DWI AGUS/RADAR JOGJA
EDUKASI: Percobaan sains yang mengajak interaksi langsung para siswa dalam gelaran Science Film Festival (SFF), kemarin (24/11).
JOGJA – Science Film Festival (SFF) konsisten mengajarkan sains dengan cara yang menyenangkan. Agenda tahunan yang diadakan oleh Goethe Institute Indonesia, Kedutaan Besar Jerman bersama Paguyuban Dimas Diajeng Jogja ini mengusung konsep unik. Yakni menggunakan teknik dan metode bermain untuk pelajaran sains.
Acara yang digelar di ION’S International Education Building Jogjakarta ini memutar beragam film edukasi. Konsep yang digunakan adalah belajar sambil bermain.
“Anak-anak khususnya siswa SD pasti langsung merasa takut saat membayangkan sains. Padahal sains menyenangkan,” kata Ketua SFF Jogjakarta 2015 Kevin Benedict Lesmana, Selasa (24/11).
Kevin mengungkapkan, film yang diputar memuat ragam ilmu sains. Namun tidak serta merta hadir dalam kemasan sains murni. Dibalut dalam film pendek dengan alur cerita yang menyenangkan. Menurut Kevin, metode ini sangat pas diterapkan kepada anak-anak. Terbukti peminat SFF selalu bertambah setiap tahunnya.
“Melalui SFF kami ingin mengubah persepsi bahwa sains itu susah,” ungkapnya.
SFF merupakan bukti bahwa ilmu pengetahuan, khususnya sains, merupakan hal yang menyenangkan, informatif, dan mendidik. Target audiens SFF ini menyasar pelajar sekolah dasar.
“Metode edutainment atau belajar dengan bermain sangat tepat di usia ini,” terangnya.
Film yang ditampilkan berupa biologi, kimia, hingga ilmu astronomi. Sebagai pelengkap diadakan percobaan sains yang mengajak interaksi para siswa. Tahun ini SFF mengusung tema International Year of Light. Dalam kesempatan ini, SFF mengajak para siswa mengenal cahaya dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Eksperimen juga dikemas dengan cara yang menyenangkan. Sehingga anak tertarik mencobanya langsung,” kata Kevin.
Tahun ini SFF diadakan dari tanggal 12 hingga 26 November 2015 di 24 kota se-Indonesia. Screening film juga diselenggarekan di Pendopo Omah UGM. Selanjutnya Jumat (26/11) dilakukan di tiga tempat, ION’S International Education Building, Ndalem Natan Royal Heritage, dan Pendopo Parasamya Bantul. (dwi/ila/ong)