SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
Senjata tajam termasuk airsoft gun yang diamankan oleh petugas ditunjukkan dalam gelar perkara di Mapolres Sleman, kemarin (23/11).
SLEMAN – Polres Sleman langsung melakukan penyelidikan terkait kerusuhan saat kampanye terbuka yang diadakan Minggu (22/11) lalu. Hingga kemarin (23/11), beberapa orang yang diduga sebagai pelaku kerusuhan diperiksa. Berbagai barang bukti juga diamankan.
Analisa sementara, terjadinya kerusuhan saat kampanye karena ada pengerahan atau mobilisasi massa dari luar. Hal itu terungkap dalam gelar perkara kasus kerusuhan tersebut di Mapolres Sleman, kemarin.
Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnaen mengatakan, petugas telah mengamankan puluhan kayu, balok, dan senjata tajam (sajam) saat kampanye terbuka. “Saat kita razia, mereka membuangnya di selokan dan pinggir lapangan,” kata Faried didampingi Kasat Reskrim AKP Sepuh Siregar.
Dalam razia, petugas mengamankan dua orang yang kedapatan membawa senjata tajam. Dua orang itu, HB, 39, warga Mlati, Sleman. Dari HB petugas memperoleh sepucuk pedang dengan panjang 75 cm berbahan besi stainless steel. “Gagangnya dari kayu, tapi sarungnya dari pipa paralon,” terangnya.
Sedangkan tersangka lainnya yakni AP, 19. Warga Kasihan, Bantul itu kedapatan membawa pipa besi dengan kepala gir dengan panjang 25 cm. Kepada polisi, AP mengaku hanya diajak temannya untuk konvoi di Sleman. “Bawa sajam dari rumah, untuk jaga-jaga kalau rusuh. Ikut konvoi diajak teman,” ujar AP.
Masih di lokasi yang sama, petugas juga mengamankan sepucuk pistol airsoft gun yang digunakan salah satu peserta kampanye. Saat razia oleh satuan brimob dan sabhara didapati airsoft gun. “Senjata itu dibuang pemiliknya dan ditemukan di lokasi kampanye,” ungkapnya.
Senjata tersebut, bisa disalahgunakan dan memunculkan korban. Selain itu, petugas juga mengamankan beberapa botol minuman beralkohol. “Sangat bahaya. Kalau mabuk, bawa sajam, maka akan berulah,” tandasnya.
Kedua tersangka dikenai pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Darurat RI No 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara. Faried mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan beberapa polres di DIJ. Hal itu untuk mengantisipasi masuknya massa dari luar daerah ke Sleman.
“Ini menandakan ada mobilisasi dari luar daerah. Kita tekankan ke tim sukses dan satgas untuk tidak melakukan mobilisasi,” terangnya.
Disinggung mengenai kekerasan di Jalan Damai, pihaknya telah melakukan penyelidikan. Beberapa barang bukti seperti video saat ini sedang diidentifikasi dari kelompok mana. “Kita usut pelaku perusakan, mobil sudah diamankan,” tandasnya.
Aksi anarki penganiayaan dan perusakan mobil Toyota Yaris merah bernomor F 1211 DA di Jalan Damai, Sinduadi, Ngaglik, Minggu (22/11) ini menimpa pengendaranya, Faris Arista, 24 dan Ayudiah Eka Apsari, 24. Mobil yang dinaiki keduanya dirusak oleh sekelompok sekitar pukul 13.45 WIB.
Penyebab penganiayaan dan perusakan yang masih diselidiki kepolisian itu melibatkan puluhan orang beratribut kakbah. Atribut tersebut merupakan lambang Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Hari Purnomo, orang tua Ayudiah Eka Apsari, menyesalkan kurangnya iktikad baik dari partai atau tim pendukung pasangan Santun. Bahkan, Hari merasa ada upaya pembalikan fakta atas peristiwa yang menimpa putrinya.
“Ada yang menawarkan upaya damai. Tapi, etikanya bagaimana. Menengok ke rumah sakit saja tidak,” sesalnya saat dihubungi kemarin siang.
