Rizal SN/Radar Jogja
TERPEDAYA: Korban menunjukkan pesan singkat penipuan minta pulsa, Rabu (18/11). Selain pesan singkat, pelaku juga intens menelepon korbannya.
SLEMAN – Pengungkapan kasus penipuan dengan modus minta pulsa “Mama Minta Pulsa” pada awal November lalu tampaknya tak membuat kasus serupa berhenti. Kasus penipuan minta transfer pulsa masih berlanjut. Hal itu seperti yang terjadi di Jogja dan sleman, dengan korbannya Pungkas, 28, mahasiswa kampus negeri di Jogjakarta, dan Azka Maula, warga Drono, Sleman.
Bahkan model penipuan bermodus minta pulsa kali ini tergolong berani. Tidak hanya melalui sms, juga melalui telepon. Tidak tanggung-tanggung, korbannya bisa tanpa sadar mentransfer pulsa hingga nilai puluhan juta rupiah.
Salah satu korbannya adalah Pungkas, 28, mahasiswa kampus negeri di Jogjakarta. Akibat menjadi korban penipuan itu, dia merugi hampir Rp 8 juta. “Awalnya pelaku menghubungi sekitar hari Senin (9/11) pekan lalu. Tapi ndak langsung minta transfer,” katanya kepada Radar Jogja, Rabu (18/11) kemarin.
Pelaku, katanya, mengaku sebagai temannya yang bekerja di Kalimantan. Menurutnya, pelaku cukup lihai dalam beraksi. Yakni dengan terlebih dahulu membangun kepercayaan, dan menjalin komunikasi intensif.
“Ngajak ngobrol terus, ngakrabi sampai terbangun imajinasi di pikiran kalau benar dia (pelaku,red) teman saya. Seperti hipnotis, gendam, ada tekniknya dan canggih,” ungkap warga Gambiran Kota Jogja itu.
Si pelaku yang mengaku temannya bernama Igun itu, menyebut bekerja di pabrik di Kalimantan. Ia lalu meminta korban mengirimkan pulsa nominal sebesar Rp 100 ribu ke 750 nomor. Dia berdalih, itu dilakukan sebagai uang komunikasi karyawan pabrik.
“Katanya di Kalimantan sulit cari pulsa, minta kerja sama diisiin pulsa nanti diganti. Saya mengiyakan karena tidak sadar. Itu sekitar hari Kamis (12/11) malam,” ujarnya.
Karena dalam pengaruh hipnotis itu, ia lalu mengirim pulsa hingga ke 75 nomor, yakni Telkomsel, XL dan Indosat. Ia bahkan sampai menghabiskan uang tabungannya dan berhutang ke konter pulsa milik temannya.
“Tabungan saya habis. Sempat mau gadaiin motor. Tapi Sabtu (14/11) malam saya sadar kalau saya kena penipuan. Teman saya meminta saya mengecek keberadaan teman saya yang ngaku di Kalimantan itu, ternyata sedang di Jogja. Barulah saya berhenti mengirimi dia pulsa,” terangnya.
Sampai saat ini, Pungkas mengaku masih berhubungan dengan pelaku. Ia meminta untuk uang pulsa itu dikembalikan. Namun pelaku meminta untuk digenapkan menjadi 100 nomor barulah nanti akan ditransfer. “Dia masih minta 30 nomor lagi. Tidak saya kirimi. Kalau dari dialeknya seperti orang Ngapak Banyumasan,” sebutnya.
Ia mengaku masih berhutang sekitar Rp 2,5 juta ke konter pulsa milik temannya itu. Ia sudah berkeliling ke beberapa dosen dan pihak kampus untuk meminta bantuan. “Konter temen saya itu anak yatim, saya kasihan juga. Ini sedang cari talangan buat ngelunasin. Buat pelajaran aja semoga tidak ada yang sama seperti saya,” harapnya.
Dalam waktu dekat, ia akan melaporkan kejadian itu ke polisi. Ia sudah tidak berharap uang miliknya dapat kembali. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jawa itu hanya akan berusaha menutupi hutangnya. “Dan tidak ada yang tertipu seperti saya. Harus hati-hati kalau ada nomor asing,” pungkasnya.
Pungkas ternyata bukan satu-satunya. Azka Maula, warga Drono, Sleman juga pernah mendapat telepon yang sama dari seseorang yang mengaku temannya di Kalimantan. Namun ia segera mengecek keberadaan temannya itu.
“Sempat ditelepon ngakunya temen dari Kalimantan. Tapi belum sempat sampai kena penipuan. Teman saya satunya juga mengaku pernah dihubungi seperti itu, ngaku dari Kalimantan ujungnya minta dikirimi pulsa. Mungkin sedang ramai modusnya, jadi waspada dan hati-hati kalau ada yang menghubungi ngaku teman dari Kalimantan,” katanya. (riz/jko/ong)