Satu jam setelah ada jumpa pers di Pura Pakualaman, kegiatan senada dilakukan Himpunan Kerabat dan Kawula Pakualaman (HKPA) Notokusumo. HKPA selama ini merupakan organisasi keluaraga Pakualaman yang mendukung KGPAA Paku Alam IX Anglingkusumo
“KAMI keluarga besar KGPAA Paku Alam IX Al-Haj-Anglingkusumo me-nyatakan rasa bela sungkawa yang sebesar-besarnya atas wafatnya kelu-arga kami, yakni KPH Ambarkusumo,” ungkap Ketua HKPA Notokusumo KPH Wiroyudho saat memberikan keterangan pers di kediaman Paku Alam IX Anglingkusumo di Jalan Harjowinatan Pakualaman, tadi malam (21/11).
Kediaman Paku Alam IX Angling-kusumo dengan Paku Alam IX Ambar-kusumo sama-sama berada di Jalan Harjowinatan. Rumah keduanya hanya dipisahkan satu rumah. Paku Alam IX Anglingkusumo ada di sisi utara, dan PA IX Ambarkusmo ada di selatannya.Wiroyudho mengatakan, meski KPH Ambarkusumo telah wafat, sampai sekarang pihaknya tetap tidak mengakui kedudukannya sebagai Paku Alam IX yang sah. Bahkan HKPA Notokusumo bersama keluarga besar Pakualaman lainnya menentang jika ada upaya dari pihak-pihak tertentu hendak menobatkan RM Wijoseno Hario Bimo sebagai Paku Alam X. “Karena KPH Ambarkusumo bukan merupakan Paku Alam IX yang sah,” ulang manggalayudha prajurit Pakualaman ini.
Sejak awal 2012 lalu, PA IX Ambar-kusumo telah mengangkat putra su-lungnya RM Wijoseno Hario Bimo sebagai putra mahkota dengan gelar Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo (KBPH) Suryodilogo.Lebih jauh dikatakan, dengan rasa persaudaraan, maka laporan HKPA ke Bareskrim Mabes Polri terkait dengan dugaan penggunaan ijazah palsu KPH Ambarkusumo selama menjabat Wakil Gubernur DIJ periode 2001-2015 tidak akan dilanjutkan. Meski telah memasuki tahap penyi-dikan, perkara tersebut dihentikan demi hukum, karena terlapor telah meninggal dunia. “Khusus laporan penghinaan dan fitnah yang kami terima dari kubu almarhum KPH Ambar-kusumo, tetap akan kami lanjutkan,” tegasnya.
Polemik dua adipati Paku Alam ini sebagai imbas suksesi Pakualaman pascawafatnya Paku Alam VIII pada 11 September 1998.KPH Ambarkusumo yang lahir dari garwa dalem (istri) Paku Alam VIII, KRAy Purnamaningrum dinobatkan sebagai Paku Alam IX pada 26 Mei 1999.Penobatan itu ditentang oleh putra-putri Paku Alam VIII yang terlahir dari garwa dalem KRAy Retnaningrum. Dari kedua istrinya Paku Alam VIII masing-masing memiliki delapan anak (wolu sisih) sehingga seluruhnya ber-jumlah 16 orang.Sebagai sikap penolakan itu, sejak awal penobatan KPH Ambarkusumo ditolak lima saudara laki-lakinya, putra KRAy Retnaningrum.
Puncak dari perebutan takhta itu, pada 15 April 2012, KPH Anglingkusumo oleh Masya-rakat Adikarto Kulonprogo dan sejumlah ulama setempat dikukuhkan sebagai Paku Alam IX di Pendapa Pantai Glagah. Sejak 2012 itu muncul Paku Alam kembar di kadipaten yang didirikan berdasarkan perjanjian Pangeran Noto-kusumo dengan Gubernur Jenderal Inggris Thoma Stamford Raffles 17 Maret 1813. Notokusumo berhak menyandang gelar KGPAA Paku Alam I dengan wilayah di utara pantai urut sewu atau Karangkemuning atau sisi selatan Kulonprogoro sekarang. Nama dae-rahnya adalahKabupaten Adikarta. (riz/kus/jko/ong