JOGJA – Meski selama dua pekan, Jogjakarta dan sekitarnya diguyur hujan, ternyata belum memasuki musim penghujan. Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta memastikan, saat ini masih pancaroba, yakni masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan.
“Belum penghujan. Curah hujannya masih 50 milimeter perdasarian,” kata Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta, Joko Budiono, kemarin (15/11).
Joko menjelaskan, musim penghujan ditandai dengan curah hujan. Namun bukan seperti yang sedang terjadi saat ini, di mana curah hujan masih di bawah 50 milimeter per dasarian. “Kalau sudah melebihi 50 milimeter perdasarian, itu berarti sudah musim penghujan. Tapi saat ini belum,” imbuhnya.
Jika melihat dengan curah hujan, lanjut Joko, pada November sampai Desember akan terjadi peningkatan. Kemudian, puncak musim penghujan pada Januari dan Februari. “Musim penghujan kali ini lebih sedikit,” tambahnya.
Terpisah Wakil Wali Kota Jogja, Imam Priyono, meminta masyarakat dan jajaran pemkot untuk waspada. Sebab, musim pancaroba ancaman bencana lebih tinggi. “Ada angin kencang, penyakit, tanah longsor, dan bencana lain,” ujar IP, sapaan akrabnya.
Ia menuturkan, musim pancaroba seperti saat ini perlu disikapi dengan bijak. Masyarakat dan pemerintah harus “gumbregah” sejak saat ini untuk mengantisipasi potensi bencana. “Jangan sampai bencana datang, baru melakukan antisipasi,” tandasnya.
Menurut IP, sejumlah upaya antisipasi yang harus segera dilakukan, seperti pengerukan sungai agar tidak dangkal, membersihkan saluran air, memangkas pohon yang sudah rapuh agar tidak mudah roboh, serta membersihkan lingkungan. “Dalam situasi dan kondisi yang ada seperti saat ini, potensi penyakit DB juga tinggi,” tuturnya.
Perubahan musim kemarau ke penghujan menimbulkan perubahan cuaca cukup ekstrem. Seperti hujan lebat dengan intensitas tinggi hingga angin puting beliung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja juga mengingatkan warga tentang potensi bencana pancaroba. Kecepatan angin bisa mencapai 45 kilometer per jam atau meningkat dibanding kecepatan angin saat normal yaitu 0-20 kilometer per jam.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (Dinkes) Kota Jogja Fita Yulia mengatakan, perubahan cuaca saat musim pancaroba berpotensi meningkatkan risiko penularan beberapa penyakit seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), dan demam berdarah.
“Yang penting dilakukan adalah menjaga kondisi lingkungan agar selalu bersih dan menjalankan pola hidup bersih dan sehat (PHBS),” tandasnya.
Musim pancaraoba juga mengundang perhartian Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. Menurut HB X, selama masa pancaroba ini, berpotensi terjadinya puting beliung. Sehingga patus diwaspadai. “Angin yang berhembus berputar, sehingga dapat menyebabkan pohon tercerabut hingga akarnya,” katanya.
HB X menmbahkan, angin di DIJ berasal dari selatan, sementara di sebelah utara terdapat Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, dan di sebelah barat terdapat pegunungan Menoreh, serta di timur ada Pegunungan Sewu di Gunungkidul. “Itu yang menyebabkan angin di DIJ itu berputar,” tandas HB X saat ditemui di kompleks Kepatihan Jogja, kemarin (16/11).
Untuk itu, Raja Keraton Jogja tersebut mengimbau masyarakat supaya berhati-hati, jika ada hujan, atau angin, jangan berteduh di dekat pohon besar yang sudah tua. “Pemerintah kabupaten maupun kota juga kami minta bisa memotong pohon-pohon di pinggir jalan yang berpotensi roboh. Masyarakat juga diharapkan turut serta dengan memangkas pohon-pohon besar di sekitarnya,” tutur HB X.
Sementara itu, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Heru Suroso mengaku sudah memetakan potensi bencana yang terjadi di DIJ. BPBD DIJ juga mengimbau supaya genangan air dan jalan ambles di Ringroad Selatan, dan Jalan Kusumanegara, Jogja segera diperbaiki.
BPBD tidak mempersiapkan dana khusus dalam mengantisipasi bencana di musim hujan. Pihaknya hanya menyiapkan bantuan logistik. “Sementara dananya akan dikoordinasikan dengan dinas-dinas yang terkait,” jelasnya.
BPBD DIJ juga sudah membentuk tim identifikasi bencana yang akan memantau selama 24 jam melalui pusat pengendali operasional (Pusdalops) di semua BPBD kabupaten dan kota. Sesuai informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIJ, musim pancaroba akan berakhir sampai akhir bulan ini. “Kita sudah koordinasi dengan kabupaten dan kota untuk melakukan pemangkasan pohon yang berpotensi tumbang.” katanya. (eri/pra/ong)