SLEMAN- Pasare resik rezekine apik. Kalimat tersebut tentu tak sekadar berakhir sebagai slogan semata jika ada kesadaran dari penghuni, sekaligus pengelola pasar.
Ya, keberadaan pasar tradisional yang bersih dan sehat akan membuat suasana nyaman bagi pengunjung. Itu menjadi salah satu kiat agar konsumen tetap betah belanja di pasar tradisional di tengah gempuran toko modern.
Ketua DPD Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DIJ Yuni Satia Rahayu menuturkan, penciptaan kenyamanan pasar tradisional memerlukan peran pemerintah. Terutama dalam mengelola infrastruktur dan fasilitas umum.
Selain itu juga menciptakan perasaan aman bagi pedagang dan pembeli. “Pasar sudah tertata rapi. Tapi, ternyata masih ada yang menyoal tentang bank plecit (tukang kredit perseorangan) dengan bunga tinggi,” ungkap Yuni saat melihat proses penjurian Pasar Sehat 2015 di Pasar Sambilegi, Maguwoharjo, Depok kemarin (18/11).
Masalah lain adalah keberadaan pedagang musiman yang cenderung menambah sesak pasar. Apalagi, pedagang musiman sering berjualan di depan pasar dengan produk sejenis yang dierdagangkan pedagang tetap. Kondisi itu diangap merugikan pedagang setempat. “Pemerintah seharusnya bisa memfasilitasi bantuan modal usaha berbunga rendah. Dengan begitu, keberadaan bank plecit berangsur akan hilang,” saran Yuni yang juga calon bupati Sleman itu.
Yuni menegaskan, pedagang butuh solusi dan perlindungan modal untuk pengembangan usaha. Setidaknya, ada kepastian perputaran uang milik pedagang. Menurutnya, pemerintah bisa memfasilitasi pedagang melalui pos anggaran makanan dan minuman.
Misalnya, setiap agenda rapat atau menerima tamu luar daerah, suguhan berupa makanan olahan atau jajanan dibeli dari pedagang pasar tradisional terdekat. Bukan di toko kue. Kebijakan itu bisa diterapkan juga di kantor-kantor kecamatan maupun desa.
Kegiatan itu secara tak langsung mendidik pedagang pasar tradisional membuat pembukuan resmi. Tujuannya, agar setiap transaksi dengan uang negara teta ada bukti pembayaran resmi. Seiring sejalan, kebijakan itu bakal menghidupkan roda ekonomi pelaku usaha kecil pembuat jajanan pasar.
Sumini,39, pedagang jajan pasar, menuturkan bahwa keberadaan bank plecit bak buah simalakama. Di satu sisi dia butuh suntikan modal, namun angka yang dianggap tak seberapa besar cukup menyulitkannya jika harus berhutang di lembaga keuangan resmi. Apalagi jika harus agunan sebagai jaminan.
Di sisi lain, nilai setoran bank plecit sangat kecil dan dicicil harian. “Kalau ditotal memang besar jadinya. Tapi, tak terasa karena cicilannya ringan,” ungkapnya.(yog/din/ong)