BUTUH BANTUAN:Galih Erga Bahtiar hanya bisa berbaring di kasur ditemani ibunya Nisca Evaliani

Setiap Bulan Harus Jalani Perawatan di Rumah Sakit karena Patah Tulang

Malang nian penderitaan Galih Erga Bahtiar. Balita ini menderita Osteogenesis Imperfecta (kelainan bawaan berupa pengeroposan tulang) sejak dilahirkan tiga tahun lalu. Erga sangat mudah mengalami patah tulang hanya karenahal-hal sepele.
YOGI ISTI PUJIAJI, Minggir
MENANGIS dan meronta, hanya itulah yang bisa dilakukan Erga untuk menunjukkan rasa sakit yang dideritanya. Kaki kanannya masih dibebat kain coklat lantaran baru saja dioperasi, sedangkan di siku tangan kirinya masih tampak perban putih yang menan-dakan bekas luka. Erga mengalami patah tulang pada lutut kanan hanya lantaran terbentur ringan pada sisi meja.
Bahkan, saat tulang tangan atau kakinya berbenturan sedikit saja dengan tangan atau kaki saudaranya, Erga harus menjalani operasi patah tulang. Bahkan, hanya sekedar menopang tubuhnya dengan dua tangan, tulang lengannya bisa patah.Ancaman patah tulang juga bisa terjadi jika Erga terlalu banyak bergerak.
Hampir tiap bulan, putera kedua pasangan Suparyanto dan Nisca Evaliani, harus menjalani pera-watan di rumah sakit karena patah tulang. Untuk biaya perawatan dokter dan rumah sakit Erga, Suparyanto hanya bisa meng-andalkan jaminan kesehatan dari BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Tapi, setiap bulan, Suparyanto masih butuh uang jutaan rupiah untuk menebus obat Erga yang tak ter-cover BPJS.
Penghasilan-nya sebagai peternak kambing tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan berobat Erga. Warga Ngijon, Sendangarum, Minggir itu berharap lebih adanya perhatian pemerintah demi pengobatan anaknya. Selama ini, untuk menebus obat, Suparyanto selalu mengandal-kan sumbangan dari tetangga secara iuran.
“Setiap saat bisa patah tulangnya, ringan atau berat, hingga dioperasi di rumah sakit,” tutur Nisca yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.
Semula, dua orang tua Erga tak menyangka anaknya bakal mengalami kelainan tulang.Perasaan aneh dialami Nisca saat usia ke-hamilannya mencapai delapan bulan. Saat itu, Nisca tak merasakan adanya aktivitas dalam kandungannya. Setelah Erga di-lahirkan, dokter mendeteksi adanya tulang patah di dua bagian
.Erga sempat ditangani oleh dokter RSUD Sleman (Morangan). Tak berapa lama, Erga lantas dirujuk ke RSUP Dr Sardjito yang memiliki peralatan lebih lengkap. Nah, saat perjalanan menuju Sardjito, ada bagian tulang lain yang juga patah hanya karena goncangan di mobil. “Tentu saja kami berharap penyakit Erga segera sembuh supaya bisa beraktivitas seperti anak-anak lain seusianya,” tutur Amirudin, kepala Dukuh Ngijon.
Osteogenesis Imperfecta termasuk kasus langka. Dalam kurun 10 tahun terakhir, ter-catat hanya ada 15 pasien dengan kasus serupa, yang dirawat di RSUP Dr Sardjito. Dokter Ahli Ortopedi Sugeng Yuwono menuturkan, kelainan tulang seperti yang diderita Erga lebih banyak merupakan kasus bawaan lahir, yang tak ada kaitannya dengan asupan gizi atau kalsium pada masa kehamil-an ibu. Kelainan tersebut ditandai dengan kelahiran berwarna biru dan patah tulang di berbagai titik.
“Penderita mengalami kelainan pada Colagen tipe 1-nya, sehingga tulangnya mudah patah,” paparnya.Penanganan pertama pada bayi yang mengalami Osteogenesis Imperfecta berupa manipulasi secara eksternal menggunakan gibs. Itu untuk menghindari kecacatan.Guna mencegah hal-hal yang tak diingin-kan, Sugeng menyarankan pada ibu-ibu hamil agar lebih rajin memeriksakan kandungannya ke dokter.
Agar jika ada kelainan pada kan-dungannya bisa terdeteksi sejak dini. Dengan begitu, dokter bisa melakukan langkah-langkah antisipasi untuk penanganannya.Bagi orang tua balita pengidap Osteogenesis Imperfecta , Sugeng mengimbau agar lebih hati-hati dalam memperlakukan dan men-jaga anaknya. Obat dan terapi tulang tetap harus dilakukan secara rutin. (din/ong)