Oleh; Kusno S Utomo
Redaktur Senior Radar Jogja

Suksesi Pura Pakualaman (3)

BERDASARKAN sejarah, Kadipaten Pakualaman tidak memiliki tradisi pemberian nama tertentu bagi putra mahkota. Ini sangat berbeda dengan adat yang berlaku di Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Setiap calon raja yang akan menjadi Susuhunan Paku Buwono (PB) maupun Sultan Hamengku Buwono (HB) harus lebih dulu diangkat sebagai putra mahkota. Gelar putra mahkota di kedua kerajan tersebut sama. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram.
Gelar ini melekat bagi calon raja yang lahir dari garwa padmi atau permaisuri. Sedangkan putra sulung raja dari garwa selir alternatifnya dua. Yakni Pangeran Hangabehi atau Mangkubumi.
Calon susuhunan dan sultan yang tidak lahir dari permaisuri, sesaat sebelum bergelar PB dan HB lebih dulu diwisuda sebagai pangeran pati alias putra mahkota di Bangsal Mangunturtangkil Sitihinggil.
Pengalaman inilah yang dialami GRM Doroedjatun sebelum diangkat menjadi HB IX, dan KGPH Mangkubumi sebelum dinobatkan sebagai HB X. Di Pakualaman pola pengangkatan semacam ini tidak menjadi tradisi yang berlangsung turun temurun sejak Paku Alam I.
Sebelum naik takhta, PA I bernama Pangeran Notokusumo. Dia digantikan putranya Pangeran
Natadiningrat yang kemudian bergelar PA II.
PA II digantikan putra GPH Sasraningrat. Selanjutnya, saat naik takhta, GPH Sasraningrat berubah nama menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Surya Sasraningrat. Dia meninggal dalam usia muda di bawah 40 tahun.
Takhta kemudian beralih kepada keponakannya KPH Nataningrat, putra GPH Nataningprang, calon PA III yang urung diangkat karena meninggal dunia sebelum PA II wafat. Sama seperti pamannya, KPH Nataningrat ini juga meninggal dalam usia muda sekitar 37 tahun. Dia memakai gelar KGPA Surya Sasraningrat II.
Pangeran Sasraningrat dan Nataningrat belum sempat menggunakan gelar PA III dan PA IV. Tradisi di Pakualaman saat itu mengisyaratkan adipati yang belum genap 40 tahun belum menggunakan sebutan Paku Alam. Karena itu, keduanya meninggal saat masih bergelar KGPA Surya Sasraningrat. Penggunaan KGPA Surya Sasraningrat mulai berubah setelah PA V naik takhta.
PA V semula bernama KPH Suryodilogo. Dia adik dari PA III atau paman dari PA IV. Dialah yang mengawali tradisi penggunaan nama Suryodilogo, dan menambah kata Aryo di belakang gelar KGPA sehingga menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam.
PA V lahir pada 23 Juni 1833. Naik takhta pada 10 Oktober 1878 ketika berusia 45 tahun. Karena itu, dia langsung menggunakan gelar KGPAA Paku Alam V.
Demikian pula putranya Pangeran Natakusuma yang menggantikannya sebagai PA VI. Dia dikukuhkan saat usia 45 tahun, sehingga langsung bergelar KGPAA Paku Alam VI tanpa lebih dulu menggunakan sebutan KGPAA Suryodilogo.
Lain halnya dengan PA VII yang menggantikan ayahnya PA VI, masih berusia 24 tahun. PA VII mengawali dengan gelar KGPAA Prabu Suryodilogo dan baru memakai sebutan KGPAA Paku Alam VII setelah menginjak umur 40 tahun. Demikian pula PA VIII yang naik takhta pada 1937 di usia 27 tahun. Gelarnya semula juga KGPAA Prabu Suryodilogo.
Bagaimana penggunaan sebutan Prabu Suryodilogo di era PA IX? Berbeda dengan pendahulunya, pengangkatan RM Wijoseno Hario Bimo sebagai Prabu Suryodilogo saat usianya telah 50 tahun. Bimo lahir 15 Desember 1962 diangkat sebagai putra mahkota pada 1 Februari 2012 saat ulang tahun kenaikan takhta ayahnya ke-76 sesuai kalender Jawa.
Tidak seperti pendahulunya, gelarnya juga bukan KGPAA Prabu Suryodilogo, tapi Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo. Pemakaian sebutan KBPH juga hal baru di lingkungan Pakualaman. Sebab, putra adipati selama ini memakai sebutan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH).
PA IX yang wafat 21 November 2015 juga tak pernah memakai gelar Suryodilogo. Sebelum jumeneng dia bergelar KPH Ambarkusumo dan menjadi PA IX ketika berusia 61 tahun. Beliau lahir 7 Mei 1938 dan naik takhta 26 Mei 1999. (bersambung)