SLEMAN- Demam berdarah dengue (DBD) dan leptospirosis mulai mengancam kesehatan masyarakat seiring musim pancaroba dari kemarau ke penghujan.
Sampai awal November 2015 terjadi 485 kasus DBD. Lima korban meninggal dunia. Dibanding tahun lalu jumlah kasusnya memang menurun, tapi korban meninggal bertambah. Pada 2014 terjadi 538 kasus, empat orang meninggal dunia. Kawasan rentan DBD di antaranya, Depok, Godean, Gamping, dan Kalasan.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman Mafilindati Nuraini mengingatkan perlunya kesadaran masyarakat menerapkan prinsip sederhana mencegah DBD. Yakni, gerakan 3 M, yakni, menguras bak air, menutup tampungan, dan mengubur bak sampah plastik dan kaca.
Selama ini, pengasapan (fogging) tak terbukti ampuh memberantas jentik nyamuk. Sebab, asap hanya membunuh nyamuk dewasa. Di sisi lain, fogging justru berdampak pencemaran udara, yang berbahaya bagi tubuh manusia. “Intinya pencegahan secara pribadi,” tegasnya kemarin (16/11).
Pada bagian lain, leptospirosis juga mulai mengancam. Satu hal yang patut diantisipasi justru merebaknya leptospirosis yang merambah di wilayah perkotaan. Di antaranya, Kecamatan Depok, Mlati, dan Ngaglik.
Penyakit menular melalui air seni tikus yang tercemar bakteri ini tak lagi hanya mengancam petani di kawasan persawahan. Seperti, Kecamatan Minggir, Moyudan, dan Kalasan. Di perkotaan, bakteri leptospirosis bisa menular dari genangan air yang masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka.
Mafilindati mengingatkan masyarakat waspada terhadap gejala dua penyakit endemik tersebut. Dua-duanya rentan berkembang di genangan air.
Menurutnya, awal November tercatat enam kasus leptospirosis. Meski tak ada korban meninggal, penyakit ini cukup mematikan. Pada 2014, dari 12 kasus, dua pasien positif leptospirsis meninggal dunia karena terlambat mendapatkan penanganan medis. “Waspadi gejalanya, jangan datang ke rumah sakit saat sudah parah,” ingatnya kemarin (16/11).
Gejala leptospirosis, awalnya menyerupai flu biasa. Dalam kondisi berat, letpspirosis bisa berakibat gagal ginjal atau liver. Tanda-tandanya, selaput putih mata yang menguning.
Kepala Pemberantasan Penyakit Dinkes Sleman, Hindarti Wilujeng. Menambahkan, tikus yang terjangkit leptospirosis bisa hidup di berbagai wilayah. Terutama di kawasan kumuh dan lingkungan sampah.
Gropyokan tikus menjadi upaya alternatif menekan angka kasus leptospirosis. Hanya, selama ini, kegiatan tersebut identik dilakukan di kawasan pertanian.(yog/din/ong)