HENDRI UTOMO/Radar Jogja
KERJA KERAS: Sejumlah pekerja tengah memperbaiki titik kebocoran di Embung Bogor, Desa Sendangsari, Pengasih, kemarin.
KULONPROGO – Embung Bogor di wilayah Girinyono, Desa Sendangsari, Pengasih, bocor sebelum difungsikan. Embung yang dibangun dengan anggaran APBD 2015 senilai Rp 1,1 miliar itu berfungsi untuk suplesi irigasi pertanian seluas kurang lebih 30 hektare di wilayah Pengasih.
Ironisnya, pengerjaan embung itu belum genap sebulan selesai dan diserahkan. Sempat penuh menampung air pasca hujan lebat beberapa waktu lalu, namun air yang tertampung dengan cepat surut mengalir keluar melalui bagian bawah pondasi embung.
“Sempat terisi air waktu hujan kemarin, tapi karena bocor airnya sekarang habis. Pondasinya mungkin ada yang kurang dalam, sehingga air keluar dari bawah. Padahal kemarin sempat tersi penuh airnya,” kata Pujo Dadi, warga setempat kemarin (18/11).
Keluhan senada juga diungkapkan Agus. Kebocoran embung tentu sangat disayangkan. Pasalnya, secara keseluruhan embung itu sudah selesai dibangun dan siap difungsikan. “Kenyataannya sekarang kering lagi setelah sempat terisi air hujan. Karena bocor sampai sekarang belum bisa dimanfaatkan,” keluhnya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek Embung Bogor Setiyono Wiryawan menjelaskan, embung berfungsi untuk konservasi, yakni meresapkan air ke tanah. Selain itu juga sebagai suplesi irigasi sawah-sawah di wilayah Sidomulyo, Kecamatan Pengasih, khususnya saat memasuki musim tanam (MT II).
“Embung cukup vital, karena untuk suplesi irigasi lahan pertanian seluas kurang lebih 30 hektare di wilayah Pengasih. Sementara ini kami masih mencari dan mengidentifikasi penyebab kebocoran, ada rembesan air dari bawah,” jelasnya.
Setiyono menambahkan, kendati sudah diserahkan, embung ini masih dalam ststus masa pemeliharaan selama enam bulan ke depan. Pihak rekanan masih berusaha memperbaikinya.
“Proyek pembangunannya sudah dimulai sejak 3 Juli 2015, diserahkan 2 November 2015. Saat ini masih dilakukan perbaikan,” imbuhnya.
Kabid Pengairan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kulonprogo Adi Priyanto mengamini, proyek tersebut memang dikerjakan secara bertahap. Pembuatan embung masuk dalam tahap pertama yang nantinya akan dilanjutkan dengan pembangunan saluran menuju irigasi sawah.
Disebutkan, proyek embung dengan kapasitas sekitar 6.000 meter kubik itu dianggarkan APBD 2015 senilai Rp 1.180.267.000. Rencananya, embung yang dikerjakan mulai 3 Juli hingga 2 November 2015 itu bakal mengairi sawah 30 hektare.
“Kebocoran sudah diketahui, kebetulan ada hujan sehingga kami lebih cepat mengetahui ada yang bocor,” terangnya.
Menurut Adi, ada kemungkinan bagian yang bocor karena ada titik galian dasar embung yang kurang dalam dan belum menyentuh bagian kedap air atau padas (batu).
Dengan demikian, selama masa pemeliharaan ini pihak rekanan diminta segera menyempurnakannya sehingga tidak bocor.
Terpisah, Tim Pelaksana Proyek Embung Bogor Suharso menyatakan, kebocoran sudah ditindaklanjuti dengan pengecoran. Kebocoran terjadi karena ada rongga air di bawah pondasi, sehingga air turun melalui bawah pondasi.
Padahal, dalam pengerjaannya juga sudah dipasang beton siklop untuk mengantisipasi terjadinya rebesan. Rembesan sebenarnya juga hal wajar, karena saat beroperasi akan tertutup sedimen dengan sendirinya. (tom/laz/ong)