RIZAL SN/RADAR JOGJA
BANYAK PRESTASI: Kepala MTs Negeri Piyungan Etyk Nurhayati saat berada di ruang kerjanya. Etyk merupakan kepala sekolah termuda se-Indonesia.

Tak Ada Siswa yang Bodoh, Rela Beri Les Gratis

Berbicara tentang guru, tentu tak sedikit pengajar di DIJ yang berprestasi. Namun jika bicara tentang kepala sekolah termuda, tentu hanya ada satu. Di Bantul, ada kepala sekolah termuda di Indonesia, yakni Kepala MTs Negeri Piyungan Etyk Nurhayati. Meski termuda, banyak prestasi yang dimilikinya. Di Hari Guru Nasional kemarin (25/11), Radar Jogja berkesempatan berbincang dengannya.
RIZAL SN, Bantul
SEPERTI hari-hari biasanya, Rabu kemarin, Etyk Nurhayati, 35, tampak sibuk. Dengan mengenakan baju batik bercorak hitam dipadu kerudung yang juga hitam, dia terlihat asyik menatap layar laptop di ruang kerjanya.
Ketika dihampiri, perempuan kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 30 September 1980 itu berusaha terlihat santai. Saat Radar Jogja mencoba masuk ke ruang kepala sekolah, dia menyambut dengan senyum ramah. “Mari silakan,” ucapnya.
Mengawali perbincangan, Etyk mengungkapkan, dia memang bercita-cita menjadi seorang guru. Keinginannya itu tak lepas dari sosok ayahnya yang juga menjadi pengajar. “Selain bapak, kakak saya juga guru,” ungkapnya.
Etyk menuturkan, orang tuanya memiliki taman kanak-kanak. Di situ pula, dia ikut mengajar. Kemudian sore harinya, Etyk mengajari anak-anak membaca Alquran di masjid. Warga Tlogoadi, Mlati, Sleman ini mengaku menjadi pengajar merupakan panggilan hati.
“Karena ingin jadi guru, saya lantas menempuh pendidikan S1 Jurusan Matematika di UIN Sunan Kalijaga,” ungkapnya.
Di kampus itu pula, Etyk menemukan tambatan hatinya, Hendro Widodo, yang menjadi suaminya. Mengenai mata pelajaran matematika yang diambilnya, Etyk merasa sangat tertantang. Terlebih, matematika kerap dianggap momok oleh kebanyakan siswa.
“Jadi tertantang untuk mengajar lebih baik,” terangnya.
Menurutnya, menjadi guru harus menyenangkan. Setelah itu, baru memasukkan materi pelajaran. Dengan begitu, anak-anak bisa lebih bersemangat untuk belajar.
“Kalau mengajar dari hati, maka hati juga yang akan menerima. Lain kalau hanya dari lidah, telinga pun belum tentu menerima,” ujarnya.
Etyk meyakini, tidak ada siswa yang bodoh. Namun, mereka belum mengerti karena tidak mendapatkan pembelajaran dengan metode yang tepat. Karena itu, guru juga perlu terus belajar. “Saya juga masih terus belajar,” ungkapnya.
Bahkan, pada hari Minggu Etyk tetap meluangkan waktunya untuk para siswa. Sebab, banyak murid yang datang ke rumah untuk minta les tambahan. “Saya berikan les gratis,” katanya.
Selain mengajar, Etyk juga meneliti dan membuat karya ilmiah. Hal itulah yang membawanya menjadi guru madrasah berprestasi tingkat nasional. Mulai dari membuat portofolio, presentasi, hingga proses verifikasi.
“Dari 33 provinsi dipilih lima orang. Saya juara satu. Presentasi serta ikut tes Bahasa Arab dan Inggris,” ujar alumnus Pascasarjana UNY itu.
Di usia yang terbilang muda, Etyk mampu menorehkan banyak prestasi. Dia menyandang guru madrasah berprestasi tingkat kabupaten dan provinsi sejak 2013. Juga memperoleh predikat guru madrasah berprestasi tingkat nasional 2015.
“Terhitung 9 September 2015 menjadi Kepala MTs Negeri Piyungan, Bantul,” terangnya.
Menjadi kepala sekolah termuda tidak menjadikannya sebuah beban. Sekalipun di tempatnya bertugas banyak yang lebih senior. “Masuk di sini paling muda, secara psikologis menjadi tantangan. Usia saya sepantaran dengan putra mereka. Saya utamakan rasa kekeluargaan,” terangnya.
Saat ini, seiring tugasnya menjadi kepala sekolah, dia selalu berangkat dari rumahnya sejak pukul 05.30 WIB. Di MTs Negeri Piyungan, dia mengadakan program pemberantasan buta huruf Alquran. Sebab setelah diteliti, ternyata 35 persen siswa MTs belum lulus Iqra. Itu karena tak semua yang masuk MTs berasal dari Madrasah Ibtidaiyah (MI). Setiap harinya mulai pukul 06.15 hingga 07.00 siswa diberikan privat membaca Iqra.
“Satu guru mengampu dua sampai empat siswa. Alhamdulillah setelah hampir dua bulan sudah menurun, tinggal belasan anak,” terangnya.
Dengan seabrek kesibukannya, dia mengakui jika waktunya tersita banyak di sekolah. Namun sebagai ibu dari Nasywa Zahlia Ramadhani, 9, Farhan Ilmy Musyaffa 7, dan M. Ilyas Alfarizi 3, dia berusaha memberikan perhatian. “Kualitas interaksi dengan keluarga menjadi yang utama,” ungkapnya.
Di Hari Guru Nasional, dia berharap pengajar memiliki semangat tinggi memajukan dunia pendidikan. Juga memperbaiki kualitas pendidikan, akademik, dan karakter anak agar dapat diterima di masyarakat. “Saya berharap siswa memiliki akhlak mulia, tidak hanya pintar secara akademik,” tandasnya. (jko/ila/ong)