HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
TETAP MENOLAK: Warga WTT menggelar mujahadah di jalan sisi timur Balai Desa Glagah. Foto kanan, perwakilan WTT menyatakan sikap di tengah sosialisasi yang digelar di aula balai desa, kemarin (23/11).
KULONPROGO – Warga yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT) tetap ngotot menolak rencana pembangunan bandara internasional di Temon. Kali ini, mereka menggelar aksi di tengah sosialisasi pengukuran lahan bandara di Balai Desa Glagah, kemarin (23/11).
Sosialisasi serupa tak hanya dilakukan di Desa Glagah, juga diadakan di lima desa di Kecamatan Temon. Pantauan Radar Jogja, massa WTT datang beberapa saat setelah sosialisasi dimulai. Mereka kemudian menggelar mujahadah di jalan sisi timur balai desa. Hingga sesi dialog dibuka, mereka mengirimkan lima perwakilan untuk masuk menyampaikan pernyataan sikap.
“Saya mewakili WTT ingin menyatakan sikap menolak,” ujar perwakilan WTT Andung di tengah warga undangan serta tim BPN, Pemkab Kulonprogo, dan PT Angkasa Pura I.
Warga dari Dusun Sidorejo ini mengatakan, pihaknya tetap menolak pembangunan bandara. Dia juga menyampaikan permintaan, jika ada warga yang menolak tanahnya dipasangi patok maka jangan dipaksa. “Kami tidak menginginkan makam atau kuburan ikut dipatok,” ucapnya.
Ketua WTT Martono menegaskan, pihaknya memang mendapat undangan untuk sosialisasi. Namun, kedatangan mereka kali ini tidak untuk ikut sosialisasi, melainkan menyatakan penolakan. Sesuai dengan pernyataan sikap yang telah disampaikan, WTT meminta agar warga yang menolak tidak dipaksa tanahnya diukur. Demikian juga dengan tempat ibadah dan kuburan.
“Tempat ibadah dan kuburan itu milik kami, baik yang pro maupun yang kontra bandara. Kami melarang kedua tempat itu diukur dan dipatok,” tegasnya.
Martono menjelaskan, khusus untuk makam, ahli waris WTT akan tetap mempertahankan keberadannya. “Warga yang pro bandara tidak usah memakamkan keluarga di sana. Kami akan berkomunikasi dengan warga yang pro pembangunan bandara,” ungkapnya.
Selain di Desa Glagah, WTT juga menggeruduk Balai Desa Palihan pada iang harinya. Sama seperti di Glagah, mereka menggelar tikar dan duduk berpanas-panasan di halaman Kantor Desa.
Martono mengungkapkan, setelah aksi tersebut, WTT akan menjaga tanah milik masing-masing. Juga memastikan tempat ibadah dan makam tidak dipatok oleh tim BPN.
Sebagaimana dijadwalkan, usai sosialisasi tim BPN yang terdiri atas Satgas A dan Satgas B akan langsung turun lapangan. Mereka berencana mengukur dan mematok tanah warga. Secara tidak langsung, langkah dan pernyataan WTT terkait pengukuran lahan bandara ini menyimpan potensi konflik horizontal. Karena berhadapan juga dengan warga yang pro pembangunan bandara.
Menanggapi sikap WTT, Sekda Kulonprogo Astungkoro menyatakan, setiap aspirasi termasuk penolakan pasti diperhitungkan. Namun yang menjadi catatan, saat ini sudah masuk tahap pelaksanaan terkait megaproyek bandara.
“Dalam hal ini lembaga yang melaksanakan adalah BPN dan harus mengukur semuanya,” terangnya.
Senada, Kepala BPN Kulonprogo Muhammad Fadhil mengungkapkan, dia menyerahkan langkah-langkahnya kepada Satgas A dan Satgas B yang turun di lapangan. Terkait masalah WTT yang menolak pematokan, semua dipercayakan kepada satgas tersebut untuk melakukan negosiasi.
“Saya percaya ada jalan untuk menyelesaikan hal itu. Karena semua sudah diatur dalam undang-undang. Sekarang konsentrasi dulu ke pengukuran,” ungkapnya.
Plt Kabid Pengukuran Kanwil BPN DIJ Rudi Prayitno menyatakan, kepala kanwil BPN pasti memberikan solusi. “Pasti ada jalan,” ungkapnya.
Kepala Kanwil BPN DIJ Arie Yuwirin menyatakan, siap untuk memfasilitasi warga WTT dengan warga yang kooperatif dengan pengukuran. Pihaknya akan melakukan pengukuran tanah milik warga yang menyatakan menerima.
“Untuk yang belum menerima ya belum kita ukur, akan kita lakukan pendekatan. Kalau ngotot tidak boleh ya terpaksa kita tinggal,” ungkapnya.
Pimpro Bandara Baru dari PT Angkasa Pura I Sujiastono juga mengamini, masalah keberatan masyarakat sebenarnya sudah selesai di PTUN dan MA. “Secara undang-undang tidak ada lagi keberatan,” tandasnya. (tom/ila/ong)