GUNUNGKIDUL – Angka perceraian di Gunungkidul masih saja tinggi. Hingga November di tahun ini, sedikitnya sudah terdapat 1.310 kasus. Jumlah itu dumasukkan dalam angka yang fantastis. Apa lagi, dalam tiga tahun terakhir, kasus perceraian di Kota Gaplek tersebut ada kecenderungan meningkat.
Tingginya angka perceraian di Gunungkidul, membuat Kementerian Agama (Kemenag) cemas. Berbagai langkah mediasi terus diupayakan untuk melindungi keluarga dari perceraian.
Humas Pengadilan Agama Wonosari, Mudara mengatakan, angka perceraian periode Januari-November 2015 mencapai ribuan perkara. Di dalamnya meliputi kasus cerai gugat maupun cerai talak.
“Di antara pemicu perceraian adalah karena faktor ketidakharmonisan keluarga, sehingga memutuskan untuk berpisah. Data kami, hingga Novmber ini, ada 1.310 kasus,” kata Mudara, kemarin (24/11).
Dikatakan, pengadilan agama terus berupaya melindungi keluarga dari perceraian. Dalam setiap perkara, majelis hakim selalu melakukan mediasi terlebih dahulu, dengan harapan mereka membatalkan perceraian.”Dalam mediasi, beberapa pasangan bisa rujuk dan mencabut berkas perceraian. Biasanya, pencabutan berkas perceraian dilakukan setelah ada kesepakatan kedua belah pihak,” ungkapnya.
Sementara bagi pasangan suami istri yang ngotot mengakhiri pernikahan, kasusnya tetap dilanjutkan hingga ada putusan cerai dari majelis hakim. Upaya lain menjaga keharmonisan keluarga, pengadilan agama menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat. Warga diberi pemahaman mengenai arti penting sebuah keutuhan keluarga.
“Sosialisasi kami lakukan bersama instansi terkait. Kami sudah rutin lakukan sosialisasi,” ucapnya.
Terpisah, Manajer Divisi Pengorganisasian Masyarakat dan Advokasi Yayasan Rifka Anisa, Thonthowi berpendapat, angka perceraian bisa ditekan jika semua pihak terlibat aktif menjaga keutuhan rumah tangga.
“Pencegahan perceraian harus dilakukan sedini mungkin. Harus dimulai sejak usia anak-anak dengan menanamkan jiwa tanggung jawab,” kata Thonthowi.
Aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bekerja untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan tersebut berpendapat, keharmonisan kehidupan rumah tangga harus dijaga setiap saat.
“Tingginya angka perceraian tidak lepas dari masalah lemahnya ketahahan keluarga,” ujarnya.
Di bagian lain, masih berdasarkan data pengadilan agama, tren meningkatnya jumlah kasus perceraian berlangsung hampir di setiap tahun. Pada 2013, angka perceraian mencapai 1.516, dengan rincian cerai gugat sebanyak 1.042 dan cerai talak 474. Pada 2014, angka perceraian meningkat menjadi 1.559 kasus, meliputi cerai gugat 1.032 dan cerai talak 527 kasus. Dan tahun ini hingga November jumlahnya sudah 1.310 kasus, dan diperkirakan masih akan bertambah. Karena pendaftar gugatan cerai masih ada. (gun/jko/ong)