Oleh; Kusno S Utomo
Redaktur Senior Radar Jogja
EMPAT kerajaan penerus Dinasti Mataram yakni Kasunanan Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman memiliki sejarah panjang dalam urusan suksesi.
Masing-masing kerajaan tersebut memiliki karakteristik sendiri saat menentukan calon penerus takhta. Bahkan sumber rekrutmen dari setiap raja atau adipati ternyata tidak selalu sama.
Referensi seputar paugeran suksesi di Keraton Jogja selama ini tidak banyak ditemukan. Salah satu dokumen tertulis yang tersedia adalah buku karya Susilo Harjono yang diterbitkan Jurusan Politik dan Pemerintahan (JPP) Fisipol UGM. Judulnya Kronik Suksesi Keraton Jawa 1755-1989.
Buku tersebut menjelaskan proses suksesi di Keraton Jogja mulai HB I hingga HB X. Termasuk prediksi pasca HB X. Menurut Susilo, dari satu raja ke raja berikutnya, suksesi tidak selalu sama. “Sepuluh sultan, sepuluh jalan,” katanya.
Sekarang dengan bergantinya nama Hamengku Buwono menjadi Hamengku Bawono dan penetapan GKR Mangkubumi sebagai putri mahkota, jalan suksesi 10 sultan menjadi 11. “Proses ini akan menjadi momentum politik yang luar biasa bagi Keraton Jogja. Jika terjadi, ini merupakan babakan perdana atas sejarah baru,” begitu kata Susilo dalam bukunya.
Bagaimana dengan Kadipaten Pakualaman? Ternyata kadipaten yang didirikan Pangeran Notokusumo juga punya sejarah khas saat menentukan setiap calon Paku Alam yang jumeneng (bertakhta).
Bahkan Pakualaman pernah memiliki seorang adipati yang bertakhta yang bukan putra dari adipati yang bertakta sebelumnya. Itu terjadi secara berturut-turut pada era Paku Alam IV dan Paku Alam V. Bahkan Paku Alam III bukanlah putra mahkota yang telah disiapkan sebelumnya. Paku Alam III merupakan pangeran pengganti karena putra mahkota atau calon yang disiapkan oleh Paku Alam II, meninggal lebih dulu sebelum ayahnya wafat.
Sejarah suksesi Pakualaman ini ditemukan di buku Kadipaten Pakualaman karya KPH Mr Soedarisman Poerwokoesoemo, wali kota kedua Kota Jogja. Ia juga menjadi rektor pertama Universitas Janabadra. Setelah Paku Alam I wafat proses suksesi tidak banyak menghadapi persoalan. Sejak awal Paku Alam I telah menyiapkan putra sulungnya Raden Tumenggung Notodiningrat sebagai calon pengganti.
Semasa ayahnya bertakhta, Notodiningrat berganti nama menjadi Pangeran Suryaningrat. Tahun 1829, ia menjadi kepala Kadipaten Pakualaman dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Suryaningrat.
Penunjukan Suryaningrat sebagai Paku Alam II secara jelas tertulis di pasal 2 Kontrak Politik antara Paku Alam I dengan Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles. Dengan adanya perjanjian itu menunjukkan sejak awal Raffles menghendaki Kadipaten Pakualaman akan diwaris secara turun temurun.
Saat menjadi Paku Alam II, Suryaningrat berusia 44 tahun. Menantu HB II ini punya empat orang anak laki-laki. Putra sulungnya KPH Suryoputra telah meninggal. Anak kedua, KPH Suryaningrat terganggu ingatannya karena terlalu mendalami ilmu mistik. Selama berkuasa, Paku Alam II didampingi putra ketiga yakni Pangeran Nataningprang.
Paku Alam II wafat pada 23 Juli 1858 di usia 73 tahun. Satu tahun Paku Alam II sebelum wafat, 1857 Pangeran Nataningprang yang disiapkan menggantikannya lebih dulu meninggal. Pilihan akhirnya jatuh putra keempat Pangeran Sasraningrat. Dia kemudian menjadi Paku Alam III.
Paku Alam III berkuasa relatif sebentar selama enam tahun. Dia meninggal pada 1864, saat anak-anaknya belum dewasa. Timbul masalah dalam suksesi penentuan calon Paku Alam IV.
Berkat perjuangan GKR Ayu, permaisuri Paku Alam II atau putri HB II, yang diangkat menjadi Paku Alam IV adalah cucunya. Yakni anak Pangeran Nataningprang, putra mahkota Paku Alam II yang urung menjadi Paku Alam III karena meninggal mendahului ayahandanya.
Putra Pangeran Nataningprang tersebut bernama Pangeran Suryo Sasraningrat. Saat bertakhta bergelar KGPA Suryo Sasraningrat atau Paku Alam IV. Dia bertakhta dari 1864-1878 atau selama 14 tahun. Selama hidupnya Paku Alam IV hanya meninggalkan dua orang anak laki-laki yang belum dewasa yang lahir dari garwa klangenan atau selir. Lantas siapa pengganti Paku Alam IV? (bersambung)