Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
JOGJA – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso menegaskan, butuh ide-ide gila dalam rangka pemberantasan narkoba. Terlebih saat ini sekitar 60 persen dari tahanan di seluruh Indonesia merupakan pelaku tindak penyalahgunaan narkoba.
Saat berdialog dengan ibu-ibu Dharma Wanita dan PNS di lingkungan Pemprov DIJ di Kepatihan Jogja, kemarin (17/11), Budi menceritakan tentang terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman yang masih bisa mengendalikan peredaran narkoba dari dalam penjara. Hal itu yang mendasarinya mencentuskan ide mengganti penjaga penjara narkoba dengan binatang buas, seperti buaya. “Pemberantasan narkoba itu kan berhadapan dengan orang-orang gila, kita juga butuh ide-ide gila,” ujarnya.
Mantan Kabareskrim Mabes Polri yang sering dipanggil Buwas ini mengaku, sebenarnya tidak hanya buaya saja yang diusulkan menjaga penjara, tapi juga ikan piranha, bahkan harimau. Menurut dia, hewan-hewan buas itu tidak bisa diajak komunikasi, sehingga tidak mungkin bisa disuap. “Kalau mau coba-coba kabur, biar diemut buaya,” katanya, yang disambut tawa peserta dialog.
Budi mengatakan seperti yang sudah dikatakan Presiden Joko Widodo, Indonesia sudah darurat narkoba. Narkoba disebutnya sebagai bentuk perang modern. Penghancuran kekuatan suatu negara tanpa perlu mengerahkan peralatan perang modern, cukup menghancurkan generasi muda dengan narkoba. “Untuk itu, dalam pemberantasan narkoba saya mengusulkan juga melibatkan TNI,” jelasnya.
Upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba juga akan terus dilakukan oleh BNN. Pada 2016 nanti, Budi mengaku akan lebih fokus ke kelompok ibu-ibu untuk sosialisasi pencegahan penyalahgunaan narkoba. Ibu-ibu, jelasnya, bisa mendeteksi dan menangani secara dini jika dalam anggota keluarganya terdapat pengguna narkoba. “Seorang ibu harusnya bisa mengenali perubahan perilaku anaknya, sehingga bisa dihentikan dulu dan tidak terlambat,” jelasnya.
Pencegahan penyalahgunaan narkoba juga akan dilakukan secara masif. Budi mengaku sudah bertemu dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan untuk memasukkan materi bahaya narkoba dan sejenisnya dalam kurikulum pendidikan. Data di BNN, saat ini terdapat sekitar 5,9 juta pengguna narkoba, dan paling banyak berasal dari pelajar SMP dan SMA. Bahkan sudah ada yang menyasar pelajar SD dan TK.
Menurut Budi, narkoba sangat berbahaya di Indonesia karena sudah menyerang semua kalangan, termasuk pada komponen pencegahan dan penegakan hukum seperti Polri dan BNN sendiri. “Bahkan kemarin saya temui ada kiai di sebuah pesantren di Jawa Timur yang juga terjerat narkoba,” ungkapnya.
Sementara itu Gubernur DIJ Sultan HB X juga mengkhawatirkan peredaran narkoba di DIJ, terlebih dengan banyaknya pelajar dan mahasiswa luar daerah. Menurutnya, terdapat sekitar 13 ribu pelajar dan mahasiswa dari luar daerah yang menuntut ilmu di DIJ. Mereka jauh dari pengawasan orang tua, sehingga juga rawan terjerat narkoba.
Di DIJ sendiri, lanjut HB X, sebenarnya sekarang menjadi pilot project jaga warga, yaitu polisi sipil seperti Badan Pembinaan Keamanan Dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) untuk menjaga keamanan wilayah. “Ada kontrol di setiap desa, seperti kalau ada tamu dari luar harus melapor,” tuturnya. (pra/laz/ong)