JOGJA – Sesaat sebelum jenazah PA IX diberangkatkan ke pemakaman Astana Girigondo, Kulonprogo, kemarin digelar upacara adat di depan jenazah. Yaitu dibacakannya deklarasi KBPH Suryodilogo sebagai putra mahkota menggantikan kedudukan PA IX berdasarkan aturan Paku Alam.
Dalam upacara yang diadakan di Bangsal Sewotomo Pura Pakualaman, KPH Jurumartani membacakan dhawuh (perintah) dari Pengageng Kawedanan Ageng Kasentanan Kadipaten Pakualaman KPH Condrokusumo. Dalam deklarasi yang dibacakan dalam bahasa Jawa ini, KBPH Suryodilogo anglintir keprabon (ditunjuk melanjutkan takhta kepemimpinan) di Pakualaman.
“Penunjukan ini berdasarkan adat dan paugeran di Pura Pakualaman,” kata Ketua Trah Pakualaman Hudyana KPH Kusumoparastho. Menurutnya, KBPH Suryodilogo ditunjuk mewarisi kedudukan Adipati, karena posisinya yang juga merupakan Pangeran Pati atau putera mahkota.
Meskipun demikian, KBPH Suryodilogo tidak otomatis menjadi Paku Alam X. Menurut Kusumoparastho, untuk menjadi PA X perlu upacara jumenengan (penobatan). “Hanya deklarasi, bukan penobatan menjadi PA X,” lanjutnya.
Dalam Undang-Undang Keistimewaan (UUK )DIJ disebutkan bahwa adipati yang bertakhta adalah yang berdasarkan paugeran, yakni telah diangkat sebagai putra mahkota dan putra mahkota dinobatkan menjadi adipati melalui proses jumenengan oleh pinisepuh yang menyematkan bintang, kemudian dilanjutkan dengan kirab.
Penunjukan KBPH Suryodilogo yang sudah ditetapkan sebagai putera mahkota sejak 2012 itu, juga sama dengan hasil kesepakatan rapat keluarga dan sentana sepuh Puro Pakualaman, Sabtu (21/11). Dalam rapat untuk menyikapi sakitnya PA IX tersebut, perlu kepemimpinan pelaksana harian untuk kegiatan internal di Puro Pakualaman.
KBPH Suryodilogo saat dimintai kesannya tentang sosok almarhum ayahandanya, KGPAA Paku Alam IX, maupun telah ditunjuknya dia untuk melanjutkan takhta kepemimpinan di Pura Pakualaman, belum bersedia berkomentar.
“Mohon maaf, saya belum bisa menjawab, dari pada salah,” kata Suryodilogo yang juga Kepala Biro Kesra Setprov DIJ itu. Pria yang akrab disapa Romo Bimo ini, sesuai paugeran tidak mengantarkan jenazah ayahnya hingga ke pemakaman, dan hanya melepas di Ndalem Ageng.
Sementara itu, salah seorang kerabat Pura Pakualaman RM Donny Mega Suara menambahkan, nantinya proses jumenengan masih akan menunggu masa berkabung selesai. Diakuinya, ada kelompok kerabat yang menolak pengangkatan itu.
Meski demikian, hal itu tidak memengaruhi.‎ “Boleh ada orang yang berpendapat dan mengklaim sebagai Paku Alam, tapi biar nanti rakyat yang menentukan,” ujarnya.
Sementara itu, kerabat Keraton Jogja GBPH Prabukusumo mengapresiasi paugeran di Kadipaten Pakualaman yang masih dipakai. Gusti Prabu yang sudah terlihat di Puro Pakualaman sejak Sabtu sore itu mengaku sudah berbicara dengan KBPH Prabu Suryodilogo dan meminta agar sifatnya sama dengan ayahnya, dan jangan sampai berubah.
“Bahkan harus lebih baik dan lebih dekat dengan siapa pun. Karena yang membedakan kita dengan siapa pun adalah ketaqwaan kita kepada Allah SWT,” tutur rayi dalem Sultan HB X ini. (pra/laz/ong)