Tak hanya itu, Hari menyayangkan dugaan perampasan telepon seluler milik anaknya. Handphone anaknya hilang saat konflik di tempat kejadian perkara. Hari berencana menyurati DPR RI agar menaruh perhatian serius terhadap masalah tersebut. Harapannya, ke depan ada perbaikan sistem kampanye untuk menghindarkan aksi anarki dan penegakan kebenaran. “Bagaimana bisa adil kalau seperti itu. Apa salah anak saya,” tegas guru besar Universitas Islam Indonesia itu.
Sedangkan Setya Winarno ayah dari Faris Arista, telah mendatangi Mapolres Sleman, Senin (23/11). Kedatangannya dari Bogor, Jawa Barat bersama dua kerabat lainnya untuk melaporkan tindak penganiayaan yang menimpa anaknya. Winarno mengatakan, tindakannya melapor ke polisi sebagai bentuk warga negara yang taat hukum. “Saya merasa sangat prihatin. Jogja yang aman dan damai kok bisa ada perilaku seperti itu,” ujarnya.
Terkait hal itu, Ketua DPW PPP DIJ Syukri Fadholi mengeluarkan instruksi terkait insiden pilkada di Bantul dan Sleman, semua jajaran partai diminta mengendalikan diri. Serta mempercayakan sepenuhnya penanganan perkara kepada aparat kepolisian agar diselesaikan secara hukum.
Instruksi berlaku bagi pengurus dan anggota DPW, DPC, PAC, satgas, GPK, dan laskar PPP se-DIJ. “Instruksi itu sebagai payung umum untuk kendali massa dan stabilitas daerah,” tegasnya.
Syukri menegaskan, pilkada harus tetap berjalan sesuai norma hukum tanpa meninggalkan etika moral dan agama, serta nilai persaudaraan.
Terpisah, Anggota Panwaslu Sleman Sutoto Jatmiko mengaku masih berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, guna menyelidiki kemungkinan dugaan pelanggaran pilkada dalam kampanye Santun.
Sutoto menyatakan, penanganan perkara pidana akan diserahkan kepada polisi. Panwas hanya menelusuri dugaan pelanggaran kampanye. “Banyak anak-anak ikut kampanye. Itu masuk pelanggaran kampanye,” katanya.

Periksa Sebelas Orang, Belum Ada Titik Terang

Sementara itu di Bantul, insiden kerusuhan kampanye terbuka pasangan Sri Surya Widati-Misbakhul Munir (Ida-Munir) yang digelar di lapangan Trirenggo, Minggu (22/11) lalu belum ada titik terang.
Kendati telah memeriksa sebelas orang, termasuk di antaranya para korban, Polres Bantul hingga kemarin (23/11) belum mendapatkan petunjuk siapa para pelakunya. “Yang jelas kita masih melakukan pengembangan,” tandas Kapolres Bantul AKBP Dadiyo saat ditemui di ruang kerjanya.
Karena itu, besar kemungkinan polres bakal memeriksa kembali para korban untuk menelusuri siapa para pelakunya. Toh, para korban sendiri telah berkomitmen membantu penyidik polres untuk mengungkap siapa pelakunya. “Anggota masih mendalami dan mencari saksi-saksi,” ujarnya.
Dadiyo memastikan, penyebab insiden kerusuhan adalah kesalahpahaman antarsesama pendukung pasangan calon (paslon) nomor urut dua. Meski begitu, Dadiyo belum mengetahui penyebab pasti yang memicu kesalahpahaman antara massa PDIP dan PPP ini. Sebagaimana diketahui, pada pemilihan kepala daerah (pilkada) 2015 PDIP dan PPP berada dalam satu bendera koalisi mendukung pencalonan Ida-Munir.
“Mungkin ada hal-hal yang kurang pas hingga terjadi kejadian itu,” ucapnya.
Meskipun ada korban, Dadiyo belum dapat memastikan insiden kerusuhan yang berujung pada terlukanya empat orang ini sebagai tindak pidana pengeroyokan atau penganiayaan. Selain memeriksa sebelas saksi, polres telah mengidentifikasi sejumlah kerusakan yang ditimbulkan. Hasilnya, ada satu unit sepeda motor dan satu mobil yang dibakar. (riz/zam/yog/ila/ong)