MUNGKID – Lomba Borobudur International 10K dan Half Maraton diwarnai keributan. Hingga kemarin (16/11), panitia belum menerima laporan resmi terkait keributan yang melibatkan atlet dan sponsor atlet tersebut. Panitia tengah mendalami keributan yang dipicu dugaan upaya dorongan yang mengakibatkan pelari terjatuh saat start.
Wakil Sekretaris Panitia Borobudur International 10K dan Half Maraton Candi Borobudur Kuncoro mengatakan, belum menerima laporan secara resmi terkait keributan antara atlet dan sponsor atlet. Peristiwa yang sempat menyedot perhatian aparat kepolisian tersebut belum ada yang mengkonfirmasi ke panitia. Meski tidak ada laporan resmi, panitia berupaya mendalami peristiwa yang terjadi.
“Panitia tengah mendalami peristiwa itu. Pendalaman dilakukan dengan mempelajari video dan foto. Seandainya ada yang merasa keberatan, akan kami tindaklanjuti,” kata Kuncoro kemarin (16/11).
Ia melanjutkan, jika ada yang terbukti melakukan pelanggaran saat lomba lari, panitia akan menyerahkan ke Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI). Tidak menutup kemungkinan, peserta yang terbukti mendorong bisa didiskualifikasi.
“Soal terbukti atau tidak, nanti sanksi diberikan PB Pasi. Mungkin bisa juga (didiskualifikasi), jika nanti itu terbukti,” tegasnya.
Lomba lari yang diadakan Minggu (15/11) di Kecamatan Borobudur diwarnai keributan saling dorong dan berujung pemukulan. Sponsor salah satu atlet menuding atlet nasional mendorong peserta lari lainnya. Akibatnya, atlet Rieke Febriyanti, 12, dari Salatiga mengalami luka pada kedua lututnya.
Kuncoro mengatakan, peserta lomba lari telah diasuransikan. Kalau ada yang komplain, asuransi akan diteruskan dan diupayakan agar bisa cair. Besaran asuransi, jika peserta meninggal dunia sekitar Rp 15 juta – Rp 20 juta.
“Kalau luka-luka nanti bisa diobati dengan P3K atau pertolongan pertama pada kecelakaan,” jelasnya.
Selain itu, panitia juga akan mengevaluasi lomba Borobudur International 10K dan Half Maraton Candi Borobudur. Evaluasi terkait jumlah peserta yang ikut berlari dalam lomba sejauh 10 kilometer tersebut. Jumlah peserta lomba lari 10K yang mencapai 15 ribu tersebut dinilai terlalu banyak.
“Banyaknya peserta itu menjadi bahan evaluasi. Tidak boleh lebih dari 10 ribu karena rawan. Terkait rute juga nanti dipertimbangkan,” katanya.
Tahun lalu, pada lomba Borobudur International 10K untuk titik start dari Jalan Soekarno-Hatta, Mungkid menuju desa di sekitar Candi Borobudur. Tahun ini, titik start dan lebar jalan lebih sempit dibanding tahun lalu. Yakni di Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur.
“Kalau kantor bupati (yang tahun sebelumnya dijadikan titik start) kan lebar. Bisa saja nanti start kategori elit nasional dan kategori pelajar diberi selisih beberapa menit. Agar tidak berjubel,” katanya.
Peristiwa kericuhan bermula ketika peserta tengah beristirahat usai berlari. Setelah sebagian hadiah dan piagam dibagikan para juara, tiba-tiba di belakang panggung Taman Lumbini Kompleks Candi Borobudur terjadi aksi saling dorong. Mereka merupakan salah satu sponsor atlet, yakni Eli Silvia dengan salah satu atlet nasional.
Eli menuding seorang atlet nasional mendorong atlet yang dia sponsori. Yakni, Rieke Febriyanti. Siswi SMP di Salatiga ini jatuh selang beberapa detik setelah lomba lari 10K dimulai. Rieke mengalami luka-luka pada kedua lututnya.
“Saya punya bukti, Rieke jatuh karena didorong. Bukti-buktinya itupelatih melihat sendiri dan terlihat di foto serta terekam video,” kata Eli.
Meski memiliki bukti, Eli tidak melaporkan resmi ke panitia lomba. Alasannya, atlet yang dia sponsori tengah mengikuti beberapa jadwal pelombaan lari serupa di daerah lain.(ady/hes/ong)