Oleh; Kusno S Utomo
Redaktur Senior Radar Jogja

Suksesi Pura Pakualaman (2)

KANJENG Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam IV bukan merupakan putra Paku Alam III. Dia cucu dari Paku Alam II atau keponakan Paku Alam III. Dengan demikian, sejarah mencatat Kadipaten Pakualaman pernah memiliki adipati yang terlahir bukan dari adipati yang sebelumnya bertakhta.
Pengalaman ini agaknya mematahkan pandangan raja atau adipati di kerajaan penerus Dinasti Mataram harus merupakan keturunan langsung dari sunan, sultan atau adipati yang berkuasa sebelumnya. Ayahanda Paku Alam IV adalah Gusti Pangeran Haryo (GPH) Kolonel Nataningprang. Sebagaimana telah disinggung di tulisan sebelumnya, Pangeran Nataningprang ini seharusnya menjadi Paku Alam III.
Namun takdir berkehendak lain. Dia meninggal setahun sebelum ayahnya Paku Alam II wafat. Takhta akhirnya jatuh kepada adik bungsunya GPH Sasraningrat yang kemudian jumeneng menjadi Paku Alam III.
Sebelum menjadi Paku Alam IV, adipati keempat Pakualaman itu bernama Raden Mas Nataningrat sebelum berubah menjadi Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Nataningrat. Paku Alam IV lahir pada 25 Oktober 1841. Dia naik takhta menggantikan pamannya Paku Alam III pada 1 Desember 1864. Kekuasaannya berlangsung selama 14 tahun.
Paku Alam IV merupakan anak dari Pangeran Nataningprang yang menikah dengan Bendara Raden Ayu (BRAy) Nataningprang (putri KGPA Mangkudiningrat, putra Sultan HB II). Dengan demikian, Paku Alam IV merupakan cucu Pangeran Mangkudiningrat dan cucu buyut HB II.
Selama berkuasa, Paku Alam IV mempunyai dua permaisuri. Yakni Gusti Bendara Raden Ayu Adipati (GBRAA) Paku Alam IV putri Bupati Banyumas KRT Yudhanegara. Lantaran menderita sakit, permaisuri pertama ini dicerai dan tidak meninggalkan keturunan. Selanjutnya Paku Alam IV mengangkat Gusti Kanjeng Ratu Ayu, putri HB VI. Sama seperti perkawinan dengan permaisuri pertama juga tak membuahkan anak. Permaisuri kedua ini juga dicerai.
GKR Ayu yang dicerai Paku Alam IV ini kemudian dinikahi bupati Demak dan menurunkan bupati Jepara, ayah Raden Ajeng (RA) Kartini, pahlawan emansipasi perempuan Indonesia. Jadi RA Kartini merupakan cucu dari GKR Ayu, putri HB VI.
Saat wafat, Paku Alam IV meninggalkan dua anak laki-laki yang belum dewasa yang lahir dari garwa klangenan atau selir. Akibat tidak adanya keturunan dari permaisuri membuat suksesi di Pakualaman muncul masalah.
Ternyata pengganti Paku Alam IV adalah pamannya sendiri, putra Paku Alam II yang bernama KPH Suryodilogo. Dia merupakan putra yang lahir dari garwa selir Paku Alam II.
Tampilnya KPH Suryodilogo sebagai Paku Alam V ini mengawali babak baru sejarah Pakualaman. Adipati Pakualaman yang jumeneng belum genap berumur 40 tahun menggunakan gelar Suryodilogo dan bukan KGPAA Paku Alam. Ini mirip dengan tradisi di Kadipaten Mangkunegaran yang memakai sebutan KGPAA Prang Wadono sebelum setelah usia 40 tahun bergelar KGPAA Mangkunegoro. Penggunaan gelar KGPA Prabu Suryodilogo ini baru dimulai pada Paku Alam V. Sebab, Paku Alam III dan Paku Alam IV bergelar KGPA Suryo Sasraningrat. (bersambung)