SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
BERHARGA: Inilah sebagian lima talam atau nampan terbuat dari perunggu dan tembaga, serta satu tangkai cermin yang diperkirakanberasal dari abad 10 Masehi zaman Mataram Hindu Kuno.
 
JOGJA- Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIJ, meneliti hasil temuan baru benda cagar budaya berupa lima talam atau nampan terbuat dari perunggu dan tembaga dan satu tangkai cermin. Diduga, benda-benda itu berasal dari abad 10 Masehi zaman Mataram Hindu Kuno.
Dari lima nampan berukuran cukup besar itu, empat di antaranya dalam kondisi relatif utuh. Sedangkan satunya lagi, sudah keropos dan hanya menyisakan bagian bawahnya saja.
Kasie Pelindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB DIJ Wahyu Astuti menjelaskan, berdasar hasil uji laboratorium yang sudah dilakukan menunjukkan ciri-ciri peninggalan masa klasik abad 10 Masehi. “Dari bahan dan motif yang ada berupa ukiran vas dengan bunga berupa sulur-sulur kemungkinan kelima nampan itu berasal dari zaman Mataram Hindu Kuno”,ujar Tuti.
Kelima nampan tersebut ditemukan petani di desa Sabdodadi, Tamantirto, Kasihan, Bantul, beberapa hari lalu, di tengah areal persawahan desa setempat. Tuti mengatakan, temuan benda cagar budaya di wilayah tersebut baru sekali ini terjadi,sehingga pihaknya tidak bisa berandai-andai terkait kemungkinan masih adanya benda-benda sejenis lainnya di tempat tersebut.
Sementara itu, Andriyani menambahkam jika satu di antara lima nampan itu berbahan perunggu sehingga sudah rusak karena tidak tahan lama seperti perunggu. Selain lima nampan atau talam yang pada zamannya digunakan dalam sebuah upacara sacral. BPCB DIJ belum lama ini juga menerima benda diduga cagar budaya lainnya berupa tangkai cermin yang sudah patah.
BPCB DIJ secara tidak sengaja menemukan foto tangkai cermin tersebut di sebuah akun facebook. “Karena diduga benda cagar budaya, kami mengirimkan tim untuk mengambil benda tersebut”, kata Tuti
Tangkai cermin itu ditemukan di Sungai Progo, 11 November 2015. Namun demikian, sampai kini pihaknya belum bisa memastikan tangkai cermin itu sebagai benda cagar budaya. “Kita masih menunggu hasil analisis laboratorium untuk memastikannya”, ungkapnya.
Tuti menambahkan, pihaknya telah memberikan uang senilai Rp. 10 Juta sebagai penghargaan atas kejujuran petani yang menemukan lima nampan kuno itu. Sedangkan penemu tangkai cermin, belum diberikan penghargaan karena masih harus menunggu kepastian sebagai benda cagar budaya.(sky/din/ong)