JOGJA – Malioboro pedestrian tinggal menunggu waktu. Jika selama beberapa tahun terakhir, penataan Malioboro baru sebatas perencanaan, akhir-akhir ini sudah berjalan. Tahap awal adalah menata parkir sepeda motor di sisi timur Jalan Malioboro. Sepeda motor yang selama ini berada di trotoar jalan, akan berpindah ke Taman Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali. “Pembangunan taman parkir Abu Bakar Ali sudah selesai. Tahun depan, kami harapkan sudah bisa dipindah,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT,) Syarif Teguh, kemarin (18/2).
Syarif menambahkan, juru parkir (jukir) Malioboro juga sudah sepakat untuk menempati tempat baru. Mereka juga antusias untuk mewujudkan Malioboro yang nyaman bagi pejalan kaki. “Para juru parkir sudah sepakat mendukung program pendestrian ini, karena wisatawan Malioboro ini kan pejalan kaki,” tambahnya.
Makanya, Syarif juga sepakat kalau penataan Malioboro bisa dipercepat. Apalagi, penataan dari Dana Keistimewaan sudah dilakukan untuk memasang batu andesit di Titik Nol Kilometer. Sosialisasi menyangkut pembangunan TKP Abu Bakar Ali juga telah selesai.
“Mengenai sosialisasi kawasan Taman Parkir Abu Bakar Ali, sudah selesai. Sekarang masih menyisakan sembilan kegiatan, dan kini dalam proses berjalan,” ungkapnya.
Di TKP Abu Bakar Ali ini, sesuai rencana akan menjadi awal penataan Malioboro. Nantinya, jukir Malioboro yang berada di sisi timur, akan dipindah ke TKP Abu Bakar Ali. Dengan pemindahan semua parkir kendaraan roda dua ke TKP Abu Bakar Ali, Malioboro semi pedestrian bisa terealisasi.
Itu akan bersamaan dengan penataan bertahap di sumbu filosofi tersebut yang kini telah mencapai Titik Nol Kilometer. Selain itu, UPT Malioboro juga tengah mengerjakaan kegiatan yang lain. Seperti pengadaan pagar barikade, toilet portable, foto booth, radio komunitas, seragam bregodo, serta panggung mobile. “Semuanya bersumber dari Danais Rp 3 miliar,” kata mantan Lurah Suryatmajan ini.
Sementara itu, sebagai bagian dari penataan kawasan Malioboro, Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X meminta agar mengembalikan fasad, atau tampilan muka bangunan di sepanjang Malioboro. HB X menginginkan agar plang nama-nama toko diatur besaranya, sehingga fasad bangunan aslinya terlihat.
Selain itu, HB X juga meminta ada alokasi Dana Keistimewaan (Danais) untuk membantu pemilik bangunan di Malioboro mengembalikan fasad aslinya.
Terpisah Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIJ Rani Sjamsinarsi mengakui, pihaknya mendapat tugas untuk mengurusi pengaturan fasad bangunan di Malioboro tersebut.
“Kami memang diminta untuk nangani fasad bangunan, sebatas bangunannya saja, tidak termasuk bangunan heritage. Sedang yang termasuk bangunan heritage, menjadi ranah Dinas Kebudayaan,” ujar Rani, kemarin (18/11).
Rani juga mengatakan, karena belum ada regulasi yang mengatur, ia belum bisa melaksanakannya. “Kami masih menunggu regulasinya dulu, dalam Perdais Tata Ruang. Kalau tidak ada aturannya, kami tidak berani,” ujar Rani.
Menurut Rani, dalam Perdais Tata Ruang tersebut, nantinya yang akan mengatur tentang besaran bantuan Danais yang akan diberikan. Rani juga belum mau membeberkan besaran bantuan dana rehab yang akan diberikan, karena nantinya baru akan dilakukan pembahasan dengan DPRD DIJ.
Meskipun begitu, Rani mencontohkan seperti di Kyoto Jepeng, untuk perbaikan bangunan heritage, sharing antara pemerintah dan pemilik gedung. “Bantuan rehab tiap bangunan beda-beda, tapi besarannya nanti lah, dibahas dengan dewan dulu,” ujarnya.
Harapan dari Pemprov DIJ tersebut sepertinya tidak bisa terwujud dalam waktu dekat. Dari tiga Raperdais yang belum dibahas, yaitu Raperdais Tata Ruang, pertanahan dan Kebudayaan, baru Raperdais Kebudayaan yang masuk Prolegda tahun ini, dan sudah mulai dilakukan focus group discussion (FGD).
Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kepala Seksi Purbakala Dinas Kebudayaan DIJ, Dian Lakshmi Pratiwi, mengaku masih mengidentifikasi bangunan di Malioboro yang termasuk bangunan warisan, maupun cagar budaya. Menurutnya, identifikasi menjadi rumit, karena sebagian besar bangunan terutup plang toko atau sudah berubah bentuk.
“Bangunan heritage di kawasan Malioboro yang saat ini tampak, hanya 20 persen. Sisanya 80 persen tertutup papan nama toko-toko,” katanya.
Setelah identifikasi, tahapan selanjutnya untuk melihat fasad bangunan yang telah menjadi fasad baru. Fasad baru tersebut akan dikompilasikan dengan data-data Belanda ataupun foto yang mendukung terkiat bentuk lamanya. Hal itu mengingat gaya arsitektur bangunan asli di Malioboro seperti gaya Tiongkok atau Indis. “Kalau bisa sekalian kita kembalikan bentuk bangunannya,” jelas Dian. (eri/pra/ong)