HENDRI UTOMO/Radar Jogja
TIDAK SEKADAR HIBURAN: Napak Tilas Petilasan Kulonprogo di Bendungan Ancol, Desa Banjaroyo, Kalibawang, berlangsung meriah dan penuh nilai historis, (13/11).

Nandur Banyu Panguripan, Ngrabuk Paseduluran

Selalu ada yang menarik dalam setiap prosesi budaya. Ada alur sejarah yang membekas dan khas berbalut semangat yang hebat. Kenangan diaduk sedemikian rupa, kemudian dibumbui pesan moral, sehingga masyarakat tahu jika penggalan sejarah itu bermakna.
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
 
NAPAK TILAS Bendungan Ancol Banjaroyo, Kalibawang, meninggalkan guratan sejarah masa lalu. Kita diajak melihat lebih dekat, seperti apa ide brilian Sri Sultan HB IX dalam menjaga peradaban.
Tidak sekadar mengenang dan memahami atau menyelami sejarah masa lalu, masyarakat juga mengartikan prosesi itu sebagai bentuk rasa syukur atas keberadaan Bendungan Ancol yang selama ini dikenal sebagai bagian dari Selokan Mataram yang dibangun Sultan HB IX, telah banyak memberi kemanfaatan.
Bendungan Ancol di Kulonprogo merupakan terusan selokan yang membentang dari timur di Kali Opak. Usianya sudah puluhan tahun dan keberadaannya hingga saat ini masih diandalkan para petani. Napak tilas pun digaungkan dengan jargon “Nandur Banyu Panguripan, Ngrabuk Paseduluran” (Menanam Air Penghidupan, Memupuk Persaudaraan).
Seluruh masyarakat berkumpul, tetap antusias kendati sempat disentuh guyuran hujan. Mereka seperti membuka buku lama, dengan tenang mengenang sejarah dan budaya serta lingkungannya. Memori kolektif merekA dibangunkan dan Pussaka Institute bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIJ ada di belakang kegiatan itu.
Masyarakat setempat diajak untuk melihat benang merah antara budaya dan ekologi. Mereka dikumpulkan di tepi Bendungan Ancol. Antusiasme mereka benar-benar tak bisa ditepis oleh hujan.
Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo dan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Wironegoro beserta rombongan yang datang disambut dengan kirab, suasana sublim begitu terasa. Hujan yang datang seolah menjadi tanda jeda, menyisakan kesejukan. Belum lagi aroma ruam tanah yang menguar, semakin menguatkan budaya agraris itu tumbuh subur di Banjaroyo.
Dalam sambutannya KPH Wironegoro mengatakan, apa yang dilakasanakan kali ini perlu didukung, karena sebagai upaya yang sangat jelas untuk nguri-uri (melestarikan) kebudayaan. Dana keistimewaan tentu memberi dukungan upaya ini.
“Memanfaatkan dana keistimewaan untuk kegiatan seperti ini tentu saja sangat pas. Danais jangan sampai malah menghilangkan budaya, semangat gotong royong dan swadaya masyarakat harus tetap diutamakan,” katanya.
Bupati Hasto mengungkapkan, Bendungan Ancol ini memiliki nilai sejarah yang kuat. Keberadaannya juga memiliki manfaat besar bagi masyarakat Kulonprogo khususnya, dan DIJ pada umumnya. “Semoga dapat menjadikan pertanian semakin berkembang dan masyarakatnya makmur,” kata Hasto.
Pembawa acara dengan mantab menebali semua pernyataan Wironegoro dan Bupati Hasto. Menggunakan bahasa Jawa ditegaskan, warga harus bersukaria karena Bendungan Ancol merupakan bagian dari Keraton Jogja, pasokan airnya masih ada hingga sekrang dan tidak hanya memberi kemanfatan tetapi juga menjadi warisan sejarah dan budaya untuk kita.
Narasi yang sangat menggugah semangat untuk melestarikan budaya. Masyarakat yang hadir pun riuh bertepuk tangan. Sejumlah rangkaian acara napak tilas kemudian dimulai. Selain kirab budaya, juga dilakukan penanaman sembilan pohon beringin putih, pelepasan bibit ikan di bendungan, sarasehan sejarah ekologi budaya DIJ, pembagian pohon, kesenian tradisional strek muslim tanjung, jathilan, gejog lesung, soreng menoreh, dan wayang wong.
Direktur Pussaka Institute Leo Budi Setiawan menjelaskan, penanaman pohon beringin putih berjumlah sembilan ini merupakan simbol di mana Sultan HB IX yang telah membangun Bendungan Ancol sebagai bagian dari Selokan Mataram.
“Pada masa HB IX, Selokan Mataram dibangun sehingga bermanfaat mempertahankan kesuburan pertanian di Jogjakarta. Ide pembangunan itu tak lain adalah upaya HB IX menyelamatkan warga Jogjakarta dari kekejaman Romusha (Jepang),” jelasnya.
Leo menuturkan, secara cerdik, HB IX melaporkan kepada Jepang bahwa Jogjakarta merupakan daerah minus dan kering. Ia mengusulkan warga membangun saluran air yang menghubungkan Kali Progo di barat dan Kali Opak di timur.
Selain kemudian menjadi sumber irigasi pertanian, hasilnya juga dapat memasok kebutuhan pangan tentara Jepang. Jepang pun akhirnya menyepakati ide HB IX itu, yang sebetulnya juga untuk menyelamatkan warga Jogja dari kebiasaan pemerintahan Jepang memaksa rakyat sebagai Rhomusa.
“Catatan itu sekaligus sebagai bukti Lembaga Pelestari di Jogjakarta yakni Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman peduli terhadap kesejahteraan masyarakatnya,” tutur Leo.
Dengan alasan itu pula, napak tilas kali ini mengangkat perpaduan kesenian, budaya dan sisi ekologi. Harapannya, masyarakat menjadi paham aspek yang ekologi penting dalam kebudayaan. (laz/ong)