GUNUNGKIDUL – Pemkab Gunungkidul siap merealisasikan instruksi pusat agar di tahun 2019 semua warga mendapatkan air bersih. Cara yang bakal ditempuh adalah dengan penerapan sistem perpipaan dan nonperpipaan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul Syarief Armunanto mengatakan, model perpipaan akan dipecah lagi dalam dua program pelayanan. Yakni penyaluran air bersih melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani dan pengolahaan air melalui Sistem Penyedia Air Minum Desa (Spamdes).
“Dua model ini diharapkan bisa saling melengkapi, sehingga proses pelayanan air bersih kepada masyarakat bisa cepat dilakukan,” kata Syarief Armunanto kemarin (18/11).
Agar tidak tumpang tindih, pemanfaat sumber air yang digunakan akan dibedakan. PDAM fokus pada sumber air dengan debit besar, sementara spamdes digunakan untuk sumber dengan debit kecil. “Dengan model demikian seluruh wilayah akan mendapatkan fasilitas pelayanan air bersih,” ujarnya.
Diakui, baik PDAM maupun spamdes memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Namun kedua sistem tersebut bisa saling melengkapi karena pertimbangan kondisi geografis, di mana PDAM tidak bisa menjangkau ke seluruh wilayah.
“Nanti daerah sulit dijangkau PDAM kita dorong untuk mendirikan spamdes supaya sumber-sumber air bisa dikelola,” ujarnya.
Hanya saja, pencapaian target pemerintah agar 2019 semua masyarakat mendapat air bersih masih butuh banyak perbaikan. PDAM dituntut meningkatkan pelayanan, sementara Spamdes, pemkab masih melakukan kajian agar pelayanan air berbasis masyarakat tersebut tetap bisa eksis.
Terpisah, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Gunungkidul Dwi Warna Widi Nugraha mengatakan, anggaran penyaluran bersih tahun ini sejumlah Rp 815 juta. Rinciannya, Rp 590 juta berasal dari APBD 2015, sedangkan Rp 225 juta merupakan tambahan droping dari APBD Perubahan 2015.
“Droping air bersih ke masyarakat dilakukan dengan syarat ada permintaan resmi dari pihak desa atau dukuh. Tanpa surat resmi, kami tidak akan menyalurkan bantuan,” kata Dwi Warna. (gun/laz/ong)