GUNAWAN/RADAR JOGJA
INSPIRATIF: Ketua Kelompok Lebah Madu Sari Alami Suwito menunjukkan koloni lebah diantara tumpukan madu, kemarin (26/11). Kampung madu ini berada di Kedungpoh Lor, Kedungpoh, Nglipar, Gunungkidul

Kelola 300 Stup, Pelihara Tujuh Juta Ekor Lebah

Mendatangi kampung koloni lebah terbesar di Gunungkidul bisa menjadi pengalaman berharga. Warga di sana tak ragu mengajari cara menghindari “serangan” lebah. Mereka juga berbagi cara mengamankan hutan rakyat seluas 90 hektare.
GUNAWAN, Gunungkidul
 
KAMPUNG Madu terletak di Pedukuhan Kedungpoh Lor, Kedungpoh, Nglipar. Untuk menuju ke sana, rutenya menuju Wonosari kemudian sampai di bundaran Sambipitu, Bunder, Patuk lantas belok ke kiri. Dari situ, ikuti saja papan penunjuk arah. Kurang lebih jaraknya 20 kilometer dari Wonosari.
Pedukuhan Kedungpoh Lor ini berada di daratan yang cukup tinggi. Bahkan bisa dibilang puncak tertingginya Gunungkidul, maka harus hati-hati saat menuju ke sana. Sikap waspada juga harus tetap dipertahankan begitu sampai ke “sarang” lebah. Apalagi jika memiliki riwayat alergi. Ada baiknya, saat sampai di Kedungpoh langsung meminta pelindung kepala.
Ketua Kelompok Lebah Madu Sari Alami Suwito mengungkapkan, lebah bisa agresif ketika merasa terganggu. Nah, dengan pelindung kepala bisa melindungi dari sengatan lebah. “Pernah ada pengunjung dari Patuk yang kocar-kacir menghindari serangan lebah,” ungkap Suwito mengawali perbincangan, kemarin (26/11).
Meski memiliki sengat, menurut Suwito, lebah banyak memberikan manfaat bagi manusia. Selain produksi madu, lebah juga mengajarkan manusia bagaimana mengamankan hutan dan melestarikan alam. Sebab, lebah menyebarkan serbuk sari yang akhirnya tumbuh menjadi tanaman.
“Jadi, serangga ini tanpa kita sadari sebenarnya banyak membagi ilmunya kepada manusia bagimana mengamankan hutan,” tandasnya.
Suwito menjelaskan, penduduk di Kedungpoh Lor memelihara sedikitnya tujuh juta ekor lebah. Setiap musim panen, minimal tiga bulan sekali, jutaan serangga yang masuk familia Apidae ini menghasilkan lima kuintal madu. “Setiap satu kilogram madu dihargai Rp 200 ribu,” ungkapnya.
Keberadaan lebah, menurutnya, banyak memberikan manfaat. Lebah mampu memberikan aerasi tanah. Serangga ini merupakan pemulung. Sebagai decomposer, insekta membantu menciptakan lapisan tanah atas yang kaya nutrisi sehingga membantu tanaman tumbuh.
“Dari situ, warga belajar bagaimana menjaga keberadaan hutan,” ungkapnya.
Di samping itu, jika kelestarian hutan tidak terjaga, secara otomatis lebah akan pergi mencari makan ke tempat lain. Tentunya ini akan mempengaruhi produksi madu.
“Warga sudah menikmati hasilnya. Mereka harus mau menjaga hutan, karena lebah makan saripati bunga dari tanaman mahoni dan akasia di dalam hutan,”ujarnya.
Disinggung mengenai strategi pemasaran madu, Suwito mengaku masih menggunakan cara tradisional. Pembeli datang ke kampung madu, kemudian terjadi transaksi. Selama ini, konsumen banyak berasal dari luar daerah. “Pemasaran kami masih sederhana,” ucapnya.
Suwito setuju, strategi pemasaran seperti ini harus diperbaiki agar penghasilan bertambah. Meski diakui, madu tidak mengenal kedaluwarsa, kelompoknya tetap merasa perlu berbenah.
“Kami berharap ada pelatihan manajemen pemasaran dari pemangku kebijakan. Dengan begitu usaha kami bisa lebih maju,” ujarnya.
Kepala Dusun Kedongpoh Lor Subandi mengungkapkan, memelihara lebah merupakan tradisi turun temurun yang sudah dilakukan sejak lama. Ada sekitar 300 stup (rumah lebah) yang dikelola kelompok masyarakat setempat.
Di dusun tersebut, hampir setiap kepala keluarga (KK) mempunyai peliharaan lebah. Mereka mengelola dan memasarkan sendiriatau lewat kelompok hasil madunya. Satu kali panen, satu stup dapat menghasilkan 1,5 kilogram madu. Kelompok juga melayani penjualan koloni lebah bagi yang ingin memelihara sendiri. “Selain ditetapkan sebagai kampung madu, Kedongpoh Lor juga punya hutan swadaya,” ungkapnya.
Terpisah, Sekretaris Dinas Kehutanan dan Perkebunan Gunungkidul Winarno mengatakan, dibanding kecamatan penghasil madu lainnya, Kedungpoh merupakan yang terbesar di Gunungkidul. Dari sisi manajemen, kinerja dari Kelompok Lebah Madu Sari Alami juga paling baik.(ila/ong)