Suka dengan es teh, ladies? Atau bahkan tak bisa lepas dari es teh usai makan? Jika iya, sepertinya perlu mengurangi minum es teh agar tidak terkena penyakit diabetes melitus (DM). Pasalnya, kalori dalam es teh cukup besar sehingga perlu pengaturan dalam mengonsumsinya.
MENURUT dr Karina Sasti, SpPD, penyakit DM atau biasa dikenal dengan penyakit gula atau kencing manis bisa dise-babkan oleh banyak faktor. Salah satunya pola makan. Kalori yang masuk dalam tubuh, bisa me-macu timbulnya DM. Terlebih jika mengkonsumsi dengan ber-lebih dan tidak diimbangi olah-raga yang cukup.”Misalnya es teh, dalam satu gelas es teh manis mengandung 300 kalori. Kalau sehari minum tiga gelas es teh, berarti seseorang itu sudah mengkonsumsi 900 kalori. Belum termasuk kalori yang diperoleh dari makanan lainnya,” ujarnya dokter spe sialis penyakit dalam Rumah Sakit JIH ini.Dia mengatakan, pola makan yang tidak baik menjadi salah satu faktor penyebab penyakit DM. Ada baiknya mengurangi atau mengonsumsi makan dan minuman berbahan dasar gula putih secukupnya. Dijelaskan, hingga kini DM menjadi salah satu penyakit berbahaya yang disebut silent killer, selain pe-nyakit jantung. Diabetes atau penyakit gula ini merupakan penyakit kelainan metabolik syndrom ditandai dengan hiperglikenia kronik dan ganguan metabolisme dari kar-bohidrat, lemak, dan protein. Bisa dikarenakan defek (suatu keadaan di mana terjadi ke-hilangan struktur normal pemben-tuk bagian tubuh) kerusakan pan-kreas atau defi-siensi sekresi dari hormon insulin.Faktor penyebab lainnya, yakni pola ma-kan yang tidak terkendali se-hingga menyebabkan obesitas atau kegemukan. Karena, sekresi insulin dalam jumlah yang banyak akibat obesitas akan menyebab-kan kadar gula meningkat. Orang gemuk dengan berat badan lebih dari 90 kilogram cennderung lebih besar ke-mungkinannya untuk terkena diabetes. Sembilan dari sepuluh orang gemuk akan terkena dia-betes. “Faktor lain bisa karena faktor genetik, memang ada tipe dia-betes yang diwariskan dari kedua orang tuanya, karena sudah ter-jadi defeksikasi pada pan-kreasnya,” ujarnya dr Karina.Faktor penyebab lainnya antara lain bahan-bahan kimia dan obat-obatan, penyakit, dan infeksi pada pancreas. Serta pola hidup, seper-ti kurang olahraga, tidur tidak cukup, suka ngemil, stres, dan merokok.Karina menambahkan, pe-ngobatan yang dilakukan pada penyakit diabetes bukan me-ngobati namun mengontrol agar terkendali dan stabil sehingga tidak menyebabkan komplikasi. “Penderita diabetes pertama kali akan kita edukasi dulu, agar memperbaiki pola hidup dan pola makan. Lalu kita kasih dosis yang ringan sampai terkontrol gula darah seperti yang di-inginkan. Sambil dievaluasi, minimal dua tahun sekali bagi penderita diabetes. Kalau sudah terkontrol, pelan-pelan nanti bisa lepas obat,” paparnya.Menurutnya, bagi penderita diabetes memang bukan lagi mengurangi konsumsi makan dan minum yang manis-manis, tapi menghentikan. Namun, di pasaran kini banyak beredar pemanis buatan. Sebenarnya, pemanis buatan ini aman saja dikonsumsi penderita diabetes karena sudah melalui uji ke-amanan atau ambang toleransi tubuh. Tapi karena itu sifatnya sintetis, konsumsi seperlunya saja. Jangan terlalu berlebih, apa-lagi untuk penderita DM tipe 1.”Pemanis buatan itu untuk me-nyiasati kalau kepengen makan atau minum yang manis. Tapi jangan terus pakai itu sehari tiga kali untuk bikin minum, itu tidak dianjurkan. Yang penting bisa ngontrol,” ujarnya. (dya/ila/ong)