YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
BERDAYAKAN WARGA: Wukirsari Expo yang digelar oleh tim pengabdian sosial dari Fisipol UGM di Pasar Cokrokembang untuk menghidupkan kegiatan di pasar ini kemarin (24/11).
CANGKRINGAN- Hidup segan mati pun tak mau. Itulah “nasib” Pasar Cokrokembang di Desa Wukirsari, Cangkringan. Pasar desa yang dibangun sekitar empat tahun lalu sedianya untuk mengakomodasi roda ekonomi warga korban erupsi Gunung Merapi 2010.
Tak ada perubahan yang terjadi selain konstruksi fisik bangunan los. Sejak 1,5 tahun lalu, los dibangun lebih tinggi dengan plester semen, rangka tembok, dan atap baja ringan. Dulu, los pasar hanya beratap seng dengan rangka bangunan kayu dan bambu. “Tapi mending ramai dulu. Sekarang makin sepi pembeli,” ungkap Ngatini,45, saat mengikuti Wukirsari Expo yang digelar oleh tim pengabdian sosial dari Fisipol UGM kemarin (24/11).
Warga Dusun Salam yang sehari-hari berjualan kopi itu menuturkan, setelah sebagian korban erupsi menghuni hunian tetap (huntap), pelangannya menurun tajam. Sebab, lokasi huntap jauh dari pasar. Huntap terdekat berjarak sekitar 1 kilometer, yakni Gondang. Namun, huntap bantuan swasta itu tak lagi penuh. Menurut Ngatini, sebagian penghuni Gondang pilih kembali ke lahan asal.”Semoga menjadi perhatian pemerintah agar pasar bisa lebih hidup,” harapnya.
“Kehidupan” pasar di jalur utama evakuasi penghubung Desa Kepuharjo-Wukirsari itu memang tak berlangsung lama. Pedagang berniaga pada pukul 06.00-10.00. Menjelang Dzuhur, hanya bersisa tak lebih dua penjaja kopi. Padahal, pasar selalu dilewati jalur tour Jeep wisata.
Ketua Tim Pengabdian Desa Binaan UGM Dr Devaula Kusumasari menuturkan, pihaknya sedang berupaya membangkitkan potensi pasar. Di antaranya, melalui pelatihan usaha kecil mikro, membuatkan website desa, dan menyiapkan aparatur desa.
Program itu sebenarnya difokuskan untuk menghadapi persaingan bebas Mayarakat Ekonomi asia (MEA). Wukirsari Expo menjadi puncak seluruh kegiatan pendampingan sosial. “Sebenarnya banyak potensi di sini tapi tidak tergarap secara baik,” katanya.
Anggota Tim Pengabdian Dr Hempri Suyatna berpendapat, Pasar Cokrokembang seharusnya bisa disulap menjadi etalase produk unggulan warga lereng Merapi. Namun, itu butuh kerjasama dengan pelaku wisata dan didukung oleh pemerintah. Setiap wisatawan yang berkunjung ke Merapi bisa diampirkan ke Cokrokembang untuk sekadar melihat potensi UKM atau menikmati kuliner khas pegunungan. “Itu seharusnya digarap secara komprehensif sejak dulu. Sayangnya, sampai sekarang belum tampak realisasi grand desain pembangunan kawasan ekonomi lereng Merapi,” bebernya.
Program pendampingan menjadi titik awal pembangunan ekonomi mikro lereng Merapi. Setelah dilatih membuat produk unggulan dan pemasaran melalui website, langkah selanjutnya menghidupkan pasar supaya tidak mati suri.(yog/din/ong)