HARAPAN Wapres Jusuf Kalla, agar Ansor terlibat dalam menumbuhkembangkan perekonomian bangsa, tampaknya bukan hal yang muluk-muluk. Sebab, selama ini, Ansor sudah didorong untuk menggerakkan sektor ekonomi.
Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor H. Nusron Wahid mengatakan, selama 70 tahun mengenyam kemerdekaan, Indonesia masih memiliki problem yang harus segera diselesaikan, yakni menjaga kebinekaan di dalam negara kesatuan RI (NKRI), mengatasi masalah kemiskinan, dan mencegah tindak pidana korupsi.
“Selagi masih ada kekerasan atas nama agama, kelompok masyarakat kelaparan, minimnya akses pendidikan, dan banyaknya korupsi di negeri ini, maka masih ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan GP Ansor,” katanya dalam pembukaan Kongres XV Ansor di Ponpes Sunan Pandanaran Sleman, kemarin (26/11).
Mantan anggota DPR RI dari Partai Golkar itu menyebutkan, angka kemiskinan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), 70 persen kemiskinan ada di desa. “Rata-rata di usia uzur dan produktif, antara 18-45 tahun,” paparnya.
Menyebut pedesaan, menurut Nusron, berarti bicara masyarakat NU. Bicara usia produktif, berarti bicara tentang pemuda. Itu semua berarti bicara GP Ansor yang basisnya di desa. “Selama masih ada kemiskinan di Indonesia, berarti masih ada kemiskinan di GP Ansor dan NU,” ungkapnya.
Karena itu, GP Ansor berkomitmen penguatan potensi pengentasan kemiskinan di Indonesia. Salah satu upayanya, seluruh cabang GP Ansor diwajibkan memiliki unit-unit usaha. “Bagi semua cabang GP Ansor yang tidak mempunyai cabang usaha, maka dalam kongres tersebut tidak sah dan tidak memiliki hak suara,” terangnya.
Hal itu, menurutnya, agar organisasi punya kemanfaatan bagi anggota. “Apa-apa yang mempunyai kemanfatan bagi umat manusia, akan bertahan di muka bumi. GP Ansor bertahan karena memiliki kemanfaatan,” tandasnya.
Ia menyebutkan, saat ini telah ada 687 unit usaha gerakan ekonomi GP Ansor, dengan total nilai investasi mencapai Rp 3,6 triliun.
Wajah GP Ansor kali ini, adalah wajah NU masa depan. Wajah NU adalah representasi Indonesia keseluruhan. Karena NU sebagai mayoritas, akan berimplikasi pada wajah Indonesia. “Semakin sejahtera NU dan Ansor, bangsa Indonesia semakin sejahtera,” katanya. (riz/jko/ong)