Kemudian dibangun fasilitas dan diserahkan kembali ke masyarakat sebagai ruang publik,” imbuhnya.
Kepala Bagian Tata Pemerintahan Sekretariat Kota (Setkot) Jogja, Zenni Lingga mengatakan, tahun ini pemkot akan pengadaan tiga RTH publik. Ketiga RTH itu masing-masing dua unit di Kelurahan Giwangan dan satu unit di Kelurahan Semaki. “Silakan masyarakat mengajukan. Kami akan lakukan appraisal harganya,” tuturnya.
Ia mengakui, untuk pengadaan RTH publik ini memang tak mudah. Ini mengingat sulit mendapatkan tanah lapang di Kota Jogja. “Makanya, butuh peran masyarakat untuk mengikhlaskan lahannya menjadi RTH publik,” katanya. (eri/jko/ong)