LIANG SUDAH ADA:Juru Kunci Makam Girigondo Mas Wedana Wasiluddin, 64.
SAMA seperti empat adipati Paku Alam sebe-lumnya, jenazah KGPAA Paku Alam IX Ambar-kusumo juga akan dimakamkan di Kulonprogo, tepatnya di pemakaman Astana Girigondo. Juru Kunci Makam Girigondo Mas Wedana Wasiluddin, 64, mengungkapkan, dirinya telah mendapat perin-tah dari keluarga PA IX
“Saya tadi ditelepon sekitar pukul 15.30. Saya diminta menyiapkan segala keperluan untuk prosesi pemakaman di Kompleks Astana Girigondo,” ung-kapnya kemarin (21/11).Diterangkan, lokasi makam PA IX berada di sisi barat kompleks Girigondo. Tepatnya, di sebelah makam mendiang istrinya, Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati (GKBRAAd) Paku Alam IX tidak jauh dari masjid yang ada di kompleks Girigondo.
Permaisuri PA IX yang sebelumnya bergelar BRAy Koesoemarini telah me-ninggal dunia pada 19 November 2011 silam. Lokasi makam yang ditempati PA IX ini berada di bawah kompleks utama Girigondo atau terpisah dengan makam empat adipati Paku Alam sebelumnya.Yakni makam PA V, PA VI, PA VII, dan PA VIII.
Sedangkan makam PA I, PA II, PA III dan PA IV berada di Makam Raja-Raja Mataram Kotagede. PA IX yang semasa mudanya bernama KPH Ambarkusumo ini merupakan putra sulung Paku Alam VIII dari garwa dalem KRAy Purnamaningrum. “Liangnya sudah ada, sudah disiapkan sejak dulu. Sehingga tinggal membongkar pasirnya tidak lebih dari satu jam selesai,” terangWasilludin yang juga Takmir Masjid Girigondo
Menurut Wasilludin, sesuai tradisi, biasanya jenazah disalatkan terlebih dulu di masjid tersebut. Prosesinya terbuka untuk umum. Biasanya banyak warga yang datang ikut mensalatkan dan mendoakan. “Setelah itu jenazah dibawa ke atas untuk dimakamkan,” ungkapnya.Ditambahkan, saat ini (tadi malam) dirinya tengah mengumpulkan sedi-kitnya 19 orang abdi dalem. Mereka berbagi saling tugas. Mulai menyiapkan liang lahat, menyiapkan keranda, dan perlengkapan lainnya. Termasuk me-masang lampu penerangan.”Kemungkinan dimakamkan besok (hari ini). Saya juga baru mendapat mandat melalui telepon. Belum ada keluarga atau kerabat Paku Alam IX yang datang ke sini,” tandasnya.
Seperti diketahui, Astana Girigondo terletak di Dusun Girigondo, Desa Kaligintung, Temon, Kulonprogo. Di atas puncaknya merupakan kompleks pemakaman Paku Alam V, Paku Alam VI, Paku Alam VII dan Paku Alam VIII. Makam Girigondo dulu bernama Gunung Keling. Makam keluarga Pakualaman itu dibangun di era Paku Alam V. Kondisi awalnya, makam, masih berbentuk pegunungan dengan kemiringan yang cukup terjal.
Orang pertama yang menerima pe-rintah adalah Distrik Wonodirjo, yang makamnya berada di sisi timur Bangsal Umum. “Yang dimakamkan di Makam Girigondo terakhir yakni Paku Alam VIII pada 12 September 1998. Undak-undakan jalan menuju ke makam ini, baru dibangun sekitar 1930,” jelasnya.
Diceritakan, 1960-1990 orang yang berziarah ke Girigondo sangat banyak. Dalam sehari jumlahnya mencapai ribuan orang.Namun seiring perkembangan waktu, Makam Girigondo sebagai tempat wisata religi harus bersaing dengan tempat wisata lainnya di Kulonprogo. Salah satunya Pantai Glagah Indah.”Wisata religius kemudian kalah deng-an wisata pantai dan wisata hiburan. Yang rajin datang ke sini, selain kerabat Pakualaman juga para pejabat di DIJ usai dilantik. Biasanya mereka berziarah ke makam Girigondo,” terang Wasiluddin yang menjadi juru kunci sejak 1982 atau juru kunci generasi ke empat Makam Girigondo. Makam Girigondo luasnya mencapai 10 hektare.
Tempatnya tenang dan nyaman. Kerabat Pakualaman saat berizarahbiasanya mengawali dengan singgah ke Masjid Pakualaman untuk salat. Selanjutnya menuju makam. Sebelum menjadi masjid, semula merupakan rumah untuk transit. Baru pada 1920-an, rumah tersebut diubah menjadi masjid sampai sekarang.
Se-rambi masjid masih asli yang asalnya dari daerah Gentan sisi Desa Bendungan, Temon.Sudah beberapa kali masjid direnovasi. Kini, Masjid Pakualaman sudah menjadi satu kesatuan dengan kompleks Makam Girigondo.Di depan pusara para adipati Pakualaman dan kerabat Pakualaman lainnya, peziarah dibimbing juru kunci untuk membaca kalimat toyibah, tahlil, zikir kemudian berdoa sebelum nyekar (tabur bunga).
Setelah prosesi itu selesai, jika masih memiliki waktu luang, biasanya akan kembali ke bangsal sekadar duduk-duduk. “Momen itulah yang disebut mirunggan, setelah tenang baru kemudian turun dan pulang,” bebernya. (tom/jko/ong)