JOGJA – Masyarakat boleh saja khawatir terhadap jaminan sehat dan kebersihan jajanan sekolah yang semakin ber-kembang di DIJ. Namun, me nurut Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Jogjakarta, kasus keracunan makanan jajanan sekolah di DIJ masih dalam kategori sedikit.Kepala BBPOM Jogjakarta I Gusti Ayu Adi Arya Patni me-ngatakan, ada beberapa kemung-kinan penyebab keracunan jajanan anak. Yaitu bisa berawal dari higie-nitas (kebersihan) proses pem-buatannya atau bisa juga ka-rena masa simpan yang terlalu lama atau proses distribusinya.”Higienitas proses pembuatan bisa tempatnya, bahan, dan pe-ralatan yang digunakan. Sedang-kan untuk saat penyimpanan bisa saat distribusi, sebaiknya disimpan pada suhu dingin lebih awet,” katanya Sabtu (14/11) lalu.
Meski demikian, ia menilai ke-jadian keracunan di Jogjakarta masih relatif sedikit. Menurutnya, keracunan umumnya disebabkan karena makanan produksi rumah tangga. Korbannya yang paling mudah adalah anak sekolah.”Mengenai pengawasan, kita dari tahun 2011 ada program pengawas jajan anak sekolah (Pejas). Pedagang di sekolah, kantin, kita survei, sehingga tahu jajanan yang tidak me-menuhi syarat higienitas dan sanitasinya. Baik yang mengandung mikrobiologi atau bahan berbahaya lain seperti boraks, formalin, dan rodha-mine,” terangnya. Hanya saja, kata Ayu, program tersebut hanya berlaku selama lima tahun. Yaitu dari kurun 2010-2015. Selanjutnya, BBPOM hanya mengawal program ter-sebut dan dilanjutkan oleh Kementerian Kesehatan. “Saat itu, kita melakukan pe-nyuluhan dan sampling 400 jajan anak sekolah. Hasilnya, bebera-pa tahun ini temuan bahan ber-bahaya pada jajanan anak me-nurun penggunaannya. Di Jogja relatif kecil angkanya jika diban-dingkan nasional,” terangnya.
Dari beberapa temuan tersebut yang kerap dijumpai adalah hi-gienitas mikrobiologi. Seperti terkandung dalam es batu. Dari sampling es batu, banyak yang higienitasnya tidak bagus. “Mungkin pembuatannya tidak sesuai standar kualitas air layak minum dan hanya air bersih, padahal itu berbeda. Antara kualitas air layak minum dan air bersih. Ini bisa memunculkan bakteri,” tandasnya.Sementara untuk makanan, biasanya bisa dilihat dari penggu-naan pewarna dan pengawet makanan. Pewarna biasanya digunakan pada jajanan yang warna-warni seperti arum manis. Sehingga orang tua perlu mem-perhatikan jajanan anak. Sedang-kan pengawet seperi formalin biasanya ada di mi basah.Ia berharap, orang tua juga bisa lebih memperhatikan ba-gaimana konsumsi jajanan di rumah. Sedangkan saat di se-kolah, guru dan komunitas sekolah dapat berperan. “Kita berikan penyuluhan guru, mu-rid, pengelola kantin, dan komite sekolah sebagai wakil orang tua mengenai makanan yang aman dan sehat,” ujarnya. Pengelola kantin juga perlu diawasi dan diperhatikan, mu-lai dari tempat mencuci tangan dan kebersihan kantin. “Kita ajari memilih makanan yang sehat dan aman. Kita berikan ilmu dan informasi dalam rang-ka menghindari makanan yang tidak memenuhi syarat,” tandasnya. (riz/ila/ong)