ZAKKI MUBAROK- YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
ANARKHIS: Sebuah motor dibakar massa di Lapangan Trirenggo, Bantul dan sebuah mobil dirusak di Jalan Damai Prujakan, Sinduharjo, Ngaglik.
SLEMAN- Sejumlah pelanggaran mewarnai kampanye terbuka pasangan calon bupati-wakil bupati Sri Purnomo-Sri Muslimatun kemarin (22/11). Di antaranya tertangkap tangan membawa senjata tajam (sajam) dan perusakan sebuah mobil di Jalan Damai, Prujakan, Sinduharjo, Ngaglik.
Dua simpatisan ditangkap polisi.
Mereka mengaku bernama Heri Bendhol, warga Mranggen, Sinduadi, Mlati dan Tendy, asal Bantulan. Keduanya ditangkap saat konvoi dengan sepeda motor belombongan. Satu di antaranya membawa parang sepanjang 75 cm, tersangka lain menenteng pipa besi yang bagian ujungnya berupa gir bergerigi.
Sempat terjadi chaos saat dua tersangka digiring menuju pos polisi Denggung. Puluhan simpatisan lain lantas mengejar polisi yang mencokok dua tersangka. Beberapa tampak mengambil batu yang tersebar di sekitar area kampanye. Namun, massa yang berkerubung bisa dihalau oleh anggota Shabara Polres Sleman dan Sat Brimob Polda DIJ. “Yang tidak tahu masalahnya jangan mendekat,” sergah seorang anggota Brimob berpangkat brigadir dengan suara lantang.
Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnain menyesalkan peristiwa tersebut. Selanjutnya, Kapolres memerintahkan jajarannya untuk sweeping peserta kampanye. Razia dipusatkan di simpang empat Denggung. Dari ratusan simpatisan, polisi berhasil mengamankan pisau dapur, pia besi, dan puluhan tongkat. “Tak ada toleransi bagi pembawa sajam. Tersangka akan kami proses secara hukum,”tegasnya.
Kapolres menduga, ditemukannya sajam menunjukkan adanya indikasi keinginan pelaku untuk bertindak pidana. Karena itu, siapa saja yang kedapatan membawa sajam dijerat dengan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.
Perlakuan berbeda bagi pembawa tongkat dan pentungan. Setelah tongkat disita, mereka dilepas untuk kembali dalam kelompok. Tongkat disita karena dianggap cukup membahayakan karena bisa disalahgunakan sebagai senjata.
Berulang kali Kapolres mengingatkan agar para satgas partai turut melakukan sweeping simpatisan yang membawa senjata dalam bentuk apapun.”Kami sudah mengimbau, supaya aman, tak boleh ada alat berbahaya saat kampanye,” tandasnya.
Perusakan dan penganiayaan di Jalan Damai mengakibatkan dua korban Arista dan Ayudiah Eka Apsari harus dilarikan ke rumah sakit. Indikasi pelanggaran lain berupa masih banyaknya anak-anak di bawah umur ikut dalam rombongan peserta kampanye.
Ketua Tim Pemenangan “Santun” Sadar Narima mengatakan, adanya simpatisan yang membawa sajam menjadi bahan koreksi internal. Sadar mengklaim, itu sebuah tindakan spontanitas. Alasannya, tim telah mewanti-wanti para satgas tiap partai pengusung “Santun” untuk menciptakan suasana kondusif selama kampanye. “Ini jadi bahan evaluasi kami,” katanya.
Di Bantul, kampanye terbuka pasangan Sri Surya Widati-Misbakhul Munir (Ida-Munir) ricuh. Kampanye terbuka yang digelar di lapangan Trirenggo diwarnai aksi bentrok antarsesama pendukung. Akibatnya, peserta kampanye ada yang terluka lantaran terkena sabetan senjata tajam. Bahkan, Ketua DPC PPP Bantul Bariq Ghufron dan dua personel polres Bantul juga tak luput dari aksi anarkis ini hingga dilarikan ke rumah sakit. Tak hanya itu, massa juga membakar sepada motor dan merusak mobil beratribut PPP.
Kericuhan terjadi sekitar pukul 13.45. Kericuhan bermula ketika seorang peserta kampanye masuk ke arena dengan mengendarai sepeda motor. Diduga lantaran membawa atribut PPP, pengendara sepeda motor Vario Nopol AB 3188 XB ini kemudian dikejar dan digiring oleh rombongan peserta kampanye lainnya masuk ke sisi timur lapangan.
Nah, insiden inilah yang kemudian memicu pecahnya bentrok antarpendukung pasangan Ida-Munir. Sejumlah peserta kampanye kemudian tampak saling pukul menggunakan potongan bambu, potongan kayu, benda keras lainnya hingga saling lempar batu. Bahkan, ada pula yang membawa senjata tajam. “Saat melerai ada yang menyabet pakai senjata tajam ke arah kepala akhirnya saya tangkis pakai tangan,” terang Satgas PDIP Mujiyo yang datang melerai bersama sejumlah rekan-rekannya.
Akibatnya, tangan kanan Mujiyo terluka akibat sabetan senjata tajam. Bentrokan kian memanas setelah sepeda motor Vario milik peserta kampanye dibakar sekelompok massa. Personel polres Bantul berusaha meredam bentrokan ini. Nahas, Brigadir Supri dan Bripda Tulus dari Sat Sabhara polres Bantul ini justru terluka lantaran terkena lemparan batu. Sehingga keduanya harus dilarikan ke RSUD Panembahan Senopati.
Nasib hampir serupa juga dialami Bariq Ghufron. Anggota DPRD Bantul periode 2009-2014 menjadi sasaran amuk massa saat berusaha melerai. Akibatnya, Bariq dilarikan ke RSUD lantaran mengalami luka cukup serius. Sejumlah bagian tubuh Ketua DPC PPP Bantul ini seperti wajah memar-memar. Bahkan, tim medis juga memasang bantuan selang oksigen ke saluran pernafasan Bariq.
Ida, sapaan akrab Sri Surya Widati, enggan berkomentar mengenai kerusahan di kampanye terbukanya. “Saya tidak mau menanggapi persoalan ini,” ucapnya singkat.
Ketua DPC PDIP Bantul Aryunadi menilai, kerusahan terjadi akibat ulah oknum. Di samping itu, ada miskomunikasi antarsesama pendukung.”Kami akan colling down. Kami juga akan evaluasi atas peristiwa yang terjadi,” tambahnya.
Aryun berjanji panitia kampanye terbuka akan menanggungnya.(yog/zam/din)
(yog/din)