KULONPROGO – Hingga Oktober ini (2015), di Kulonprogo sedikitnya sudah ditemukan 108 kasus Demam Berdarah (DB), dengan dua penderita meninggal dunia. Jumlah ini kemungkinan masih akan bertambah, mengingat saat ini merupakan musim pancaroba atau peralihan dari kemarau ke penghujan, dan segera masuk penghujan.
Kasi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kulonprogo Slamet Riyanto menyatakan, belakangan ini kasus demam berdarah ditemukan di Pedukuhan Terbah, Wates dan di Sideman, Giripeni, Wates.
“Kebetulan dua lokasi ini merupakan daerah endemis demam berdarah, dan saat ini sudah defogging,” ujar Slamet, panggilan akrabnya.
Ditambahkan, penyebab DB, kondisi saat ini
diketahui telah terjadi vector tranfortarium, yakni dari nyamuk yang telah terkontaminasi mewariskan kepada generasi setelahnya. “Artinya, begitu telur menetas, dipastikan ikut menjadi vector DB. Terlebih 2015 ini tepat siklus lima tahunan kasus DB, sehingga patut diwaspadai,” ujarnya.
Diakui, pada tahun 2015 ini, ditemukan kasus yang melonjak dibanding beberapa tahun sebelumnya. Bahkan sampai dengan bulan Oktober sudah ada 108 kasus. “Mudah-mudahan tahun ini tidak ada yang meninggal dunia,” imbuhnya.
Sebagai upaya memutus mata rantai DB, sejak awal telah dilakukan sosialisasi di masyarakat terkait pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang harus terus digiatkan.
Terkait ketersediaan anggaran untuk fogging, tahun ini masih ada 3 alokasi fogging. Pada anggaran murni 2015 dianggarkan 12 kali dan sudah dilaksanakan 9 kali. Sedangkan pada APBD perubahan kembali diberikan alokasi 4 lokasi. “Sehingga tinggal tujuh kali fogging,” ungkapnya.
Anggota Komisi IV DPRD Kulonprogo, Edi Priyono, meminta eksekutif agar mengantisipasi kasus DB secara dini sebelum merebak. Terlebih tahun ini bertepatan dengan siklus rutin lima tahunan. “Kami juga komiten dalam pembahasan anggaran untuk penanganan penyakit,” haraonya. (tom/jko/ong)