HENDRI UTOMO/Radar Jogja

Ketika Keluarga Mengenang Kelebihan Masa Hidup Paku Alam IX

Kepergian Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam IX, masih menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga, terutama anak-anaknya. Mengikuti adat di Puro Pakualaman, peringatan tujuh hari meninggalnya PA IX diisi dengan tahlilan dan ziarah ke Astana Girigondo. Dalam kesempatan ziarah ini, anak dan kerabat sempat ngobrol dengan Radar Jogja. Berikut laporannya.
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
JARUM jam di tangan menunjukkan pukul 09.00 tepat, siswa-siswi SDN Kaligintung yang kebetulan tengah istirahat belajar dan berada di luar kelas, sejenak tersita perhatiannya. Mereka menyaksikan kedatangan rombongan keluarga dan kerabat PA IX yang hendak melakukan ziarah di makam PA IX. SDN Kaligintung kebetulan jaraknya cukup dekat dengan kompleks Astana Girigondo.
Rombongan datang menggunakan 4 bus dan 6 mini bus. Lengkap mengenakan pakaian adat Jawa Jangkep, keluarga dan kerabat PA IX yang terdiri dari adik, putra-putra serta menantu langsung naik menuju ke makam PA IX, dikuti para abdi dalem Puro Pakualaman.
Di hadapan pusara PA IX, mereka duduk bersila di atas tikar yang sudah disiapkan, dupa kemudian dinyalakan. Lalu dilanjutkan tahlil dan ditutup dengan doa yang dipimpin Juru Kunci Mas Lurah Rokanudin.
Dengan khidmat semua terlihat menyamakan niat, mengirim doa untuk mendiang PA IX. Kendati terkesan sakral, prosesi itu terlihat cukup longgar, sehingga awak media tidak kesulitan untuk mengabadikan momen tersebut. Ziarah kemudian ditutup dengan tabur bunga oleh seluruh peziarah yang ikut dalam rombongan.
Putra kedua PA IX, Bendoro Pangeran Hario (BPH) Hario Seno menjelaskan, ziarah kali ini bertepatan dengan peringatan tujuh hari wafatnya PA IX. Sebelumnya juga sudah dilaksanakan tahlil dan doa bersama di Puro Pakualaman, Kamis (26/11) malam.
“Sebagai anak, saya tentu memiliki banyak kesan dengan beliau (PA IX). Beliau adalah pribadi yang sangat sederhana, sangat merakyat. Kami sebagai anak, kadang ingin sekali ngeman (menjaga,red) dengan mencegah atau memperingatkan ketika beliau ingin bepergian. Tapi begitulah beliau, selalu ingin tidak ada batas dengan rakyat,” jelasnya.
BPH Hario Seno mengisahkan, PA IX sering sekali pergi tanpa harus ditemani, bahkan kadang naik sepeda motor. “Hingga suatu kali, sepeda motor beliau sempat disita oleh kakak saya, kalau tidak salah sekitar setahun lalu. Tapi ya seperti itulah beliau, tidak pernah kehilangan semangat untuk dekat dengan rakyat,” lanjutnya.
Ditambahkan, rutinitas selama hidup, PA IX sangat aktif dan nyaris tidak mau bersantai istirahat tanpa manfaat. Hingga akhirnya harus dirawat di RSUP Sardjito dan divonis inveksi paru-paru. Itu juga tidak terlepas dari kegemaran PA IX merokok.
“Beliau memang perokok berat, ada pun rutinitas beliau sehari-hari, setahu saya kalau pagi tindak (pergi) ke kantor, kondur (pulang), sebentar pergi lagi, kembali lagi kadang sudah tengah malam,” imbuhnya.
Kesan mendalam juga dirasakan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Tjondrokusumo. Menurutnya, PA IX adalah pribadi yang low profile, santai dan tidak terlalu banyak protokoler. “Sukanya kumpul dengan warga, kalau di kantor sudah tidak ada acara, biasanya beliau keluar kadang ke pelosok desa hanya untuk ngobrol dengan petani,” ujarnya.
Dengan keluarga, PA IX lebih dikenal dengan pribadi yang hangat, tidak jarang beliau yang justru yang ngunjungi adik dan putra-putranya, bercanda dengan cucu-cucu. Terakhir bertemu, katanya, beliau mengaku sepi sendiri di Puro Pakualaman. Maklum putra-putra sudah lenggah njobo kabeh (duduk di luar semua), sore-sore datang ngajak ngobrol.
“Sekitar tiga minggu sebelum surut (wafat), seingat saya, belau datang ke rumah sendiri, ngasto kendaraan sendiri. Ngobrol ngalor-ngidul, membicarakan apa saja yang ada manfaatnya,” terang KPH Tjondrokusumo yang tak lain adik ke-6 Almarhum PA IX.
Ditanya prosesi Jumenengan PA X, KHP Tjondrokusmo menegaskan, mengikuti adat dan berhubung masih dalam suasana berkabung, Jumenengan PA X kemungkinan akan digelar setelah 40 hari wafatnya PA IX. “40 hari beliau itu kalau tidak salah jatuhnya tanggal 29 Desember, jadi setelah itu. Tentu akan dicari waktu yang baik,” tegasnya.(jko)