DWI AGUS/Radar Jogja

Masukkan Sosok Semar dalam Kehidupan Sehari-hari

Berkesenian untuk hidup, hidup untuk berkesenian. Jargon itu lah yang dipegang teguh Valentinus Atmo Sudiro. Memasuki usia yang tak lagi muda, 76 tahun, tetap aktif melukis. Inilah yang terekam dalam pameran bertajuk Samar-Samar Semar Sudiro di Bentara Budaya Yogyakarta hingga 24 November mendatang.
DWI AGUS, Jogja
BERKESENIAN tidak mengenal usia, bahkan hingga memasuki usia lanjut. Prinsip ini dipegang teguh oleh perupa Valentinus Atmo Sudiro. Di balik kulitnya yang keriput dan rambutnya yang memutih, Sudiro sapaan akrabnya, tetap aktif berkarya. Beberapa karyanya pun telah menjadi buruan para kolektor lukisan.
Bagi pria kelahiran Jogjakarta 22 Desember 1939 ini, seni adalah sahabat karibnya. Tak pernah sedikitpun dirinya membatasi diri dari dunia seni. Berawal dari tahun 1960-an, Sudiro telah menuntaskan tugas berkeseniannya dengan karya-karya seni rupanya.
“Saya ingin memotivasi seniman generasi muda dalam berkarya. Berharap agar generasi penerus seni rupa di Indonesia akan terus berjalan. Di samping itu, saya juga memotivasi diri agar terus tetap berkarya demi kemajuan seni rupa di Indonesia ini,” ungkapnya di sela pembukaan pameran di BBY, Selasa malam (17/11).
Karya-karya yang tersaji di ruang pamer BBY cukup beragam. Dalam pameran ini, Sudiro mengajak pengunjung melihat dinamika berkeseniannya. Sejak awal memutuskan berkarya seni di tahun 1960an, Sudiro hadir dengan warna yang unik.
Diawal kemunculannya, Sudiro hadir dengan konsep batik. Ia juga sempat melakoni seni patung. Hingga akhirnya mantab dengan konsep lukisan Semar. Dikemas dengan gaya surealis, sosok Semar menjadi ciri khas dirinya dalam berkarya.
“Saya sangat tertarik dengan figur Semar sebagai objek lukisan. Sosoknya menurut cerita Jawa adalah dewa yang ditokohkan. Sifatnya jujur, sederhana dan bisa ngemong para bendaranya. Dia bisa memposisikan diri sebagai rakyat jelata, tapi juga menjadi petinggi,” kata angkatan tahun 1960 Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Jogjakarta ini.
Meski tidak memiliki pengalaman spiritual tertentu, namun baginya, Semar sangat menginspirasi. Perkenalan Sudiro terhadap tokoh Semar sendiri dimulai pada 1982. Diawal perkenalannya ini, Sudiro justru mewujudkannya dalam sebuah patung.
Hingga setelahnya, Sudiro mulai bermain dengan cat dan kanvas. Torehan cat di atas kanvas inipun tidak sekadar menjadi karya lukis. Dalam setiap lukisan Semar dirinya selalu menyematkan sebuah pesan. Termasuk nilai-nilai yang diwarisi oleh Semar dalam setiap pewayangan.
“Sosok Semar merasuk ke dalam diri saya. Mulai dari cara berpikir hingga cara bertindaknya benar-benar menginspirasi. Sehingga benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Salah satu karya yang mampu mencuri perhatian adalah Semar Mbangun Kahyangan. Lukisan yang dibuat tahun 2012 ini berukuran cukup besar, 150cm X 200cm. Di dalamnya menggambarkan dua sosok Semar dengan beberapa orang berpakaian tradisi Jawa lengkap.
Melalui lukisan ini, Sudiro ingin menghadirkan peran Semar dalam kehidupan. Sosok Semar pertama digambarkan berwarna emas. Sosok ini dilukiskan dengan posisi tangan seolah sedang memberkati. Berbeda dengan sosok Semar kedua yang terlihat lebih hitam dan besar.
Semar berwana emas, merepresentasikan nirwana. Sedangkan Semar berwarna hitam mewakili manusia. Dalam lukisan ini dirinya ingin bercerita sosok Semar yang dipercaya menjadi pamomong. Menjadi pendamping bagi momongannya dalam bertindak.
“Melengkapi dengan beberapa orang berpakaian adat Jawa, khususnya Jogjakarta. Posisi orang-orang ini duduk dan menyembah. Ingin menjelaskan bahwa batas nirwana dan kehidupan manusia itu samar-samar. Bertindak sebagai manusia tanpa melangkahi kekuasaan semesta,” ungkapnya.
Berbicara tentang pameran, Sudiro pun sempat terharu. Pasalnya pameran ini merupakan pameran tunggal pertamanya. Meski telah menjajal dunia seni rupa sejak 1960an, namun belum pernah dirinya menggelar pameran tunggal. Meski dalam perjalanannya, Sudiro lebih kerap pameran bersama rekan-rekannya.
Untuk mewujudkan pameran tunggal, tidaklah mudah. Dikarenakan beberapa karyanya telah dikoleksi para kolektor. Sehingga dirinya harus mengumpulkan lukisan-lukisan ini. Beberapa kolektor pun merelakan lukisan Sudiro untuk turut dipamerkan.
Seperti karya Penebusan yang telah menjadi koleksi seniman Butet Kertaredjasa. Lukisan yang dibuat tahun 1969 ini telah menghiasi dinding rumah Butet. Ada pula lukisan Ayam Mati yang dikoleksi sesama pelukis Nasirun. Hingga lukisan sosok Affandi yang menjadi koleksi Handoko.(jko/ong)