Kepergian KGPAA Paku Alam IX membekas sedih di semua kalangan. Tidak hanya warga, sejumlah tokoh, menteri, mantan wakil presiden, hingga pejabat pemerintah, juga turut berduka saat saat hadir dalam persemayaman terakhir di Bangsal Sewatama Pura Pakualaman, kemarin.
Mantan Wapres Boediono menyempatkan diri bertakziah Pura Pakualaman sekitar pukul 09.15. “Beliau sosok yang sangat santun. Sebagai sosok aristokrat, saya sering bertemu beliau saat saya menjabat wapres. Jadi kalau saya kembali ke Jogja, sering bertemu beliau,” katanya kepada wartawan.
Ketua MUI Din Syamsuddin juga punya kesan tersendiri dengan almarhum. “Beberapa kali bertemu dalam suasana yang sangat akrab. Termasuk ketika bertemu di Madinah, beliau melaksanakan ibadah umrah, saya juga umrah. Walaupun berbeda rombongan, namun akrab,” ujar Din.
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini juga menilai PA IX mempunyai visi membangun daerah dengan karakter luhur. “Selama menjadi wagub, saya menyaksikan beliau tokoh dan pemimpin yang egaliter,” katanya.
Din juga mengenal PA IX sebagai seorang yang bersahabat dan mudah akrab dengan orang lain. “Dia raja tapi mudah akrab. Saat pertemuan dan bincang-bincang, beliau sangat bersahabat,” katanya.
Di tempat yang sama, Menag Lukman Hakim Syaifuddin menganggap PA IX seperti orang tua yang selalu mengayomi. “Beliau orang tua kita. Saya merasa kehilangan atas kepulangan beliau. Tokoh yang mengayomi, dekat dengan anak muda, humoris dan mudah cair dengan siapa saja,” ungkapnya.
Kesederhanaan PA IX juga terekam oleh Wakil Ketua DPRDDIJArif Noor Hartanto. Menurut pria yang akrab disapa Inung ini, sosok PA IX selalu menginpirasi jajaran pemerintah dan warga. Tidak pernah menjaga jarak, dan tak ragu untuk memulai sebuah dialog.
Dikatakan, meski terlahir sebagai seorang ningrat, PA IX dikenal sebagai sosok yang sederhana. PA IX juga selalu menginpirasi jajaran pemerintah dan warga. Tidak pernah menjaga jarak, dan tak ragu untuk memulai sebuah dialog.
“Saat dulu saya menjadi ketua DPRD Kota Jogja, beliau memang terkenal dekat dengan semua jajaran. Sangat bersahaja, jauh dari hiruk pikuk pencitraan diri. Sering ketemu dan ngobrol di gedung dewan saat rapat paripurna,” kata Inung.
Sebagai sosok Wakil Gubernur, PA IX juga tidak menanggalkan kesan sebagai Raja Pakualaman. Mampu menjadi pemimpin kultural dalam kehidupan di Jogjakarta. Bahkan kedekataannya dengan masyarakat kelas bawah tak diragukan lagi.
Salah satu hal yang paling membekas di benak Inung adalah PA IX kerap melakukan blusukan. Terutama untuk melihat sejauh mana perkembangan pertanian di Jogjakarta. Pemikirannya adalah menjadikan ketahanan pangan sebagai alas bagi ketahanan yang berikutnya.
“Beliau memandang pentingnya kultur agraris di Jogjakarta. Pesan beliau yang selalu saya ingat, sek penting aku ngerti sing masyarakat rasake. Dan ini bukti komitmen beliau memajukan masyarakat agraris sangat tinggi,” kenangnya.
Kenangan tentang PA IX juga membekas di benak Kepala Dinas Pariwisata DIJ Aris Rianta. Baginya, PA IX sangat merakyat dan terbuka sebagai sosok pemimpin. Mampu berdiskusi meski dengan jajaran SKPD yang jauh lebih muda dari PA IX.
Dalam berbagai kesempatan, Aris selalu terkesan akan sosok PA IX. Terutama dalam sebuah forum untuk menyampaikan pikiran dan gagasan. Berbagai masukan pun pernah diterima oleh Aris selaku Kepala Dinas Pariwisata DIJ.
“Peluang untuk diskusi itu sangat terbuka sekali. Sederhana, tidak menjaga jarak, bahkan pernah mengajak ke kediaman beliau. Ayo ning nggonaku, kowe cerita opo ben aku ngerti nek aku nduwe gagasan. Ini yang selalu saya ingat dan membuat beliau sangat dihormati,” kesan Aris.
Wakil Wali Kota Jogja Imam Priyono mengaku kagum akan sosok PA IX. Selain sederhana, kejujuran almarhum sangatlah menginspirasi. Dalam melakoni profesi sebagai wagub, Imam mengenal PA IX sebagai sosok yang greteh.
Artinya kerap melakukan kunjungan langsung ke masyarakat. Seperti ke pasar hingga menyusuri jalanan Jogjakarta untuk menyaring aspirasi masyarakat. Jika menemukan kekurangan langsung melaporkan ke kepala SKPD terkait.
Kesan lain yang teringat adalah kesederhanaan PA IX. Ini tercermin dari kendaraan dinas yang dikenakan. Meski mendapatkan jatah mobil dinas, sepengetahuan Imam, PA IX memilih menggunakan kendaraan pribadi. Bahkan kendaraan ini sangatlah sederhana untuk seorang Paku Alam IX.
“Tidak pernah meminta perlakukan khusus, bahkan sering menyopiri sendiri. Ketika saya tanya kepada Sri Paduka, jawabannya agar lebih dekat dan tidak menciptakan jarak kepada rakyatnya,” kata Imam. (dwi/riz/ong)