GUNTUR AGA TIRTANA/Radar Jogja

Sajikan Topeng Heritage, Kontemporer, hingga Kekinian

Untuk kali pertama, Museum Negeri Sonobudoyo Jogjakarta menggelar pameran topeng. Dengan tema The Power of Topeng, sedikitnya 95 koleksi topeng khas nusantara digeber, mulai dari topeng khas Jawa, Madura, Bali hingga Lombok dengan beragam karateristik. Berikut laporannya.
DWI AGUS, Jogja
MEMASUKI ruang pamer Museum Negeri Sonobudoyo, tepatnya di lantai 1 dan 2, pengunjung akan disuguhi ragam sejarah topeng. Pameran yang berlangsung hingga 29 November ini, ratusan topeng tersaji di tembok-tembok pameran lengkap dengan narasi cerita. Pemberian narasi, agar pengunjung dapat mengetahui sejarah setiap topeng nusantara ini.
“Topeng merupakan salah satu unsur terkuat kebudayaan nusantara, termasuk di Jogjakarta. Beragam tarian klasik maupun tradisi ada yang berpijak pada topeng. Bahkan untuk sebuah karya kreasi baru Dwimuka karya Didik Nini Thowok juga berpijak pada topeng,” kata Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono di sela pembukaan pameran, Jumat pagi (20/11).
Umar menjelaskan, topeng sangat erat dengan ragam kesenian Indonesia. Mulai dari seni rupa, hingga kolaborasi dengan seni tari. Bahkan sejak zaman nenek moyang, topeng juga identik dengan sebuah ritual.
Seiring perjalanan waktu, dinamika topeng bergeser. Hingga saat ini perwujudannya sebagai seni pertunjukan. Namun dalam beberapa kesempatan menjadi wujud hiburan. Ini terlihat dengan banyaknya ragam topeng pahlawan khas anak-anak.
“Konsep pameran ini sangat bagus, karena terbagi menjadi beberapa klasifikasi. Menyajikan topeng heritage, kontemporer, dan popular di lantai yang berbeda. Kita bisa menikmati ragam sejarah topeng di lantai 2. Lalu di lantai 1, bisa melihat dinamika topeng saat ini,” ungkapnya.
The Power of Topeng sifatnya temporer. Pasalnya topeng-topeng yang dipamerkan merupakan koleksi Museum Negeri Sonobudoyo. Sehingga tetap bisa dilihat meski pameran telah berakhir.
Untuk mendukung pameran ini, Sonobudoyo menyajikan sekitar 95 koleksi topengnya. Topeng-topeng tersebut berasal dari beberapa penjuru nusantara. Bahkan topeng koleksi seniman tari Didik Nini Thowok juga turut dipamerkan dalam ajang ini.
“Kalau untuk koleksi topeng, Museum Negeri Sonobudoyo memiliki sekitar 800 topeng. Sedangkan yang dipamerkan ini hanya sebagian kecil. Dengan adanya pameran ini, kami berharap masyarakat, khususnya generasi muda mengetahui sejarah seni budaya melalui topeng-topeng ini,” harap Kepala Museum Negeri Sonobudoyo, Dra Riharyani.
Selain menyuguhkan topeng, pameran ini juga akan diisi dengan beragam workshop. Salah satunya workshop membuat topeng. Kegiatan ini, melibatkan seniman dan empu yang ahli dalam membuat topeng.
Kurator pameran I Wayan Dana menilai konsep ini memancing interaktif pengunjung. Sehingga tidak hanya melihat produk jadi sebuah topeng. Namun mengetahui tahapan dan proses pembuatan sebuah topeng.
“Topeng tidak hanya dikenakan sebagai penutup wajah. Tapi dalam sejarah nenek moyang kita, topeng memiliki beragam filosofi dan nilai-nilai. Baik itu dilihat sebagai seni rupa atau menjadi bagian dari seni tari. Kita sebagai generasi penerusnya wajib tahu tentang ini,” pungkasnya. (jko/ong)