GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
RAMAH: Paku Alam IX saat menyapa ribuan warga pada kirab pernikahan agung Keraton Jogja (23/10/2013) dari Kompleks Keraton hingga Kepatihan

Mantan Nakhoda Kapal, Kuasai Berbagai Bahasa

Sosok mendiang Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam IX dikenal sebagai seorang yang cerdas dan keras kepala. Pengalamanya menjadi nakhoda kapal, membuatnya pernah berkeliling lima benua dan tujuh samudera.
HERU PRATOMO, Pakualaman
MENDUNG yang menggelayuti Jogja sejak Sabtu siang (21/11) seperti mewakili suasana duka masyarakat Jogja yang ditinggal oleh Adipati Pakualaman sekaligus Wakil Gubernur DIJ. Hingga kemarin petang, saat jenazah tiba di Puro Pakualaman, beberapa kerabat dan tokoh masyarakat Jogja sudah datang melayat.Ketika ditanyai pendapat mereka tentang sosok PA IX, kekaguman yang terlontar.
Seperti yang diceritakan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Condrokusumo yang me rupakan adik kandung PA IX. Penghageng Ka wedanan Sentono Puro Pakualaman itu mengisahkan tentang PA IX yang low profile dan suka bergaul dengan masyarakat. “Dari kecil beliau memang suka main ke desa, ketemu masyarakat. Beliau juga sering mengundang masyarakat ke Puro,” ujarnya.Selain itu, adik keenam PA IX tersebut juga teringat tentang hobi kakaknya naik sepeda motor
PA IX senang motor trail. Ter-kait kesukaanya mengendarai motor, Kanjeng Condro berkisah pernah putra-putranya mem-preteli motor PA IX agar tak digunakan lagi. “Sama putro-putro motor dirusak, supaya tidak dipakai lagi, beliau memang keras kepala,” ujarnya.
Selain itu mendiang juga suka naik mobil Jeep.Bahkan setelah sakit kakinya, PA IX masih sering mengendarai mobil sendiri. Waktu sudah sakit dan memakai tongkat pun PA IX masih mengen-darai mobil sendiri. Mobil yang biasa dipakai, jelas Kanjeng Condro, adalah Suzuki Katana.
Selain otomotif, kesukaan PA IX lainnya adalah merokok. Menurut Kanjeng Condro, dulu ayahandanya PA VIII tidak me-rokok. Setelah sakit pun PA IX masih merokok, meski hanya rokok mild. Padahal, lanjut dia, rokok PA IX dulu adalah cerutu. Ini tak lepas karena almarhum dulu juga menjabat Dirut BUMD Tarumartani, perusahaan pem-buatan cerutu. Sepengetahuannya, dulu PA IX juga membina petani tembakau di Sorogedung, dekat Prambanan. “Sebelum jumeneng (diangkat menjadi PA IX) belaiu sering berkunjung ke Sorogedung itu,” jelasnya.
Untuk makanan favorit, sepeng-etahuannya, PA IX yang pernah mengenyam pendidikan di UGM meski tidak lulus, suka semua makanan. Termasuk sate, meski sudah sering kontrol ke rumah sakit. “Beliau nek dilekke mboten kerso (kalau diingatkan tidak mau),” ujarnya.
Sebelum akhirnya menjadi Wagub DIJ, Kanjeng Condro mengisahkan, kakaknya pernah 21 tahun bekerja sebagai nak-hoda kapal di Soedarpo Corpo-ration. Pengalamanya itu mem-buat pria dengan nama asli BRM Ambarkusumo tersebut memi-liki pengalaman mengaruhi lima benua dan tujuh samudera. Hal itu yang juga membuatnya men-guasai berbagai bahasa. “Beliau pernah bilang, yang tidak bisa hanya bahasa Tiongkok dan Arab,” ungkapnya.
Penguasaan berbagai bahasa tersebut juga diakui oleh kerabat Keraton Jogja GBPH Prabuku-sumo. Ditemui ketika melayat ke Puro Pakualam, Gusti Prabu mengaku mengagumi keahlian PA IX tersebut. Bahkan PA IX juga memiliki lisensi guide in-ternasional. “Pengakuan tentang beliau itu sudah secara interna-sional,” jelasnya.Selain itu, mendiang juga di-kenangnya sebagai pribadi yang suka humor, tapi juga bisa se-rius. “Beliau itu suka gojek, bisa santai dan juga serius, meski usianya sudah sepuh,” ujarnya.
Bahkan ketika diingatkan tentang kebiasaan merokok, lanjut Ketua KONI DIJ ini, PA IX hanya gu-mujeng.Pertemuan terakhirnya dengan PA IX, terjadi di kantor Wagub DIJ, Komplek Kepatihan bebe-rapa minggu lalu. Saat itu, Gus-ti Prabu mengaku sowan untuk konsultasi tentang situasi di Keraton.
Tapi, Gusti Prabu me-nolak menerangkan hasil per-temuan. Terkait suksesi di Puro Pa-kualam, Gusti Prabu menga-presiasi langkah PA IX yang sudah mengangkat Kanjeng Bendoro Pangeran Hario (KB-PH) Suryodilogo sebagai pu-tera mahkota. Menurut dia, langkah itu seperti yang dila-kukan raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VII yang mengangkat putera mahkota sebagai HB VIII.
Pihaknya juga mengharapkan setelah masa berkabung 40 hari, Puro Pakualaman bisa melakukan jumenengan dengan mengangkat KBPH Suryodilogo sebagai PA X. Hal itu juga supaya tidak ada kekosongan jabatan Wagub DIJ. “Supaya kekosong-an Wagub segera terisi, karena gubernur dan Wagub itu punya tugas masing-masing,” ujarnya.
Di mata anak buahnya, PA IX juga dikenal sebagai pribadi yang bersahaja dan tidak membeda-bedakan. Kepala Badan Peren-canaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIJ Tavip Agus Rayanto menceritakan pernah disopiri Wagub, saat ada rapat kerja di Magetan, Jawa Timur. “Beberapa tahun lalu, beliau nyetir sendiri dari Jogja ke Ma-getan lewat Tawangmangu, saya duduk di belakang. Beliau tidak pernah membeda-bedakan,” kenang Tavip. (laz/ong)