DWI AGUS/Radar Jogja

Seorang Guru, Yang Bisa Jadi Sahabat Kental

Sosok Noor WA tidak bisa dipisahkan dari dunia teater Jogjakarta. Peran pria kelahiran 10 Juli 1951 ini dalam memajukan dunia teater Jogjakarta sangat besar. Bersama Teater Jeprik, ia terus berkarya dengan naskah-naskah tulisannya. Ini lah yang sedang diangkat Komunitas Rondjeng dalam lakon Sendrek atawa Megatruh karya Noor WA.
DWI AGUS, Jogja
SEWINDU kepergian sosok Noor WA, tepatnya 7 Agustus 2007, menyisakan banyak kisah bagi penggawa teater Jogjakarta. Meski fisik tak lagi hidup, ide dan pemikirannya tetap hidup hingga saat ini. Salah satunya adalah keidentikannya sebagai tokoh teater sampakan.
Pendiri teater Jeprik ini memang terkenal dalam mengolah sebuah lakon. Naskah-naskah yang dibuatnya juga mampu menghayati insan yang melihatnya. Itu terangkum dalam lakon Sendrek atawa Megatruh di Gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Minggu malam (15/11).
“Pementasan lakon ini didedikasikan untuk almarhum yang telah banyak menyumbangkan ide, dan gagasan dalam perkembangan teater di Jogjakarta khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Sebagai penghormatan, naskah tidak ubah sama sekali,” kata Sutradara pementasan, Agus Leyloor, ditemui seusai pementasan.
Leyloor menilai sosok Noor WA sangat berarti bagi dunia teater. Di mata para penggawa, sosok almarhum tidak hanya hadir sebagai seorang guru. Dalam sebuah kesempatan, juga bisa menjadi sahabat kental. Kedekatannya dengan penggawa teater lainnya juga tak diragukan lagi.
Hal itu juga diakui salah seorang sahabat Noor WA, Bambang Darto. Sebagai sesama penggawa teater lawas, Bambang tidak bisa melupakan sosok almarhum. Salah satunya, adalah karakter naskahnya yang begitu kuat dan mengena.
“Beliau tidak pernah memainkan naskah orang lain. Idealis ini yang patut kita tiru dalam menyelami dunia teater. Di sini lah kekuatannya dalam menulis naskah, kita sebagai pelaku bangga memainkan naskahnya,” ungkap Bambang.
Bambang menambahkan, Noor WA merupakan orang yang perfeksionis. Pernah dalam suatu latihan, Bambang dibuat kerepotan. Pasalnya naskah yang dibuat oleh almarhum terus berkembang. Padahal waktu itu sudah masuk dalam fase latihan bersama. “Seperti biasa dalam latihan, saat sarekat aktor naskah baru diserahkan. Sampai waktu itu saya bilang, loh naskahe nambah maneh,” kenangnya.
Dalam hidupnya, selain Sendrek atawa Megatruh, Noor WA memiliki tiga naskah lainnya. Seperti Gandring Gugat, Sang Aktor dan Wo Begitu To?. Keempat naskah tersebut yang melambungkan nama Noor WA dalam jagat dunia teater Jogjakarta.
Naskah Sendrek sendiri sejatinya hadir dalam kemasan realis sosialis. Namun oleh Leyloor diadaptasi menjadi pementasan dengan konsep realis. Itu pula yang terlihat dalam latar belakang pementasan. Berupa gerobak angkringan dengan tembok besar di belakannya.
Latar belakang ini diambil dari naskah Sendrek. Di mana dalam suatu percakapan menggambarkan Kewek sebagai seting tempat. Alhasil Leyloor dan timnya menyulap panggung Societet Militair TBY menyerupai angkringan Kewek. “Tantangannya adalah sosok Noor WA terkenal dengan Sampakannya. Untuk seting panggung memang berbeda, baru kali ini dihadirkan dalam wujud realis. Jika pernah ke daerah Kewek, tepatnya barat Kopi Jos pasti pernah melihat tembok bolong. Nah kami mengambil dari sana, dan kami usung menjadi ide panggung,” ungkapnya.
Lakon ini bercerita tentang pencarian dan pengembaraan Gadung Mentul. Sosok ibu tua yang diperankan oleh Sri Yulianti mencari anaknya yang bernama Parmin. Sosok Parmin sendiri berubah nama menjadi Sendrek ketika dewasa.
Sendrek kecil, terpaksa pergi karena diusir ayahnya, karena Sendrek kecil dituduh mencuri perhiasan. Sejatinya tuduhan ini hanya untuk menutupi kesalahan sang ayah sendiri. Hingga akhirnya 15 tahun berselang, Gadung Mentul bertemu dengan anaknya, Sendrek yang diperankan Muhammad Sodiq Sudarti.
“Parmin meninggalkan rumah 15 tahun lalu, saat usianya 10 tahun karena dituduh ayah kandungnya mencuri kalung bu Marto Ayu. Semua itu hanya akal bulus Bejo Kusir, ayah Parmin untuk menutupi perselingkuhannya dengan bu Marto Ayu, dan tanpa sengaja Parmin melihatnya,” ungkap Leyloor.
Kisah ini, lanjut Leyloor, memiliki nilai sosial, terutama hubungan antara anak dan orangtua. Di mana sebagai orangtua jangan selamanya menyalahkan sang anak. Terlebih hanya menjadi tumbal atas kesalahan yang dilakukan orangtua.
Dalam kesempatan ini, ia berpesan agar orangtua tidak seenaknya mengumpat sang anak. Ini dibuktikan dalam sebuah adegan saat mengusir Parmin dari rumah. Di mana sang ayah menyumpahi agar anaknya menjadi sosok yang jahat.
“Menyumpahi jadi orang jahat, dan akhirnya perkataan ini terbukti. Meskipun menjadi orang jahat di sini hanya untuk membuktikan perkataan. Naskah ada unsur edukatif, bagaimana mendidik anak dan bersikap kepada anak,” kata Leyloor.
Leyloor sendiri tidak mengalami kesulitan berarti saat membawakan lakon ini. Pasalnya Leyloor pernah terlibat penggarapan lakon yang sama di tahun 1987. Waktu itu dirinya berperan menjadi sosok kuli angkut yang bernama Giman.
“Mengalami sendiri bagaimana di bawah garapan langsung almarhum Noor WA. Sedangkan dalam garapan kali ini saya tidak memilih aktor. Karena konsepnya menggajal semua aktor untuk belajar. Sehingga melibatkan teman-teman muda dalam komunitas Rondjeng,” pungkasnya.(jko/ong)