SEMENTARA itu, untuk mendukung kawasan baru terkait rencana dibangunnya bandara baru di Kulonprogo, Dinas Pariwisata DIJ sudah menetapkan 12 kawasan wisata yang masuk dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (Ripparda) DIJ. Ripparda DIJ yang sudah disiapkan tersebut, diharapkan juga dapat mendorong pengembangan pariwisata DIJ, dengan adanya bandara baru di Kulonprogo.
“Kami antisipasi wisatawan yang datang dua kalilipat. Kami sudah menetapkan 12 kawasan wisata provinsi yang mendorong pengembangan kawasan pariwisata DIJ,” ujar Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIJ Imam Pratanadi dalam forum diskusi wartawan di gedung DPRD DIJ kemarin (19/11).
Menurutnya, kawasan yang disiapkan tidak hanya di wilayah Kulonprogo, juga di semua wilayah DIJ. Dirinya mencontohkan kawasan lereng Merapi bagian selatan dan sekitarnya. Di wilayah Kaliurang Sleman yang dikembangkan menjadi wisata natural Merapi Vulcano dan tourism village tour experience. “Nanti akan dibuat wisata tracking Merapi, selain juga menawarkan desa wisata yang ada di sana,” jelasnya.
Imam menambahkan, pengembangan dilakukan di semua wilayah, karena nantinya di bandara baru Kulonprogo direncanakan juga terdapat airport city, dengan jumlah pengunjung yang bisa meningkat hingga dua kali lipat dari saat ini. Dari data Dispar DIJ pada 2014, jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke DIJ mencapai 3.091.967 orang, sedang untuk wisatawan mancanegara mencapai 249.854 orang. “Kalau hanya diputar di Kulonprogo, tentu tidak berdampak signifikan untuk kabupaten lain,” ungkapnya.
Ada pun 12 kawasan yang sudah ditetapkan sebagai daerah wisata, di antaranya kawasan lereng Merapi bagian selatan dan sekitarnya; kawasan Prambanan-Ratu Boko dan sekitarnya;
kawasan Godean-Moyudan dan sekitarnya; kawasan Keraton-Malioboro dan sekitarnya; kawasan Kasongan-Tembi-Wukirsari dan sekitarnya; kawasan Parangtritis-Depok-Kuwaru dan sekitarnya; kawasan Baron-Sundak dan sekitarnya; kawasan Siung-Wediombo-Bengawan Solo Purba dan sekitarnya; kawasan Patuk dan sekitarnya; kawasan kars Gunung Sewu dan sekitarnya; kawasan Congot-Glagah dan sekitarnya; dan kawasan Pegunungan Menoreh dan sekitarnya.
Dispar DIJ, lanjut Imam, sudah menyusun program pengembangan dan strategi pengembangan tiap kawasan. Persiapan sudah dilakukan sejak tahun lalu, sehingga diharapkan tiap kawasan bisa melakukan kegiatan yang signifikan untuk menarik destinasi wisatawan, terutama jika nanti pada 2020 bandara baru sudah dibuka.
Di tempat yang sama, Condroyono dari Jogja Tourism Training Center UGM mengatakan, sebenarnya yang dibutuhkan DIJ adalah event-event budaya. Saat ini, event reguler yang ada di DIJ, hanya Sendratari Ramayana di Prambanan. Sedang untuk event lain, seperti wayang atau gelaran musik, sulit ditemui. “Saya kalau ditanya di mana mau nonton musik keroncong, jawab saja kalau siang di soto sulung, malam di bakmi Kadin,” sindirnya.
Menurut dia, hal itu berbeda dengan di Bali. Jika ingin melihat pertunjukan tari barong, tinggal mencari lokasi terdekat, karena hampir di setiap kota terdapat pertunjukan. Untuk itu, Condro mengusulkan dibuatnya buku pintar yang berisi panduan event wisata dan budaya, hingga ketersediaan kamar hotel dan restoran di DIJ, termasuk untuk harganya. Hal itu dinilainya penting, supaya wisatawan tidak terkecoh. “Satu hal saja mengecewakan wisatawan, beribu hal akan hilang,” ungkapnya.(pra/jko/ong)