Tak Pernah Bicara Keras, Ajak Ajudan-Sopir Makan Satu Meja

Kepergian Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam IX tidak hanya meninggalkan kepedihan untuk para kerabatnya saja. Orang-orang yang setiap hari bekerja bersama wakil gubernur DIJ ini juga merasakan hal yang sama. Seperti yang dirasakan ajudan wagub Timur Agus Nugroho, dan sopir wagub Bambang Riyanto.
HERU PRATOMO, Jogja
Timur yang sudah menjadi ajudan PA IX sejak 2004 silam, mengaku kehilangan sosok yang sangat perhatian, baik dan sederhana. Ia mengatakan PA IX sebagai sosok yang perhatian. Hal itu dibuktikannya dengan selalu menanyakan kondisi keluarganya.
Ini pula yang membuatnya paling berkesan. “Waktu ada keluarga sakit atau meninggal, beliau (PA IX) juga datang. Beliau sering tanya kondisi keluarga,” ujar Timur.
Menurutnya, perhatian itu selalu diberikan kepada empat pegawai di kantor wagub. PA IX, lanjut dia, tidak pernah membeda-bedakan bawahan dan atasan. Semua dianggap saudara. Selain perhatian kepada keluarga pegawai, sikap egaliter PA IX juga dibuktikan sewaktu kunjungan ke luar kota.
Ketika tiba waktu makan, PA IX selalu mengajak makan bareng pegawainya dalam satu meja. “Kecuali ada pejabat lain. Kalau tidak, sudah biasa makan bareng satu meja, termasuk dengan sopir,” ujarnya.
Bahkan, lanjut Timur, ketika bepergian keluar kota sering kali PA IX mengendarai mobil sendiri dan meminta sopir duduk di sebelahnya. Beberapa kali perjalanan dinas yang ditempuh dengan mobil, dikendarai sendiri.
Tapi setelah sakit, PA IX mulai jarang nyetir sendiri. Selama perjalanan, Raja Pura Pakulaman yang naik takhta pada 26 Mei 1999 itu juga sering mengajak ngobrol. Berbagai hal yang ditemuinya selama perjalanan menjadi bahan obrolon, bahkan hingga guyonan.
Ketika berada di kantor pun, PA IX juga sering sharing pengalaman. Termasuk jika ada stafnya yang melakukan kesalahan, diberi kesempatan untuk memperbaiki. Selama 11 tahun menjadi ajudan wagub, pria berusia 44 tahun ini mengaku belum pernah dimarahi. “Beliau jarang ngendiko (berbicara, Red) keras,” ungkapnya.
Sopir Wagub DIJ Bambang Rayanto juga mengenang PA IX sebagai teman kerja. Hal itu karena kedekatan PA IX dengan bawahannya. Ketika bertemu pada hari kerja, PA IX juga sering menceritakan hasil kunjungannya ke daerah saat hari libur.
Diakuinya, PA IX memang sering curhat. Termasuk kegiatan rapat paipurna di DPRD DIJ yang sering molor dari jadwal. “Pernah waktu di mobil beliau berkeluh kesah, Yo kebangetan DPRD ki, undangan pukul 13.00 WIB baru mulai kok pukul 15.00 WIB,” kenangnya.
Meski statusnya sebagai sopir wagub, warga Gamping ini mengatakan tidak setiap hari mengantar jemput PA IX. Bambang hanya bersiap di kantor, karena PA IX biasa datang dan pulang kantor dengan mengendarai mobil sendiri. Kecuali untuk keperluan dinas, Bambang baru bertugas sebagai sopirnya.
Bambang sendiri baru bertugas sebagai sopir wagub pada November 2013 lalu. Tetapi dirinya sudah merasa sangat dekat dengan PA IX. Selama PA IX opname di RSUP Dr Sardjito, Bambang mengaku sering wira-wiri ke RS untuk menjenguk.
Dirinya merasa kepergian PA IX sangat mendadak. “Terlalu cepat, saya kehilangan luar biasa. Saya hanya bisa berdoa semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT,” ujarnya, menahan tangis.
Timur juga mengaku sangat kehilangan. Menurutnya, sebelum sakit dan akhirnya mondok di RSUP Dr sardjito, PA IX memang penuh agenda. Agenda terakhir yang dilaksanakannya adalah menerima dubes Uni Eropa untuk Indonesia, 3 November 2015 lalu. Setelah itu, PA IX kontrol kesehatan dan diminta opname, hingga akhirnya meninggal hari Sabtu (21/11). “Kami mendoakan yang terbaik untuk beliau,” tambahnya lirih. (laz/ong)