GUNTUR AGA TIRTANA/Radar Jogja

SLEMAN – Meski sempat diguyur hujan deras, antusiasme warga menyaksikan Saparan Bekakak Ambarketawang Gamping Sleman sangat tinggi, kemarin (27/11). Ribuan warga terlihat memadati rute pawai sepanjang Lapangan Ambarketawang hingga Gunung Gamping. Prosesi tahunan ini berjalan lancar hingga penyembelihan sepasang pengantin bekakak.
Camat Kecamatan Gamping Priyo Handoyo mengungkapkan, upacara adat ini terus berkembang. Dari yang awalnya hanya sebagai wujud spiritualitas, kini berkembang menjadi seni pertunjukan. Nilai lebih dari upacara ini dapat menjadi daya tarik wisata di Jogjakarta.
“Selain menjalankan tradisi, juga dapat menjadi potensi wisata. Imbasnya banyak warga di luar Ambarketawang yang tertarik untuk melihat. Bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi desa,” kata Priyo.
Upacara adat ini melibatkan seluruh warga Desa Ambarketawang. Total ada 13 dusun di Desa Ambarketawang yang terlibat dalam upacara ini. Setiap dusun mengirimkan minimal satu bregada sebagai partisipan upacara adat.
Selain kesenian tradisi dan kerakyatan, dalam rombongan pawai ini juga menampilkan ogoh-ogoh. Selanjutnya rangkaian bregada ini mengawal sepasang bekakak menuju Gunung Gamping. Meski saat ini hanya sebagai seni pertunjukan, ritual asli tetap dijalankan. “Ini juga berfungsi untuk menjaga silaturahmi dan kerukunan antarwarga. Mereka kumpul dan melestarikan upacara adat ini. Setiap potensi dusun diusung dalam pawai maupun pentas seni,” kata Kepala Desa Ambarketawang Sumaryanto.
Sejarah Saparan Bekakak sendiri bermula sejak era Sri Sultan Hamengku Buwuono I, tepatnya tahun 1755. Pada waktu itu, Raja Keraton Jogjakarta itu berdomisili di Pesanggrahan Ambarketawang, karena pada waktu itu Keraton Jogjakarta sedang dalam masa pembangunan.
Dikisahkan wilayah ini dulu dikelilingi pegunungan Gamping. Warga sekitar berprofesi sebagai penambang gamping. Dalam suatu kejadian, sepasang penambang yang juga abdi dalem raja yaitu Ki Wirosuto dan istrinya mengalami kecelakaan dan meninggal. Atas dawuh ndalem dan menghindari musibah, akhirnya dibuatkan sebuah ritual adat. Di mana setiap tahunnya saat bulan Sapar (Penanggalan Jawa) mengorbankan sepasang bekakak. Hal ini untuk mengganti korban manusia yang jatuh ketika menambang gamping.
“Melindungi penambang karena gamping (Batu) sering runtuh dan menimpa yang di bawahnya. Sultan minat petunjuk dan terbesitlah ritual Saparan Bekakak. Bekakak sendiri dibuat dari tepung ketan, untuk isian dari sirup gula Jawa,” kata ketua panitia Frans Haryono.
Pelestarian upacara adat ini dilakukan oleh berbagai pihak. Frans menjelaskan, upaya regenerasi terus berjalan hingga saat ini. Selain itu, upacara adat ini juga telah masuk dalam agenda wisata tahunan Dinas Pariwisata DIJ.
Frans menambahkan, sejarah awal pelaku upacara adat ini adalah penambang gamping. Namun seiring waktu berjalan warga turut melestarikan kearifan lokal ini. Peserta pawai pun tak hanya dari Desa Ambarketawang, juga dari sekitarnya.
“Tahun ini ada sekitar 45 grup yang terlibat dalam Saparan Bekakak. Ada yang dari Goedan bahkan dari Bantul juga ikut. Ini bukti bahwa antusiasme untuk melestarikan sangatlah tinggi,” pungkasnya.
Pawai Saparan Bekakak ini sempat memacetkan arus jalan dari Jogja ke arah Wates, begitu juga sebaliknya. Polisi harus bekerja ekstra dan memberlakukan sistem buka tutup jalan demi kelancaran acara. Ribuan warga turut mengantarkan pawai hingga ke kawasan Gunung Gamping. (dwi/jko/ong)