HENDRI UTOMO/Radar Jogja
PUTUS: Jembatan sesek yang menghubungkan wilayah Lendah, Kulonprogo dengan Pajangan, Bantul, putus diterjang banjir, kemarin.

KULONPROGO – Dua jembatan sesek bambu penghubung wilayah Kecamatan Lendah di Kabupaten Kulonprogo dengan Kecamatan Pajangan di Kabupaten Bantul, putus diterjang banjir Sungai Progo, kemarin (26/11) dini hari. Kedua jembatan yang juga sering digunakan untuk foto selfie itu berada di Pedukuhan Mirisewu dan Temben, esa Ngentakrejo, Lendah.
Sugeng Suyitno, warga Mirisewu mengatakan, jembatan sesek putus diterjang banjir setelah terjadi hujan lebat di wilayah hulu sungai. Jembatan sesek selalu dibuat saat musim kemarau, sebagai jalan pintas dari wilayah Lendah ke Pajangan atau sebaliknya.
“Bermanfaat sekali bagi pengguna jalan karena lebih cepat, menghemat sekitar 20 menit menuju Bantul,” katanya. Jembatan sasak itu bisa dikatakan jembatan musiman, warga biasa membuatnya saat musim kemarau. “Kalau penghujan tidak berani. Nanti merakit perahu sebagai pengganti jembatan sesek di musim penghujan,” imbuhnya.
Subandi mengungkapkan, putusnya jembatan itu membuat warga di dua wilayah tersebut harus memutar lumayan jauh. “Kalau lewat sini lima menit sudah sampai Bantul atau Kulonprogo. Kalau memutar setengah jam lebih,” ungkapnya.
Camat Lendah Sumiran menuturkan, kedua jembatan tersebut dibuat oleh warga masyarakat dengan biaya Rp 10 juta lebih. Menurutnya, warga di wilayah itu sudah sangat lama membuat jembatan sesek.
Jika banjir hancur kemudian akan dibuat lagi saat kemarau. Tradisi itu sudah berlangsung sejak 25 tahun lalu, keberadaanya sangat penting bagi masyarakat karena banyak yang beraktivitas di Bantul. “Warga yang melintas setiap hari 500 orang lebih, karena memang menjadi jalan pintas yang menguntungkan,” tuturnya.
Pemerintah Kecamatan Lendah pernah mengusulkan dibuat jembatan permanen. Keberadaan jembatan permanen sangat diperlukan masyarakat, karena pusat perekonomian yang maju di Lendah berada di wilayah Ngentakrejo.
“Karena kalau mau ke Bantul sangat jauh, harus memutar dengan jarak sekitar 7 kilometer melalui Jembatan Bantar maupun Brosot. Jadi jembatan permanen itu sangat menopang kegiatan ekonomi maupun transportasi bagi warga,” ujarnya.
Menurutnya, usulan pembangunan jembatan permanen juga sudah dibahas dalam musrenbang dan disampaikan ke Bappeda Kulonprogo. Usulan yang disampaikan sejak tiga tahun lalu itu juga sudah dirangkum Bappeda DIJ, namun hingga kini belum terealisasi. (tom/laz/ong)